BENGKULUBAROMETER – Kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Provinsi Bengkulu mengalami penyusutan hingga akhir 2026. Langkah ini menyusul berkurangnya alokasi Pertalite tahun ini, sementara kepastian tambahan pasokan yang diajukan pemerintah daerah belum sesuai harapan.
Alokasi Pertalite untuk Bengkulu pada 2026 tercatat sebanyak 231.356 kiloliter (KL). Jumlah tersebut mengalami pengurangan 21.501 KL dibandingkan kuota tahun sebelumnya yang mencapai 252.857 KL. Jika dihitung, penurunan alokasi tersebut mencapai sekitar 8,5 persen.
Berkurangnya jatah Pertalite menjadi perhatian karena kebutuhan bahan bakar masyarakat harus tetap terpenuhi hingga penghujung tahun. Pemerintah daerah pun perlu mengantisipasi kemungkinan terbatasnya pasokan apabila kuota yang tersedia tidak sebanding dengan tingkat konsumsi.
Di sisi lain, alokasi Biosolar untuk Bengkulu mengalami peningkatan setelah memperoleh tambahan sekitar 1.588 KL. Kuota yang sebelumnya berada pada kisaran 105.658 KL hingga 105.713 KL kini tercatat mencapai 107.246 KL.
Meski mendapat tambahan, kebutuhan Biosolar juga cukup besar. Rata-rata konsumsi bahan bakar tersebut di Bengkulu mencapai 344 KL setiap hari. Kondisi ini membuat ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM bersubsidi tetap membutuhkan perhatian.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Rico, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengajukan penambahan kuota sejak 26 Agustus. Permintaan tersebut diajukan untuk mengantisipasi kebutuhan BBM yang harus dipenuhi sampai akhir tahun.
Dalam usulan tersebut, Pemprov Bengkulu meminta tambahan alokasi sebesar 15 hingga 20 persen. Namun, hasil yang diperoleh dari proses pembahasan sejauh ini belum memenuhi ekspektasi pemerintah daerah.
“Pengajuan sudah kami layangkan sejak 26 Agustus. Kami mengusulkan penambahan sekitar 15 sampai 20 persen, tetapi hasil yang diterima belum sesuai harapan,” kata Rico, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, pembahasan mengenai tambahan kuota telah dilakukan, tetapi pemerintah daerah masih menanti keputusan final terkait jumlah alokasi yang akan diberikan. Kepastian tersebut diperlukan agar kebutuhan BBM di Bengkulu dapat dipenuhi secara lebih optimal.
Menurut Rico, pengurangan kuota Pertalite perlu menjadi perhatian bersama. Dengan alokasi yang lebih kecil daripada tahun lalu, ketersediaan BBM berpotensi menghadapi kendala apabila tidak disertai langkah antisipasi, terutama ketika kebutuhan masyarakat terus berjalan hingga Desember.
Meski demikian, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengkhawatirkan ketersediaan BBM bersubsidi. Hal ini mengacu pada komitmen Pertamina untuk tetap memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun.
“Memang kuota kita turun dan stok sangat terbatas. Namun, komitmen Pertamina tetap harus menyediakan BBM bersubsidi sampai akhir Desember,” tegasnya.
Pemprov Bengkulu berharap komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait terus diperkuat, sehingga persoalan keterbatasan kuota dapat segera memperoleh solusi. Tambahan alokasi dinilai penting untuk menjaga kelancaran pasokan, terlebih kebutuhan BBM berpotensi meningkat menjelang pergantian tahun.
“Kita berharap ketersediaan Pertalite dan Biosolar tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi, transportasi, serta mobilitas masyarakat tidak terganggu akibat keterbatasan pasokan,” pungkas Rico.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Redaksi










