Dari Taiwan hingga Jepang, 5 PMI Asal Bengkulu Meninggal Dunia Sepanjang 2024–2026

- Jurnalis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:40 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

foto ilustrasi Ai 5 PMI Asal Bengkulu Meninggal Dunia Sepanjang 2024–2026

foto ilustrasi Ai 5 PMI Asal Bengkulu Meninggal Dunia Sepanjang 2024–2026

BENGKULUBAROMETER – Sebanyak 5 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Provinsi Bengkulu dilaporkan meninggal dunia saat berada di luar negeri dalam kurun waktu 2024 hingga 2026. Kelima PMI tersebut berasal dari Kabupaten Kepahiang, Seluma, Bengkulu Tengah, Kaur, dan Rejang Lebong.

Dari lima kasus tersebut, dua PMI meninggal dunia di Taiwan saat bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di sektor perikanan. Sementara tiga lainnya meninggal dunia di Jepang dengan latar belakang peristiwa berbeda, mulai dari penyakit, kecelakaan kerja, hingga dugaan terjatuh dari apartemen.

Kelima PMI tersebut yakni Dedi Candra (24), warga Kepahiang, yang meninggal dunia di Taiwan pada September 2024. Kemudian Adelia Meysa (23), warga Seluma, yang meninggal dunia di Jepang pada November 2025.
Selanjutnya, Anggi Saputra Pranata (22), warga Bengkulu Tengah, yang meninggal akibat kecelakaan kerja di Jepang pada September 2026.

Pada bulan yang sama, Putra Walan Ardiansyah (25), warga Kabupaten Kaur, juga meninggal dunia saat bekerja sebagai ABK di kapal perikanan Taiwan. Kasus terbaru menimpa Riski Ade Saputra (26), warga Kabupaten Rejang Lebong, yang dilaporkan meninggal dunia di Osaka, Jepang, pada Oktober 2026 setelah diduga terjatuh dari balkon apartemennya.
Berikut kronologi lima kasus PMI asal Bengkulu yang meninggal dunia di luar negeri:

1. Dedi Candra, PMI Asal Kepahiang Ditemukan Meninggal di Kapal Perikanan Taiwan

Kasus pertama terjadi pada 2024, menimpa Dedi Candra (24), warga Desa Kebanagung atau Desa Gunung Agung, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang. Dedi diketahui telah bekerja selama kurang lebih lima tahun di sektor perikanan Taiwan. Ia bekerja di kapal perikanan trawl bernama Anfeng No. 116 yang beroperasi di kawasan Pelabuhan Kung, Taiwan.

Peristiwa meninggalnya Dedi terjadi pada Minggu dini hari, 29 September 2024. Setelah menjalani berabagi proses kepulanhan, jenazah diterbangkan ke Bengkulu dan tiba di Bandara Fatmawati Soekarno pada Minggu, 20 Oktober 2024, sekitar pukul 07.30 WIB.

2. Adelia Meysa, PMI Asal Seluma Meninggal Akibat Meningitis Tuberkulosis di Jepang

Kasus berikutnya terjadi pada 2025, menimpa Adelia Meysa (23), perempuan asal Desa Kampai, Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma. Adelia diketahui berangkat ke Jepang sekitar 2022 dengan harapan mendapatkan pekerjaan melalui sebuah lembaga pelatihan kerja (LPK) di Jawa Barat.

Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan keluarga, keberangkatan Adelia diduga tidak sesuai dengan janji awal. Ia disebut diberangkatkan menggunakan visa wisata dan kemudian bekerja tanpa izin kerja yang sesuai hingga mengalami persoalan keimigrasian atau overstay.

Selama berada di Jepang, Adelia bekerja di sektor informal atau perusahaan swasta di Kota Sakai, Prefektur Ibaraki.
Musibah mulai terjadi pada akhir Oktober 2025 ketika Adelia mengeluhkan demam tinggi disertai sakit kepala hebat.

Ia sempat mendapatkan pengobatan di klinik biasa selama beberapa hari. Namun, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dilarikan ke Seinan Medical Center Hospital, Ibaraki, pada 31 Oktober 2025.

Setelah menjalani pemeriksaan, Adelia didiagnosis mengalami meningitis tuberkulosis, yakni infeksi tuberkulosis yang menyerang selaput otak dan sistem saraf pusat. Setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari, Adelia akhirnya meninggal dunia pada Sabtu, 8 November 2025.

Baca Juga :  Edi Hariyanto Pimpin PHRI Bengkulu, Siapkan Pembenahan Organisasi dan Dorong Pariwisata

3. Anggi Saputra Pranata, PMI Asal Bengkulu Tengah Tewas Akibat Kecelakaan Kerja di Jepang

Memasuki 2026, kabar duka kembali datang dari Jepang. Kali ini menimpa Anggi Saputra Pranata (22), warga Desa Talang Donok, Kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Anggi merupakan peserta program magang resmi di Jepang melalui LPK Banten sejak 2025. Ia bekerja di sektor konstruksi bangunan di Kota Fukuyama, Prefektur Hiroshima.
Peristiwa nahas yang merenggut nyawanya terjadi pada Senin, 21 September 2026, sekitar pukul 13.40 waktu setempat.
Kecelakaan tersebut terjadi di area proyek pembangunan gedung baru di kawasan Mannokura, Ekimae-cho, Kota Fukuyama.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Anggi mengalami kecelakaan kerja setelah terjatuh dari perancah atau scaffolding dengan ketinggian lebih dari tiga meter.

Saat terjatuh, tubuh korban tertusuk balok besi konstruksi yang berada di bagian bawah perancah.Anggi sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis darurat. Namun, akibat luka dalam yang cukup parah, nyawanya tidak berhasil diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia sekitar empat setengah jam setelah kejadian.

Setelah seluruh proses administrasi dan pemulasaraan selesai, jenazah diberangkatkan dari Bandara Haneda, Tokyo, pada Selasa, 29 September 2026, untuk dipulangkan ke Indonesia. Jenazah Anggi tiba di Bandara Fatmawati Soekarno pada Rabu siang, 30 September 2026.

4. Putra Walan Ardiansyah, PMI Asal Kaur Meninggal Dunia Saat Bekerja di Kapal Perikanan Taiwan

Belum genap sepekan setelah kabar meninggalnya Anggi, duka kembali menyelimuti keluarga PMI asal Bengkulu. Kali ini datang dari Putra Walan Ardiansyah (25), warga Desa Way Hawang, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur.

Putra merupakan pekerja migran yang bertugas sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal perikanan Taiwan.
Peristiwa meninggalnya Putra terjadi pada Senin dini hari, 28 September 2026, sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, sebelum kejadian Putra menjalankan aktivitas rutin di atas kapal, yakni memberikan pakan atau umpan ikan di area kerja kapal.

Namun, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Putra tiba-tiba mengeluhkan pusing hebat dan mual.
Kondisinya kemudian memburuk. Ia mengalami muntah berulang kali, bahkan dilaporkan disertai bercak darah dan sesak napas.

Rekan-rekan sesama ABK sempat berupaya memberikan pertolongan pertama. Kapten kapal juga berupaya mengarahkan kapal untuk merapat ke pelabuhan terdekat.

Namun, sekitar pukul 02.00 waktu setempat, Putra kehilangan kesadaran dan kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Penyebab medis pasti kematian almarhum tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia. Proses pemulangan jenazah memerlukan waktu sekitar dua pekan karena harus melalui koordinasi lintas negara, perusahaan pemberangkatan, Pemerintah Provinsi Bengkulu, serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan melalui LTSA Bengkulu.

Setelah proses administrasi selesai, jenazah diterbangkan dari Taiwan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan menuju Bengkulu menggunakan maskapai Citilink.

Baca Juga :  Guru Diberhentikan Tanpa Jaminan Hari Tua, DPRD Bengkulu Soroti Sekolah Swasta

Jenazah Putra akhirnya tiba di Bandara Fatmawati Soekarno pada Senin, 12 Oktober 2026, sekitar pukul 12.00 WIB.

5. Riski Ade Saputra, PMI Asal Rejang Lebong Diduga Terjatuh dari Lantai 9 Apartemen di Osaka

Kasus terbaru pada Oktober 2026 menimpa Riski Ade Saputra (26), warga Kelurahan Air Duku, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong.

Riski diketahui berangkat ke Jepang melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Semanggi Rejang Lebong untuk bekerja di sektor perhotelan.

Namun, baru beberapa hari berada di Jepang untuk memulai pekerjaannya, Riski dilaporkan meninggal dunia di Osaka.

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 11 Oktober 2026. Korban diduga meninggal dunia setelah terjatuh dari balkon lantai sembilan apartemen tempat tinggalnya.

Setelah kejadian, pihak kepolisian setempat melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti peristiwa tersebut.

Jenazah Riski sempat tertahan di rumah sakit setempat karena harus menjalani pemeriksaan, autopsi, serta melengkapi sejumlah dokumen administrasi kepolisian sebelum dapat dipulangkan ke Indonesia.

Setelah melalui serangkaian proses administrasi di Jepang, jenazah Riski dijadwalkan diterbangkan dari Bandara Haneda, Tokyo, menuju Jakarta menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 875 pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Pesawat dijadwalkan berangkat pukul 11.45 waktu Jepang dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pukul 17.50 WIB.

Selanjutnya, jenazah diterbangkan dari Jakarta menuju Bengkulu menggunakan maskapai Citilink dengan nomor penerbangan QG 990.

Jenazah Riski akhirnya tiba di Bandara Fatmawati Soekarno pada Jumat, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 11.50 WIB.
Setibanya di Bengkulu, jenazah langsung dibawa menggunakan ambulans menuju kampung halamannya di Kabupaten Rejang Lebong untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Bengkulu, Henny Fathima Siregar, mengatakan Pemerintah Provinsi Bengkulu turut menyambut kedatangan jenazah sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap warganya.

“Jadi hari ini jenazah almarhum sudah sampai melalui pesawat Citilink pagi ini. Jadi kami mewakili Bapak Gubernur Bengkulu menyambut jenazah,” ujar Henny.

Ia menjelaskan, dalam penyambutan tersebut turut hadir perwakilan dari Kabupaten Rejang Lebong, termasuk ibu camat, adik almarhum, serta keluarga.

“Dan kemudian dari Kabupaten Rejang Lebong, Ibu Camat beserta adik almarhum juga beserta keluarga juga ikut hadir. Jenazah langsung ke lokasi rumah duka,” jelasnya.

Lima kasus meninggalnya PMI asal Provinsi Bengkulu di luar negeri dalam kurun waktu 2024–2026 tersebut memperlihatkan beragam persoalan yang dihadapi pekerja migran Indonesia.

Mulai dari kematian yang ditemukan di kapal perikanan Taiwan, persoalan penempatan dan dugaan penelantaran PMI, kecelakaan kerja di sektor konstruksi, hingga kematian yang masih memerlukan penyelidikan kepolisian di negara tempat bekerja.

Rentetan peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap proses penempatan PMI, kepastian legalitas dokumen kerja, jaminan keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan pekerja migran selama berada di luar negeri.

Penulis : Handi Pratama

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Dapat Bantuan Combine Harvester, Biaya Panen Padi di Mukomuko Berpeluang Turun Rp2,3 Juta per Hektare
Pajak Pembalut Perempuan Masuk dalam Tuntutan Demo Mahasiswa di DPRD Bengkulu
Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu
MA Batalkan Vonis 2,5 Tahun, Ahmad Kanedi Bebas dari Dakwaan Korupsi Mega Mall Bengkulu
KSOP Pulau Baai Diduga Tak Jalankan Kewajiban Pandu-Tunda, Kerugian Negara Ditaksir Rp10,5 Miliar
Perkuat Perlindungan Anak, Pemkot Bengkulu Jalin Kerja Sama dengan Polresta
Jalan di Kaur Tempat Bumil Ditandu Saat Keguguran Akhirnya Diaspal
Masih Banyak Pekerja Belum Terlindungi, BPJS Ketenagakerjaan Bengkulu Dorong Perluasan Peserta
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 17:43 WIB

Dapat Bantuan Combine Harvester, Biaya Panen Padi di Mukomuko Berpeluang Turun Rp2,3 Juta per Hektare

Rabu, 4 November 2026 - 16:35 WIB

Pajak Pembalut Perempuan Masuk dalam Tuntutan Demo Mahasiswa di DPRD Bengkulu

Rabu, 4 November 2026 - 13:13 WIB

Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu

Selasa, 3 November 2026 - 22:39 WIB

MA Batalkan Vonis 2,5 Tahun, Ahmad Kanedi Bebas dari Dakwaan Korupsi Mega Mall Bengkulu

Selasa, 3 November 2026 - 18:53 WIB

KSOP Pulau Baai Diduga Tak Jalankan Kewajiban Pandu-Tunda, Kerugian Negara Ditaksir Rp10,5 Miliar

Berita Terbaru

Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu tidak memperpanjang kontrak enam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.

Bengkulu

Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu

Rabu, 4 Nov 2026 - 13:13 WIB