BENGKULUBAROMETER — Estafet kepemimpinan Badan Pimpinan Daerah (BPD) Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bengkulu berganti. Edi Hariyanto dipercaya memimpin organisasi tersebut untuk periode 2026-2031 setelah terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI.
Usai ditetapkan sebagai ketua, Edi bersama jajaran pengurus baru langsung dilantik. Kepengurusan baru ini membawa sejumlah agenda, mulai dari pembenahan struktur organisasi hingga mendorong sektor perhotelan dan restoran agar semakin berkontribusi terhadap perekonomian daerah.
Edi mengatakan, langkah awal yang akan dilakukan adalah menggelar rapat kerja dalam tiga bulan ke depan. Rapat tersebut akan menjadi momentum untuk menyusun program sekaligus menentukan arah kerja PHRI Bengkulu selama masa kepengurusannya.
“Dalam tiga bulan ini kita harus melakukan rapat kerja untuk menyusun agenda kerja dan program-program kerja PHRI ke depan,” kata Edi, Selasa (6/10/2026).
Salah satu target utama kepengurusan baru adalah membentuk kepengurusan PHRI di setiap kabupaten dan kota. Menurut Edi, hingga saat ini masih terdapat sejumlah daerah yang belum memiliki kepengurusan PHRI.
Penguatan organisasi hingga tingkat daerah dinilai penting agar PHRI tidak hanya aktif di tingkat provinsi, tetapi juga mampu mengakomodasi kepentingan pelaku usaha hotel dan restoran di seluruh wilayah Bengkulu.
Di sisi lain, Edi menyoroti persoalan tingkat hunian hotel dan perkembangan usaha restoran di Bengkulu. Menurutnya, kondisi sektor tersebut masih tertinggal dibandingkan sejumlah daerah lain yang telah mampu menjadikan pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi.
“Hunian hotel dan restoran kita, terutama di Kota Bengkulu dan se-Provinsi Bengkulu, memang jauh tertinggal kalau dibandingkan daerah-daerah lain,” ungkapnya.
Padahal, lanjut Edi, sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD). Ia mencontohkan Yogyakarta, Bandung, dan Bali yang mampu mengoptimalkan sektor pariwisata serta usaha hotel dan restoran sebagai bagian penting dari perekonomian daerah.
Sehingga, PHRI Bengkulu akan berupaya menggali berbagai potensi wisata yang ada sekaligus mendorong keterlibatan pelaku usaha perhotelan dan restoran dalam pengembangan pariwisata.
“Kita coba menggali potensi-potensi yang ada ini supaya sumbangsih pelaku usaha di bidang perhotelan dan restoran bisa berkontribusi terhadap PAD Kota Bengkulu,” jelasnya.
Edi juga menekankan pentingnya kerja kolektif dalam menjalankan organisasi. Ia menilai PHRI akan sulit berkembang apabila seluruh aktivitas organisasi hanya bergantung kepada ketua.
“Kalau hanya seperti selama ini, pimpinan itu hanya one-man show, saya pikir berat untuk membesarkan asosiasi ini,” tegasnya.
Selain pembenahan internal, sambung Edi, PHRI Bengkulu di bawah kepemimpinannya juga akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Koordinasi tersebut diperlukan agar pelaku usaha dapat menjalankan aktivitas secara nyaman sekaligus tetap mematuhi ketentuan yang berlaku.
Edi menyebut sinergi akan dilakukan bersama pemerintah daerah, Polres, Polda, maupun Satpol PP. PHRI juga akan mendorong sosialisasi aturan kepada para anggota, khususnya terkait kewajiban yang diatur dalam peraturan daerah.
“Kita perlu sosialisasi ke semua anggota, hal-hal apa yang menjadi kewajiban dalam perda, hal-hal apa yang harus kita patuhi dan taati bersama sehingga tidak ada gesekan dan benturan terhadap penegak aturan,” tuturnya.
Sementara itu, etua Umum BPP PHRI, Haryadi B. Sukamdani, berharap kepengurusan baru PHRI Bengkulu dapat lebih aktif menyusun program yang mampu memperbesar peran organisasi dalam pengembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Haryadi, salah satu agenda penting yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana mendatangkan lebih banyak tamu ke Bengkulu. Hal itu dinilai semakin penting di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berpotensi mengurangi ketergantungan sektor perhotelan terhadap pasar pemerintah.
“Program paling utama itu kan adalah bagaimana mendatangkan tamu sebenarnya. Kalau nggak kan repot, apalagi sekarang pemerintah mengurangi anggarannya, kan efisiensi. Otomatis kan kita nggak bisa bergantung dari pasar pemerintah,” ujar Haryadi.
Ia mendorong pelaku industri pariwisata dan PHRI Bengkulu untuk menggarap pasar wisatawan di luar segmen pemerintah.
Haryadi juga menyinggung adanya kekhawatiran terkait wisatawan dari wilayah sekitar, khususnya Sumatera Selatan dan Jambi, yang disebut kini lebih banyak memilih Lampung sebagai tujuan perjalanan.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dilihat secara lebih mendalam sekaligus menjadi tantangan bagi pelaku pariwisata di Bengkulu untuk menghadirkan daya tarik dan kreativitas baru.
“Saya juga mendengar adanya kekhawatiran karena tamu-tamu yang biasanya ke sini dari Sumatera Selatan, dari Jambi, sekarang belok semuanya ke Lampung. Nah, kan harus dilihat lagi apa iya seperti itu,” ungkapnya.
Ia menilai Bengkulu memiliki peluang untuk menarik kembali wisatawan dari daerah sekitar apabila mampu menghadirkan pengalaman dan destinasi yang menarik.
“Orang juga bosan kalau saban hari, setiap waktu ke Lampung. Di sini harus dibuat kreativitas dari teman-teman di Bengkulu nantinya,” tutup Haryadi.









