BENGKULUBAROMETER – Persoalan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang cepat basi hingga berjamur tak bisa dianggap sepele. Untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga, Satuan Tugas (Satgas) MBG Provinsi Bengkulu mulai memperketat pengawasan dengan menyisir langsung dapur penyedia makanan. Satgas melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Muara Dua, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu, di Jalan Citanduy, Kamis (5/11/2026) dini hari.
Sidak yang dipimpin Wakil Ketua Satgas MBG Provinsi Bengkulu, R.A. Denni, tersebut menyasar sejumlah aspek penting dalam operasional dapur. Mulai dari kondisi ruangan, penyimpanan bahan baku, kebersihan peralatan hingga proses pengolahan makanan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pengelola SPPG. Meski peralatan dan metode memasak dinilai telah memenuhi ketentuan, penerapan beberapa standar operasional prosedur (SOP) ternyata belum berjalan maksimal.
Denni mengatakan, kepatuhan terhadap SOP menjadi hal mendasar yang tidak boleh diabaikan. Sebab, standar pengolahan makanan bukan hanya berkaitan dengan peralatan, tetapi juga menyangkut tata ruang dan kebersihan lingkungan dapur.
“Sebenarnya SPPG ini sudah melaksanakan ketentuan dari MBG. Tapi masih banyak memang kekurangan yang belum mereka lakukan sesuai dengan SOP yang dibuatkan,” kata Denni, saat dikonfirmasi, Kamis (5/11/2026).
Salah satu yang menjadi sorotan adalah penataan ruangan. Menurutnya, bangunan yang luas tidak menjamin seluruh area pengolahan sudah memenuhi standar apabila pembagian ruangannya tidak sesuai ketentuan.
“Kalau gedungnya luas, tapi dari ruangan ke ruangannya itu ada penyekat-sekatan yang tidak boleh digabung. Ini kurang steril,” ujarnya.
Satgas pun meminta pengelola segera menindaklanjuti hasil pemeriksaan. Rekomendasi yang diberikan harus menjadi bahan pembenahan agar seluruh aktivitas dapur sesuai dengan standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kalau dari segi alat dan cara memasak sudah masuk. Tapi ada beberapa menurut KPPG, ada SOP yang belum mereka terapkan. Nah, itulah yang menjadi temuan dan kita rekomendasikan kepada SPPG untuk ditindaklanjuti,” tegasnya.
Sementara itu, terkait persoalan makanan yang cepat basi dan berjamur, Denni menyebut penyebabnya bisa berasal dari berbagai faktor. Tidak hanya proses memasak, tetapi juga kualitas pasokan bahan baku, kesesuaian kebutuhan produksi hingga tahapan pengolahan.
Menurutnya, seluruh rantai produksi harus mendapatkan perhatian. Sebab, kelalaian pada satu tahapan saja berpotensi memengaruhi kualitas makanan yang dihasilkan.
“Itu sebenarnya banyak hal. Mulai dari bahan pasokan, kebutuhan sampai dengan pengolahan,” jelas Denni.
Ia menambahkan, pemeriksaan hingga dini hari dilakukan agar Satgas dapat melihat secara langsung proses operasional dapur. Terutama tahapan sejak bahan baku masuk sekitar pukul 18.00 WIB hingga proses memasak selesai.
“Itu makanya kita melakukan sidak ini supaya betul-betul mereka memperhatikan prosesnya, mulai bahan masuk dari jam 06.00 sore sampai dengan proses memasak. Semuanya harus benar-benar diikuti,” pungkasnya.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Redaksi










