Solar Ditahan, Nelayan Malabro Mengamuk dan Bakar Ban

- Jurnalis

Jumat, 8 Mei 2026 - 15:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BENGKULU BAROMETER – Di kawasan Malabro, Kota Bengkulu, mendadak panas. Bukan karena terik matahari, melainkan amarah puluhan nelayan yang turun ke jalan, Jumat 8 Mei 2026 sekitar pukul 08.30 WIB.

Ban dibakar di tengah jalan. Spanduk protes dibentangkan. Akses lalu lintas ditutup total. Teriakan nelayan pecah di depan kerumunan massa dengan satu tuntutan yakni solar mereka dikembalikan.

Tulisan bernada keras terpampang di lokasi aksi, “Nelayan Tidak Bisa Melaut Gara-Gara Polda.”

Aksi itu dipicu setelah BBM jenis solar milik nelayan diamankan pihak kepolisian. Dua warga yang merupakan rekan nelayan, Eti dan Heri, juga turut diamankan pada Kamis malam.

Dampaknya langsung terasa. Sekitar 80 nelayan disebut tak bisa turun melaut. Aktivitas perahu di pesisir Malabro hingga Pasar Bengkulu lumpuh total.

Baca Juga :  FWEB Bengkulu Perkuat Peran Wartawan Ekonomi, Perlindungan Jaminan Sosial Jadi Sorotan

Salah satu nelayan tradisional Malabro, Robert, mengatakan aksi tersebut merupakan luapan keresahan nelayan yang merasa aktivitas mereka mendadak “diputus” karena solar disita.

“Aksi kami ini untuk mengeluarkan minyak kami, karena minyak itu memiliki izin semua,” ujar Robert.

Menurut Robert, BBM itu bukan untuk dijual kembali, melainkan murni kebutuhan operasional melaut. Ia juga membantah adanya praktik penimbunan seperti yang diduga.

“Minyak itu memang khusus untuk nelayan, tidak ada yang dibuang keluar,” tegasnya.

Ia menjelaskan, para nelayan membeli solar dengan harga Rp8 ribu per liter. Harga itu lebih tinggi dari harga subsidi karena ditambah ongkos pengangkutan dari kawasan Tengah Padang menuju Malabro.

Baca Juga :  Jemaah Haji Bengkulu Sehat, Mian Sampaikan Kabar dari Tanah Suci Saat Iduladha

“Kalau subsidi memang harganya Rp6.800, tapi kami beli Rp8.000 karena ada biaya operasional membawa minyak dari Tengah Padang ke Malabro,” jelas Robert.

Dalam penyitaan tersebut, nelayan menyebut ada sekitar 40 hingga 50 jeriken yang diamankan. Masing-masing jeriken berisi sekitar 35 liter solar dan disebut milik puluhan nelayan.

“Itu milik sekitar 50 nelayan. Minyaknya juga diambil dengan cara utang dulu, tidak langsung dibayar,” ungkap Robert.

Situasi yang memanas membuat nelayan mengancam akan melanjutkan aksi dengan skala lebih besar jika tuntutan mereka tak digubris.

“Kalau tidak ditanggapi, kami akan tutup jalan,” tutup Robert.

Berita Terkait

Nasib 47 PPPK Paruh Waktu Pemprov Bengkulu Tak Diperpanjang, Ini Penyebabnya
Polresta Bengkulu Gelar Poliran, Gandeng 10 LPK untuk Bantu Masyarakat Keluar dari Pengangguran
Dugaan Suap Rekrutmen 93 Pegawai RSKJ Bengkulu, Mantan Dirut dan Kabag Diserahkan ke Jaksa
Tata Kelola RSMY Dievaluasi BPK Dan Penyelesaian Utang Jadi Perhatian
Makanan MBG Cepat Basi Jadi Sorotan, Satgas Bengkulu Bongkar Kondisi Dapur SPPG
490 Atlet Pelajar Bengkulu Siap Berlaga di Lima Cabor POPDA 2026
Dapat Bantuan Combine Harvester, Biaya Panen Padi di Mukomuko Berpeluang Turun Rp2,3 Juta per Hektare
Pajak Pembalut Perempuan Masuk dalam Tuntutan Demo Mahasiswa di DPRD Bengkulu
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 17:54 WIB

Nasib 47 PPPK Paruh Waktu Pemprov Bengkulu Tak Diperpanjang, Ini Penyebabnya

Kamis, 5 November 2026 - 17:36 WIB

Polresta Bengkulu Gelar Poliran, Gandeng 10 LPK untuk Bantu Masyarakat Keluar dari Pengangguran

Kamis, 5 November 2026 - 17:02 WIB

Dugaan Suap Rekrutmen 93 Pegawai RSKJ Bengkulu, Mantan Dirut dan Kabag Diserahkan ke Jaksa

Kamis, 5 November 2026 - 16:22 WIB

Tata Kelola RSMY Dievaluasi BPK Dan Penyelesaian Utang Jadi Perhatian

Kamis, 5 November 2026 - 13:59 WIB

Makanan MBG Cepat Basi Jadi Sorotan, Satgas Bengkulu Bongkar Kondisi Dapur SPPG

Berita Terbaru