BENGKULUBAROMETER – Biaya panen padi yang biasanya mencapai sekitar Rp3 juta per hektare dengan cara manual berpeluang turun menjadi Rp700 ribu jika menggunakan mesin pemanen. Perkiraan itu disampaikan Wakil Gubernur Bengkulu Mian saat menyerahkan satu unit Combine Harvester kepada Kelompok Tani Mekar Sari di Desa Tirta Mulya, Kabupaten Mukomuko, Rabu (4/11/2026) pagi.
Mian menyerahkan bantuan tersebut bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat. Mesin itu diberikan melalui kerja sama Pemerintah Provinsi Bengkulu dan BI Bengkulu untuk membantu petani padi bekerja lebih cepat dengan biaya panen yang lebih rendah.
Dalam hitungan yang disampaikan Mian, mesin pemanen membutuhkan sekitar sembilan liter bahan bakar untuk mengerjakan satu hektare sawah. Biaya bahan bakarnya diperkirakan Rp200 ribu. Jika ditambah upah operator sekitar Rp500 ribu, total biaya dari dua komponen tersebut menjadi Rp700 ribu per hektare.
Dibandingkan dengan perkiraan biaya panen manual sebesar Rp3 juta untuk luas lahan yang sama, selisihnya mencapai Rp2,3 juta per hektare. Angka itu merupakan potensi penghematan berdasarkan perkiraan bahan bakar dan upah operator yang disampaikan saat penyerahan bantuan. Besarnya penghematan di lapangan bergantung pada biaya yang dikeluarkan saat mesin digunakan.
“Dengan alat ini, pekerjaan petani menjadi lebih ringan, biaya panen bisa ditekan, dan waktu pengerjaan jauh lebih singkat. Harapannya, hasil pertanian semakin optimal dan kesejahteraan petani juga meningkat,” kata Mian.
Selain biaya, Mian membandingkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan panen. Menurut perhitungannya, mesin itu bisa memanen satu hektare sawah dalam waktu sekitar 1,5 hingga 2,5 jam. Dengan cara manual, pengerjaan pada lahan seluas itu memerlukan sekitar dua hingga tiga hari.
Perbedaan waktu itu penting bagi petani karena panen merupakan tahap ketika padi yang sudah siap perlu segera diambil dari sawah. Mesin memungkinkan pekerjaan pada luasan yang sama diselesaikan dalam hitungan jam. Bagi Kelompok Tani Mekar Sari, bantuan ini memberi pilihan untuk memanen dengan cara yang lebih cepat sekaligus mengurangi pengeluaran pada tahap tersebut.
Wahyu mengatakan mesin itu juga dapat membantu proses pengumpulan gabah. Dengan gabah yang terkumpul lebih optimal, ia berharap pekerjaan panen berjalan lebih efektif. BI Bengkulu juga berharap kelompok tani penerima dapat memanfaatkan alat tersebut secara maksimal.
“Alat Combine Harvester ini sangat baik untuk membantu proses panen. Gabah dapat terkumpul dengan lebih optimal sehingga proses pemanenan menjadi lebih efektif dan efisien. Kami berharap bantuan ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani,” ujar Wahyu.
Ngadimo, perwakilan Kelompok Tani Mekar Sari, menyambut baik penyerahan mesin tersebut. Ia mengatakan bantuan itu akan membantu pekerjaan petani padi di Desa Tirta Mulya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada BI dan Pemerintah Provinsi Bengkulu atas dukungan yang diberikan kepada kelompoknya.
“Bantuan ini sangat membantu kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia, Bapak Gubernur, serta Wakil Gubernur Bapak Mian atas kepedulian terhadap petani padi,” tutur Ngadimo.
Bagi petani, biaya panen merupakan salah satu pengeluaran yang memengaruhi hasil usaha tani. Jika biaya yang dibayarkan untuk memanen lebih rendah, bagian dari pendapatan penjualan gabah yang tersisa setelah biaya panen bisa lebih besar. Manfaat itulah yang diharapkan dari penggunaan mesin pemanen di Tirta Mulya.
Mian menempatkan bantuan ini sebagai bagian dari dukungan terhadap target swasembada pangan nasional. Menurutnya, penggunaan teknologi pertanian dapat membantu menjaga produktivitas padi. Ia juga menekankan pentingnya mengantisipasi dampak El Niño terhadap sektor pertanian.
Penyerahan mesin turut dihadiri Bupati Mukomuko Choirul Huda, Wakil Bupati Mukomuko Rahmadi AB, Sekretaris Daerah Kabupaten Mukomuko Marjohan, Kepala Bapperida Provinsi Bengkulu Yuliswani, serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu Desman Siboro. Satu unit mesin yang diserahkan pagi itu diperuntukkan bagi Kelompok Tani Mekar Sari. Saat alat mulai digunakan, biaya bahan bakar dan upah operator menjadi dua angka yang bisa dibandingkan langsung dengan pengeluaran panen manual.










