BENGKULUBAROMETER – Anggota DPD RI Apt. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M. menegaskan pentingnya penguatan layanan kesehatan jiwa di daerah. Komitmen itu ia sampaikan saat meninjau langsung pelayanan di , Rabu (25/2).
Kunjungan kerja tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Destita datang untuk memastikan pelayanan kesehatan jiwa di Bengkulu berjalan memadai, baik dari sisi fasilitas, sumber daya manusia, maupun dukungan anggaran. Kehadirannya disambut Direktur UPTD Khusus RSKJ Soeprapto Bengkulu, dr. Herry Permana, bersama jajaran manajemen rumah sakit.
Dalam pertemuan tertutup bersama manajemen, sejumlah persoalan disampaikan secara terbuka. Pihak rumah sakit mengungkapkan bahwa pengelolaan operasional masih banyak mengandalkan pendapatan internal. Bantuan dari pusat dinilai masih terbatas, sementara kebutuhan pelayanan terus meningkat.
Direktur juga menyinggung keberadaan forum Asosiasi Rumah Sakit Jiwa Seluruh Indonesia serta program Rumah Damping Bahagia yang beberapa tahun lalu sempat menjadi program nasional. Namun, menurutnya, dukungan konkret dalam bentuk bantuan fasilitas dan anggaran belum dirasakan optimal.
Destita mendengarkan seluruh masukan tersebut dengan saksama. Sebagai anggota Komite III DPD RI yang membidangi kesehatan, ia menyadari bahwa layanan kesehatan jiwa kerap luput dari perhatian dibanding layanan kesehatan fisik.
“Pelayanan kesehatan jiwa adalah bagian penting dari sistem kesehatan kita. Negara harus hadir memastikan fasilitas, tenaga profesional, dan dukungan anggaran benar-benar memadai,” ujar Destita.
Tak hanya berdialog di ruang rapat, Destita juga menyempatkan diri berkeliling melihat langsung kondisi rumah sakit. Ia menyaksikan proses pemulihan pasien dengan gangguan mental serta aktivitas terapi yang sedang berlangsung.
Dalam kesempatan itu, ia menyemangati para pasien agar tetap optimistis menjalani proses pemulihan.
“Mudah-mudahan semuanya lekas sembuh ya, dan bisa kembali ke keluarga serta diterima di tengah masyarakat,” ucapnya.
Suasana hangat terasa ketika Destita menyapa satu per satu pasien dan tenaga medis. Ia menilai, dukungan moral dan empati juga merupakan bagian penting dari proses penyembuhan.
Kunjungan berlanjut ke Instalasi Rehabilitasi Medik. Di sana, Kepala Ruang Rehabilitasi Medik, Rita Doverianti, S.STM., Kes., menyampaikan kebutuhan mendesak berupa fasilitas playground atau taman bermain anak. Fasilitas itu dinilai penting untuk membantu membangun suasana hati anak sebelum menjalani terapi.
Menurut Rita, kondisi psikologis anak sangat menentukan efektivitas terapi. Sementara itu, layanan yang ditanggung BPJS hanya berdurasi satu jam, sehingga kesiapan mental anak menjadi faktor krusial.
“Para orang tua dan anak-anak yang menjalani terapi belum memiliki ruang tunggu yang layak. Kami berharap ada dukungan untuk membenahi fasilitas playground ini,” ujarnya.
Selain fasilitas fisik, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan. Saat ini, tenaga terapi bicara dan terapi okupasi masing-masing hanya satu orang. Sementara fisioterapis hanya dua orang, meski kapasitas gedung cukup besar untuk pengembangan layanan.
Manajemen juga menyampaikan perlunya peningkatan kapasitas tenaga melalui pembaruan ilmu terapi perilaku dan terapi ABA (Applied Behavior Analysis). Pengajuan alat dan pengembangan layanan telah diajukan, namun realisasinya masih dinantikan.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Destita menyatakan komitmennya untuk membawa kebutuhan RSKJ Soeprapto Bengkulu ke tingkat pusat. Ia menilai, penguatan kesehatan jiwa harus menjadi prioritas, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental.
“Kita ingin pelayanan kesehatan jiwa di Bengkulu semakin kuat. Bukan hanya gedungnya, tetapi juga SDM, fasilitas terapi, hingga dukungan anggaran. Semua harus sejalan,” tegasnya.
Kunjungan ini sekaligus memperlihatkan perhatian Destita terhadap sektor kesehatan yang menyentuh langsung kelompok rentan. Baginya, memastikan layanan kesehatan jiwa berjalan optimal adalah bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi warganya.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, manajemen rumah sakit, dan dukungan pusat, ia berharap RSKJ Soeprapto Bengkulu dapat berkembang menjadi pusat layanan kesehatan jiwa yang profesional, humanis, dan inklusif.










