BENGKULUBAROMETET — Di tengah cuaca yang tak bersahabat dan hujan yang terus mengguyur, sekelompok mahasiswa berdiri di sejumlah titik jalan di Kabupaten Bengkulu Utara. Mereka bukan sekadar membentangkan kotak donasi, tetapi membawa pesan kemanusiaan: bahwa duka di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah duka bersama. Itulah wajah solidaritas yang ditunjukkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Ratu Samban (UNRAS) dalam aksi kemanusiaan bertajuk Aliansi Bengkulu Utara Peduli.
Selama dua hari, 13–14 Desember 2025, HMI UNRAS bergabung bersama berbagai elemen masyarakat, organisasi kepemudaan, dan mahasiswa dalam penggalangan dana untuk membantu para korban banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Aksi ini menjadi respons cepat atas bencana alam yang dipicu cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi, yang mengakibatkan korban jiwa, rusaknya infrastruktur, terhentinya aktivitas warga, hingga terganggunya kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Bagi kader-kader HMI UNRAS, keterlibatan dalam aksi tersebut bukan sekadar aktivitas sosial rutin. Lebih dari itu, ia menjadi panggilan moral. Mahasiswa, dalam pandangan mereka, memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah krisis, menjadi jembatan antara kepedulian dan aksi nyata.
Penggalangan dana dilakukan di beberapa titik strategis di wilayah Bengkulu Utara. Metode yang digunakan sederhana namun efektif: turun langsung ke masyarakat, menyampaikan kondisi daerah terdampak bencana, serta mengajak warga untuk ikut berbagi. Sekitar 100 hingga 200 orang tergabung dalam Aliansi Bengkulu Utara Peduli, termasuk kader HMI yang sejak pagi hingga sore menyusuri jalanan, pasar, dan pusat keramaian.
Cuaca menjadi tantangan utama. Hujan turun hampir sepanjang kegiatan berlangsung. Namun, kondisi tersebut justru menguatkan tekad para relawan. Jas hujan seadanya, pakaian yang basah, dan dingin yang menusuk tidak menyurutkan langkah mereka.
“Kalau saudara-saudara kita di sana bisa bertahan dalam kondisi jauh lebih sulit, maka hujan di sini bukan alasan untuk berhenti,” ujar salah satu kader HMI di sela kegiatan.
Respons masyarakat Bengkulu Utara pun terbilang positif. Banyak warga yang menyambut baik kehadiran para mahasiswa dan relawan. Donasi diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari uang tunai hingga kebutuhan pokok. Tak sedikit pula warga yang menyampaikan doa dan harapan agar bantuan yang terkumpul benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Febrian Sugiarto, kader HMI UNRAS, menegaskan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan wujud nyata dari nilai-nilai yang selama ini diajarkan dalam HMI.
“Keterlibatan kader-kader HMI UNRAS dalam aksi ini adalah implementasi dari nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Kepedulian terhadap sesama, terhadap saudara sebangsa yang tertimpa musibah, adalah bentuk pengabdian mahasiswa kepada umat dan bangsa,” ujarnya.
Menurut Febrian, bencana alam tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga luka sosial dan psikologis. Karena itu, kehadiran mahasiswa dan organisasi kepemudaan menjadi penting untuk menunjukkan bahwa masyarakat terdampak tidak sendirian. Solidaritas, dalam konteks ini, menjadi energi pemulihan.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas elemen dalam menghadapi bencana. Aliansi Bengkulu Utara Peduli, kata dia, membuktikan bahwa persatuan dan kerja bersama dapat menjadi kekuatan besar. “Kolaborasi ini menunjukkan bahwa ketika mahasiswa, masyarakat, dan organisasi kepemudaan bersatu, maka dampaknya akan jauh lebih terasa,” ujarnya.
HMI UNRAS berharap bantuan yang terkumpul dapat segera disalurkan secara tepat sasaran kepada korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lebih dari sekadar bantuan materi, mereka juga berharap bantuan tersebut membawa harapan dan semangat bagi masyarakat untuk bangkit kembali, terutama dalam aspek kesehatan dan keberlanjutan hidup sehari-hari.
Aksi penggalangan dana ini juga dimaknai sebagai implementasi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, khususnya pada aspek kemanusiaan dan kemasyarakatan. NDP menjadi pedoman gerak bagi kader HMI untuk tidak abai terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Dalam konteks ini, mahasiswa menjalankan perannya sebagai agent of social control, tidak hanya melalui kritik, tetapi juga melalui aksi nyata.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi sarana edukasi sosial bagi kader-kader HMI UNRAS. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, para mahasiswa belajar tentang empati, kepekaan sosial, dan pentingnya kehadiran intelektual muda dalam situasi krisis. Pengalaman ini diharapkan membentuk karakter kader yang tidak hanya kritis di ruang diskusi, tetapi juga tangguh di lapangan.
Di tengah berbagai tantangan bangsa, aksi kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa solidaritas masih hidup. Dari Bengkulu Utara, HMI UNRAS dan Aliansi Bengkulu Utara Peduli mengirimkan pesan sederhana namun kuat: ketika bencana datang, kemanusiaan harus berdiri di barisan terdepan.









