BENGKULUBAROMETER – Persoalan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak daerah, termasuk di tingkat desa. Volume sampah yang terus meningkat setiap hari tidak selalu diimbangi dengan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) maupun sistem pengelolaan yang memadai. Akibatnya, sampah berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, menyumbat saluran drainase, hingga menjadi sumber penyakit bagi masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu (UNIB) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Kelindang Atas, Kecamatan Merigi, Kabupaten Bengkulu Tengah. Kegiatan yang digelar pada 20 Juli 2026 itu mengusung tema “Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Komunitas dalam Menciptakan Kesehatan Lingkungan Berkelanjutan.”
Program ini dipimpin oleh Diyas Widiyarti, M.A., Dosen Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Bengkulu, bersama tim yang terdiri dari Fransiska Timoria Samosir, S.Sos., M.A., Dosen Perpustakaan dan Sains Informasi FISIP UNIB, serta Atik Prihatiningrum, S.T., M.Sc., Dosen Arsitektur Fakultas Teknik UNIB.
Menurut Diyas Widiyarti, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah atau petugas kebersihan. Perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Jika masyarakat mampu memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya, maka volume sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang secara signifikan,” kata Diyas saat kegiatan berlangsung.
Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Dalam program tersebut, tim PKM LPPM UNIB memperkenalkan sebuah cetak biru atau blueprint pengelolaan sampah mandiri yang bertumpu pada tiga pilar utama.
Pertama, menekan timbulan sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Kedua, meningkatkan partisipasi aktif masyarakat melalui budaya memilah sampah setiap hari. Ketiga, menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan melalui sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi.
Konsep yang ditawarkan mengedepankan prinsip Zero Waste Circle, yakni mengoptimalkan pemanfaatan sampah agar tidak berakhir seluruhnya di tempat pembuangan akhir.
Sampah organik diarahkan untuk mendukung sektor pertanian melalui pembuatan kompos dan eco-enzim. Sementara sampah anorganik dikelola melalui bank sampah, daur ulang kreatif, hingga pembuatan ecobrick yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana maupun produk bernilai guna lainnya.
Diyas menjelaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas dipilih karena dianggap lebih efektif dan berkelanjutan.
“Ketika masyarakat merasa memiliki program ini, maka keberlanjutannya akan lebih terjamin dibandingkan jika hanya mengandalkan program sesaat,” ujarnya.
Eco-Enzim, Solusi Sederhana dari Limbah Dapur
Salah satu materi yang mendapatkan perhatian warga adalah pelatihan pembuatan eco-enzim. Produk hasil fermentasi limbah dapur tersebut dinilai memiliki banyak manfaat, mulai dari pupuk cair organik hingga pembersih alami.
Dalam pelatihan, warga diperkenalkan pada formulasi sederhana dengan perbandingan 3:1:10, yakni tiga bagian sampah organik seperti kulit buah dan sayuran, satu bagian molase atau gula merah, serta sepuluh bagian air bersih.
Campuran tersebut difermentasi selama tiga bulan hingga menghasilkan cairan berwarna kecoklatan dengan aroma khas fermentasi.
Menurut Diyas, metode ini tidak hanya mengurangi jumlah sampah organik yang dibuang, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Eco-enzim dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Ini menjadi salah satu bentuk pengolahan sampah yang mudah diterapkan oleh masyarakat desa,” katanya.

Belajar dari Pengalaman Bank Sampah
Dalam kegiatan tersebut, warga juga mendapatkan pengalaman langsung dari praktik pengelolaan sampah yang telah berjalan di Kota Bengkulu. Salah satu narasumber berasal dari Komunitas Bank Sampah Bentandang Kota Bengkulu yang membagikan pengalaman mengenai pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Perwakilan komunitas menjelaskan bahwa bank sampah tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat melalui sistem tabungan sampah.
“Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya bisa menjadi sumber pendapatan tambahan jika dikelola dengan baik. Kuncinya ada pada pemilahan sejak dari rumah,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan bank sampah sangat bergantung pada konsistensi masyarakat dalam memilah sampah serta dukungan pemerintah desa dan kelompok masyarakat.
Dukungan Pemerintah Desa dan Keterlibatan Warga
Agar program berjalan berkelanjutan, tim PKM UNIB juga mendorong pembentukan sistem kelembagaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Kelompok Pengelola Sampah (KPS) diharapkan menjadi ujung tombak operasional harian. Pemerintah desa berperan melalui penyusunan regulasi dan dukungan anggaran, sementara kader kesehatan bertugas melakukan edukasi dan pendampingan kepada warga.

Pemuda dan Karang Taruna juga dilibatkan dalam pengelolaan bank sampah serta pelatihan pembuatan ecobrick.
Melalui kolaborasi tersebut, Desa Kelindang Atas diproyeksikan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA hingga 50 persen, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif.
Diyas berharap program ini tidak berhenti pada tahap sosialisasi, melainkan menjadi gerakan bersama yang terus berkembang di masyarakat.
“Harapan kami, Desa Kelindang Atas dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis komunitas yang berhasil. Jika model ini berjalan baik, bukan tidak mungkin dapat diterapkan di desa-desa lain di Bengkulu Tengah maupun Provinsi Bengkulu,” tuturnya.
Dengan dukungan masyarakat, pemerintah desa, serta pendampingan akademisi, upaya membangun lingkungan yang bersih dan sehat melalui pengelolaan sampah berbasis komunitas kini mulai dirintis dari Desa Kelindang Atas.









