BENGKULUBAROMETER – Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, menunjukkan aksi nyata dalam menghadapi ancaman krisis ekologis. Ia menjadi garda terdepan gerakan perlindungan pohon-pohon purba di hutan lindung Desa Lemonakai, Bengkulu Utara dan Desa Air Tenam, Bengkulu Selatan.
Langkah ini bukan sekadar simbolis. Di tengah meningkatnya ancaman perambahan dan penebangan liar di Pulau Sumatera, Helmi Hasan justru terjun langsung menjadi contoh bagi masyarakat, pejabat, hingga kalangan politisi untuk ikut menjaga hutan melalui program inovatif bertajuk “Pohon Asuh”, di Desa Lemonakai, Bengkulu Utara dan Desa Air Tenam, Bengkulu Selatan.
Skema tersebut merupakan sebuah gerakan inovatif untuk memproteksi sisa-sisa hutan tropis yang kian terancam akibat perambahan hutan dan penemabangan pohon secara brutal oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Skema Pohon Asuh yang diinisiasi bersama KKI Warsi ini merupakan skema sinkronisasi antara perlindungan hutan dan dukungan publik. Dengan donasi sebesar Rp200 ribu/tahun.
Masyarakat dan pejabat tinggi tentunya diharapkan dapat mengikuti langkah orang nomor 1 di Begkulu tersebut menjadi dapat orang tua asuh bagi pohon-pohon purba yang memiliki diameter di atas 60 – 150 CM.
“Pohon sebesar ini kalau ditebang hanya butuh waktu 5 menit, tapi untuk tumbuh kembali butuh satu generasi,” Project Manager KKI Warsi tegas Emmy Primadona.
Dana yang terkumpul dari para pengasuh pohon ini dialokasikan langsung untuk membiayai patroli hutan oleh masyarakat desa, memastikan tidak ada kapak yang menyentuh batang-batang raksasa tersebut.
Langkah tegas Gubernur ini dipandang sebagai respons strategis terhadap rentetan bencana alam yang menghantam provinsi tetangga seperti Sumatera Barat, Aceh, dan Medan.
“Ini bukan kali pertama Bapak Gubernur Helmi Hasan lakukan, bahkan sudah jauh sebelum hari ini, waktu ia masih jadi Walikota Bengkulu juga ikut andil atas pohon asuh ini,” terangnya.
Di saat wilayah lain berdarah-darah akibat banjir dan longsor, Bengkulu melalui pengelolaan hutan desa di Lemonakai justru menunjukkan ketahanan ekologi yang lebih stabil.
Setiap pohon yang diasuh akan diberi penanda atau tagging identitas pengasuhnya, menciptakan ikatan tanggung jawab personal antara kaum urban dan kelestarian rimba.
Penulis : Reno Dwi Pranoto
Editor : Windi Junius









