BENGKULUBAROMETER – Persoalan kualitas dan kelayakan makanan menjadi inspirasi pelajar Bengkulu menciptakan inovasi Smart MBG. Robot baru tersebut akan menjadi salah satu dari 12 inovasi yang dibawa dalam Kontes Robot Nusantara (KRON) ASEAN Robotic Competition for Primary and Secondary School 2026 di Universitas Indonesia (UI).
Smart MBG dirancang untuk membantu mendeteksi kandungan gizi sekaligus menilai kelayakan makanan sebelum dikonsumsi. Inovasi ini muncul setelah persoalan makanan yang dinilai tidak layak hingga kasus keracunan menjadi perhatian masyarakat.
Pembina Robotik Bengcoolen Center (RBC) Bengkulu, Maya Baysari, mengatakan tema MBG sengaja dipilih karena para pelajar ingin mengangkat persoalan yang sedang menjadi perhatian publik.
“Kami ada 12 inovasi, yaitu salah satunya ada MBG. Kenapa mengambil temanya MBG? Karena sedang viral-viralnya makanan yang tidak bagus, enggak layak lagi, banyak yang keracunan,” kata Maya, Senin (5/10/2026).
Dari persoalan tersebut, para pelajar mencoba menghadirkan solusi melalui teknologi. Smart MBG dikembangkan untuk membantu melakukan pengecekan terhadap makanan, terutama berkaitan dengan kandungan gizi dan kelayakannya.
Menurut Maya, robot tersebut nantinya dapat digunakan untuk membaca sejumlah kandungan nutrisi pada makanan.
“Jadi dengan adanya Smart MBG ini mungkin dapat membantu di bagian gizi untuk pengecekan makanan, seperti vitaminnya berapa, kadarnya berapa, terus bahannya ini bisa layak disajikan atau tidak,” ujarnya.
Kemampuan Smart MBG untuk sementara difokuskan pada pemeriksaan kandungan vitamin dan protein serta membantu menentukan kelayakan makanan.
Maya mengatakan informasi yang diperoleh dari sistem tersebut diharapkan dapat menjadi indikator awal untuk melihat kandungan gizi makanan.
“Benar, kadar gizi, layak atau tidak, terus berapa protein yang terkandung. Kalau misalnya terdeteksi vitaminnya kurang atau gizinya kurang, itu berarti tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat,” jelas Maya.
Robot tersebut belum difokuskan untuk mendeteksi secara langsung zat atau penyebab keracunan makanan. Pengembangan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kategori dan tingkatan kompetisi yang diikuti para pelajar.
“Kalau itu mungkin kami kembangkan kembali kalau untuk keracunan. Karena kan ada grade-grade-nya lomba,” ungkapnya.
Untuk kategori tingkat SMP, kata Maya, kemampuan robot disesuaikan dengan petunjuk teknis kompetisi.
“Kalau untuk level SMP itu kalau kami baca di juknis itu hanya mendeteksi kadar vitamin dan barang ini layak dikonsumsi atau tidak,” sambungnya.
Meski masih dalam tahap pengembangan, Smart MBG dipastikan akan menjadi salah satu inovasi yang dibawa pelajar Bengkulu dalam kompetisi tersebut.
Smart MBG bukan satu-satunya inovasi yang akan diperkenalkan. Sebanyak 65 pelajar Bengkulu akan membawa total 12 inovasi dalam Kontes Robot Nusantara ASEAN Robotic Competition 2026.
Para peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan telah melalui proses seleksi sebelum mendapatkan pelatihan robotika.
Ketua Yayasan Barokah Insani Bengkulu, Rupianto, mengatakan seleksi dibuka secara umum untuk pelajar di Provinsi Bengkulu. Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian dalam proses seleksi adalah penguasaan bahasa Inggris.
Menurutnya, kemampuan tersebut dibutuhkan karena pelajar akan berhadapan dengan bahasa pemrograman atau coding.
“Kami buka untuk umum, khususnya Provinsi Bengkulu. Anak-anak ini salah satunya bisa berbahasa Inggris. Bahasa Inggris ini syarat utama, karena coding itu berbahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia, bukan bahasa Bengkulu,” ujar Rupianto.
Selain kemampuan bahasa Inggris, kemampuan matematika dan tingkat kecerdasan peserta turut menjadi pertimbangan.
“Yang kedua matematikanya, IQ-nya. Nah, kita seleksi, kemudian sudah dapat, kita rekrut. Setelah itu kita latih lagi, batas mana kemampuannya,” katanya.
Rupianto mengakui tidak semua pelajar yang mengikuti seleksi dan pelatihan langsung berhasil memenuhi standar. Meski demikian, pembinaan tetap diberikan agar kemampuan mereka dapat terus berkembang.
“Banyak juga yang masuk yang belum berhasil. Mau kursus sedikit di kita, pelatihan di tempat kita, banyak juga yang belum berhasil karena kemampuannya tadi kurang. Tapi kami lakukan pendekatan sama anak-anak,” jelasnya.
Keikutsertaan 65 pelajar tersebut diharapkan menjadi pemicu berkembangnya pendidikan dan pembinaan robotika di Bengkulu.
Rupianto berharap ke depan peserta tidak hanya berasal dari beberapa daerah, tetapi semakin banyak kabupaten dan kota yang mengirimkan pelajar terbaiknya.
“Harapan kami ke depan, peserta robotik ini, khususnya Provinsi Bengkulu, akan lebih banyak lagi kabupaten/kota yang mengirim. Karena ini baru 65 orang,” harapnya.
Jika seluruh 10 kabupaten dan kota di Bengkulu mampu mengirimkan perwakilan dari tingkat SD, SMP hingga SMA, menurut Rupianto, jumlah generasi muda yang mendapatkan pengalaman dalam kompetisi robotika akan jauh lebih besar.
“Jika di 10 kabupaten/kota masing-masing SD, SMP, SMA masing-masing lima orang mengirim kontes, berapa ratus anak yang bisa kita antar ke ASEAN,” ujarnya.
Ia berharap pembinaan teknologi dan robotika sejak usia sekolah dapat menjadi bagian dari upaya mempersiapkan sumber daya manusia Bengkulu menghadapi perkembangan teknologi masa depan.
“Insya Allah, 2045 menuju Indonesia Emas,” pungkas Rupianto.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius










