BENGKULUBAROMETER – PT Pelindo Regional II melalui Pelabuhan Pulau Baai menyiapkan lahan seluas 215 hektar untuk dikembangkan sebagai kawasan industri baru di Provinsi Bengkulu.
Kawasan ini dirancang untuk memperkuat aktivitas pelabuhan curah kering serta pembangunan terminal curah cair (basah) yang ditargetkan rampung pada November 2026.
Langkah ini diambil seiring membaiknya kondisi alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai. Saat ini kedalaman alur sudah mencapai 6,5 meter dan terus dikebut hingga target 12 meter agar dapat melayani kapal berukuran besar.
General Manager Pelindo Regional II Bengkulu, menyebut potensi ekonomi Bengkulu selama ini belum tergarap maksimal karena sebagian besar komoditas unggulan justru dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi.
“Bengkulu ini ibarat raksasa yang sedang tidur. Dari total sekitar 1,4 juta ton CPO yang dihasilkan Bengkulu setiap tahun, hanya 300 ribu ton yang dikirim lewat Pelabuhan Pulau Baai. Sisanya lewat Pelabuhan Teluk Bayur dan Panjang,” ujar Dimas saat kegiatan media geatring Pelindo bersama insan Media Bengkulu dengan tema “Pelindo Regional 2 Bengkulu: Bersama Media Mengawal Transformasi Pelabuhan” pada Rabu 4 Februari 2026 di Bika Coffee.
Menurutnya, kondisi ini membuat Bengkulu kehilangan peluang besar dari sisi ekonomi daerah, lapangan kerja, hingga aktivitas industri turunan.
Dengan hadirnya terminal curah cair, Pelindo menargetkan masuknya investasi industri kelapa sawit dan turunannya, seperti pabrik minyak goreng, industri pengolahan CPO, serta sektor perikanan.
“Rencana investasi pengalengan ikan juga menjadi target untuk mengisi kawasan industri ini,” kata Dimas.
Selain itu, Pelindo juga tengah membenahi pelayanan kepelabuhanan, mulai dari revitalisasi fasilitas, peningkatan layanan bongkar muat, hingga kemudahan akses bagi investor.
Upaya pendekatan dengan calon investor terus dilakukan seiring perbaikan alur pelayaran yang semakin stabil.
Saat ini, komoditas ekspor Bengkulu yang dikirim melalui Pelabuhan Pulau Baai masih didominasi oleh batu bara, cangkang sawit, dan CPO.
Namun Pelindo menilai potensi Bengkulu jauh lebih besar jika kawasan industri terintegrasi bisa diwujudkan.
Dimas menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan proyek ini. Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan operator pelabuhan harus berjalan seiring agar Pelabuhan Pulau Baai mampu bersaing dengan pelabuhan besar di Sumatera.
“Dengan luas lahan 215 hektar, Pelabuhan Pulau Baai bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pesisir barat Sumatera,” ujarnya.
Jika rencana ini berjalan sesuai target, Pelabuhan Pulau Baai tidak hanya menjadi pintu keluar masuk barang, tetapi juga pusat industri yang menciptakan nilai tambah bagi Bengkulu.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









