Helmi Hasan Turun ke Lebong, Perjuangkan Legalitas Tambang Emas Rakyat

- Jurnalis

Senin, 9 Februari 2026 - 18:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

n Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mendorong ketahanan pangan dimulai dari rumah melalui program Dua Hektare Satu Desa yang memperluas lahan produktif dan keterlibatan masyarakat.

n Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mendorong ketahanan pangan dimulai dari rumah melalui program Dua Hektare Satu Desa yang memperluas lahan produktif dan keterlibatan masyarakat.

BENGKULUBAROMETER – Pemerintah Provinsi Bengkulu mulai membuka ruang dialog serius terkait masa depan pertambangan emas rakyat di Kabupaten Lebong. Gubernur Bengkulu Helmi Hasan turun langsung menemui masyarakat penambang emas tradisional di kawasan Lebong Tambang dan sekitarnya untuk mendengar aspirasi warga yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari tambang rakyat.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari implementasi program Bantu Rakyat, sebuah pendekatan kebijakan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan. Dalam dialog itu, para penambang menyampaikan kegelisahan yang selama ini mereka pendam: aktivitas tambang yang telah berlangsung turun-temurun masih berada dalam bayang-bayang persoalan hukum karena belum memiliki izin resmi.

Helmi Hasan menegaskan, pemerintah daerah tidak ingin menutup mata terhadap realitas di lapangan. Ia menyebut, tambang emas rakyat di Lebong bukan aktivitas baru, melainkan sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka dan menjadi bagian dari sejarah ekonomi masyarakat setempat.

Baca Juga :  Syukuran Kinerja 2025, Kajati Bengkulu Tegaskan Penegakan Hukum Harus Profesional dan Berintegritas

“Kita tidak bisa memandang ini semata-mata sebagai aktivitas ilegal. Ini soal sejarah, soal penghidupan rakyat, dan soal kehadiran negara untuk memberi kepastian,” kata Helmi dalam dialog terbuka bersama warga.

Pemerintah Provinsi Bengkulu, lanjut Helmi, akan menempuh jalur administratif dan kelembagaan agar aspirasi masyarakat penambang dapat diformalkan secara hukum. Mekanisme yang disiapkan dimulai dari surat resmi Bupati Lebong kepada Gubernur, kemudian dilanjutkan dengan pengajuan ke kementerian terkait, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ia juga memastikan bahwa seluruh perangkat daerah terkait, termasuk Dinas ESDM dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah mencatat secara detail kondisi lapangan, termasuk tumpang tindih wilayah tambang rakyat dengan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) perusahaan.

“Kita akan evaluasi izin-izin yang ada. Prinsipnya, kekayaan alam harus memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat,” tegasnya.

Baca Juga :  BPK Bengkulu Kembali Raih Predikat Informatif Tertinggi, Bukti Konsistensi Keterbukaan Publik

Helmi mengaitkan upaya ini dengan semangat nasional tentang kemandirian ekonomi. Menurutnya, pertambangan rakyat yang dikelola dengan baik dan legal justru bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah, sekaligus mencegah praktik tambang yang merusak lingkungan.

Ia menegaskan, dialog ini bukan sekadar mendengar keluhan, tetapi awal dari proses panjang untuk menghadirkan perlindungan hukum bagi masyarakat penambang emas Lebong.

“Insyallah, apa yang disampaikan masyarakat tidak akan berhenti di sini. Negara harus hadir, bukan menghilang,” ujarnya.

Hingga awal 2026, Kabupaten Lebong memang masih dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas pertambangan emas rakyat yang cukup intens, namun sebagian besar belum memiliki payung hukum resmi. Pemerintah daerah berharap, melalui komunikasi lintas pemerintah dan pusat, status tambang rakyat ini bisa segera memperoleh kejelasan.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Dapat Bantuan Combine Harvester, Biaya Panen Padi di Mukomuko Berpeluang Turun Rp2,3 Juta per Hektare
Pajak Pembalut Perempuan Masuk dalam Tuntutan Demo Mahasiswa di DPRD Bengkulu
Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu
MA Batalkan Vonis 2,5 Tahun, Ahmad Kanedi Bebas dari Dakwaan Korupsi Mega Mall Bengkulu
KSOP Pulau Baai Diduga Tak Jalankan Kewajiban Pandu-Tunda, Kerugian Negara Ditaksir Rp10,5 Miliar
Perkuat Perlindungan Anak, Pemkot Bengkulu Jalin Kerja Sama dengan Polresta
Jalan di Kaur Tempat Bumil Ditandu Saat Keguguran Akhirnya Diaspal
Masih Banyak Pekerja Belum Terlindungi, BPJS Ketenagakerjaan Bengkulu Dorong Perluasan Peserta
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 17:43 WIB

Dapat Bantuan Combine Harvester, Biaya Panen Padi di Mukomuko Berpeluang Turun Rp2,3 Juta per Hektare

Rabu, 4 November 2026 - 16:35 WIB

Pajak Pembalut Perempuan Masuk dalam Tuntutan Demo Mahasiswa di DPRD Bengkulu

Rabu, 4 November 2026 - 13:13 WIB

Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu

Selasa, 3 November 2026 - 22:39 WIB

MA Batalkan Vonis 2,5 Tahun, Ahmad Kanedi Bebas dari Dakwaan Korupsi Mega Mall Bengkulu

Selasa, 3 November 2026 - 17:28 WIB

Perkuat Perlindungan Anak, Pemkot Bengkulu Jalin Kerja Sama dengan Polresta

Berita Terbaru

Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu tidak memperpanjang kontrak enam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.

Bengkulu

Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu

Rabu, 4 Nov 2026 - 13:13 WIB