Naiknya Nilai Tukar Dolar, Berdampak Dengan Properti Rumah Subsidi

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BENGKULUBAROMETER – Kenaikan nilai tukar dolar yang terjadi belakangan ini mulai berdampak besar terhadap sektor properti, khususnya pembangunan rumah subsidi di Bengkulu. Harga material bangunan yang melonjak membuat biaya produksi rumah meningkat tajam, sementara harga jual rumah subsidi belum mengalami penyesuaian.

Ketua APERSI Bengkulu, Asman, mengatakan kenaikan harga material bangunan saat ini sudah berada di angka 30 hingga 40 persen. Kondisi tersebut membuat para pengembang berada dalam posisi sulit karena margin keuntungan terus menurun.

“Beberapa hari terakhir harga dolar naik cukup signifikan. Itu sangat berpengaruh terhadap pembelian material. Bahkan bukan sekadar naik harga lagi, tapi berubah harga,” kata Asman saat dikonfirmasi, Senin (25/05/2026).

Ia menjelaskan, hampir seluruh material bangunan mengalami kenaikan, mulai dari pasir, batu, besi hingga berbagai perlengkapan konstruksi lainnya.

“Kenaikan antara 30 sampai 35 persen, bahkan ada yang 40 persen. Otomatis biaya produksi rumah juga naik hampir 30 persen,” ujarnya.

Meski biaya pembangunan meningkat, harga jual rumah subsidi saat ini masih belum bisa dinaikkan karena mengikuti ketentuan pemerintah pusat. Akibatnya, pengembang harus menanggung berkurangnya margin keuntungan.

Baca Juga :  Dinas Sosial Bengkulu Utara Jadi yang Terbaik, Raih Nilai Tertinggi Pelayanan Publik dari Ombudsman

“Sementara harga jual rumah belum ada kenaikan. Artinya yang dikorbankan sekarang pihak pengembang dan developer. Marginnya jauh berkurang,” jelasnya.

Menurut Asman, kondisi tersebut membuat banyak pengembang mulai menahan pembangunan rumah baru sambil menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait penyesuaian harga rumah subsidi.

“Kami tidak bisa memproduksi rumah kalau hitung-hitungan angkanya sudah tidak masuk lagi. Jadi lebih baik stagnan dulu sambil menunggu kebijakan pusat,” terangnya.

Selain persoalan harga material, pengembang juga dihadapkan pada berbagai perubahan regulasi, baik terkait perizinan maupun sistem administrasi pembiayaan rumah subsidi.

Ia menyebut adanya penyesuaian sistem TAPERA hingga perubahan data NPWP konsumen membuat proses akad kredit perumahan kerap mengalami kendala.

“Sekarang aturan baru harus disesuaikan lagi dengan pihak pengembang. Jadi ada beberapa akad perumahan terkendala karena sistem yang masih penyesuaian dengan pusat,” ujarnya.

Asman mengaku pengembang saat ini berada dalam dilema. Di satu sisi biaya pembangunan meningkat, namun di sisi lain uang muka atau DP rumah subsidi tidak bisa dinaikkan secara sembarangan.

“Kalau menaikkan DP juga tidak bisa, menaikkan harga rumah juga tidak bisa karena harga rumah ditentukan pemerintah pusat,” sambungnya.

Baca Juga :  Bengkulu Jadi Pilihan Kopassus, Bukti Bengkulu Layak untuk Latihan Militer Nasional

Pihak asosiasi, lanjut Asman, telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat agar dilakukan peninjauan terhadap harga rumah subsidi.

Ia menjelaskan, apabila harga rumah subsidi nantinya dinaikkan, maka dampaknya juga akan terasa pada besaran cicilan masyarakat.

“Misalnya harga rumah subsidi di Sumatera sekarang Rp166 juta, kalau naik jadi Rp180 juta atau Rp190 juta, otomatis cicilannya juga naik,” jelasnya.

Menurutnya, kenaikan cicilan akan semakin memberatkan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit dan daya beli yang menurun.

“Sekarang daya beli masyarakat turun karena semua barang naik dan masyarakat lagi susah,” ujarnya.

Bahkan, Asman mengaku mulai banyak konsumen yang membatalkan pembelian rumah meski sebelumnya telah membayar uang muka.

“Ada sekitar delapan konsumen yang mengundurkan diri. Padahal rumahnya sudah dibangun sekitar 50 persen,” ungkapnya.

Ia mengatakan sebagian masyarakat mulai merasa khawatir tidak sanggup melanjutkan cicilan rumah apabila biaya hidup dan pengeluaran terus meningkat.

“Setelah bayar DP, mereka takut sanggup atau tidak melanjutkan kredit nanti karena semua biaya akan naik. Itu fenomena yang terjadi akhir-akhir ini,” tutup Asman.

Berita Terkait

Dirlantas Polda Bengkulu Turun Langsung Petakan Wilayah, Pastikan Keselamatan Pengguna Jalan
Berkas Perkara Investasi Bodong Yeyen Alias Cek Oboy Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan
Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat
Inflasi Bengkulu Juli 2026 Dipicu BBM dan Biaya Pendidikan
HIPKA Bengkulu Dorong Lahirnya Pengusaha Muda, Perkuat Kolaborasi Untuk Kemajuan Bengkulu 
Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah. HIPKA Gelar Forum Bisnis dan Pelantikan Pengurus Baru
Bengkulu Kejar Lonjakan Produksi Beras, 8.214 Hektar Sawah Masuk Program Pertanian Modern
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:44 WIB

Dirlantas Polda Bengkulu Turun Langsung Petakan Wilayah, Pastikan Keselamatan Pengguna Jalan

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:18 WIB

Berkas Perkara Investasi Bodong Yeyen Alias Cek Oboy Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:50 WIB

Inflasi Bengkulu Juli 2026 Dipicu BBM dan Biaya Pendidikan

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:56 WIB

Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas

Berita Terbaru

Bengkulu

Inflasi Bengkulu Juli 2026 Dipicu BBM dan Biaya Pendidikan

Senin, 3 Agu 2026 - 20:50 WIB