BENGKULUBAROMETER – Konflik rumah tangga yang melibatkan Risdianto Pattiwael, Ketua Umum Syukuran Aminuddin Amir Foundation (SAAF), memasuki ranah hukum setelah dirinya dilaporkan oleh istri sah.
Bagi sang istri, persoalan ini bukan sekadar konflik rumah tangga biasa. Di balik keputusan membawa persoalan ke jalur hukum, terdapat persoalan mengenai hak seorang istri dan tanggung jawab seorang ayah terhadap anak yang semestinya tidak boleh diabaikan.
Sebagai istri sah, ia mengaku tidak ingin lagi persoalan tersebut hanya menjadi konsumsi percakapan di balik pintu rumah. Ia memilih jalur hukum agar seluruh persoalan dapat diuji berdasarkan fakta, bukti, dan proses hukum yang berlaku.
“Saya tidak sedang mencari panggung. Saya sedang memperjuangkan hak saya sebagai istri dan hak anak saya. Kalau selama ini suara saya tidak didengar, biarkan hukum yang berbicara,” tegasnya.
Ia juga menyoroti adanya dugaan persoalan kedekatan dengan perempuan lain yang menjadi bagian dari konflik rumah tangga tersebut. Namun, seluruh dugaan tersebut tetap menjadi bagian yang harus dibuktikan melalui proses hukum dan tidak dapat dianggap sebagai fakta yang telah berkekuatan hukum tetap.
Yang menjadi sorotan adalah posisi sang istri: ketika status sebagai istri sah masih melekat, tetapi persoalan rumah tangga justru berujung pada dugaan pengabaian terhadap istri dan anak.
Bagi sang istri, persoalan ini bukan tentang siapa yang lebih cepat membangun cerita kepada publik.
Ini tentang siapa yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Ia menegaskan tidak akan mundur hanya karena tekanan, stigma, maupun opini publik.
“Saya sudah terlalu lama diam. Kali ini saya memilih bicara melalui jalur yang benar. Saya punya bukti, saya punya hak, dan saya punya anak yang harus saya perjuangkan. Sampai kapan pun, saya tidak akan membiarkan hak anak saya dianggap tidak penting.”
Kasus ini kini menjadi perhatian karena menyangkut seorang figur publik sekaligus persoalan keluarga yang melibatkan hak istri dan anak.
Bukan soal siapa yang menang dalam perang opini. Bukan pula soal siapa yang paling pandai memainkan narasi.
Pada akhirnya, fakta akan diuji, bukti akan berbicara, dan hukum yang akan menentukan.
Dan bagi seorang ibu, memperjuangkan hak anak bukanlah drama. Itu adalah bentuk tanggung jawab.









