BENGKULUBAROMETER – Keberadaan sediment trap di kawasan Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu dinilai sangat efektif dalam menjaga kedalaman pintu alur pelayaran. Struktur ini menjadi salah satu solusi utama untuk mengatasi persoalan klasik pelabuhan, yakni pendangkalan akibat endapan pasir laut.
General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Bengkulu, Dr. Dimas Rizky Kusmayadi, menyebut sediment trap telah lama disiapkan dan hingga kini terus dioptimalkan fungsinya.
Menurutnya, keberadaan sistem ini berperan penting dalam mendukung kelancaran operasional serta keselamatan pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai.
Sediment trap berfungsi menangkap sedimen atau pasir laut sebelum masuk ke pintu alur pelayaran. Tanpa sistem ini, pasir yang terbawa arus dan gelombang laut berpotensi menyebabkan pendangkalan, yang dapat menghambat lalu lintas kapal, khususnya kapal bermuatan besar.
“Sediment trap sudah lama disiapkan dan terus kami optimalkan untuk menangkap endapan pasir yang berpotensi menyebabkan pendangkalan alur,” ujar Dimas.
Ia menjelaskan, efektivitas sediment trap sudah terlihat langsung di lapangan. Pasir laut yang tertangkap tidak lagi masuk ke alur pelayaran, melainkan mengendap di area yang telah dirancang khusus. Hal ini membuat kedalaman alur relatif terjaga dan lebih stabil.
Dari hasil pemantauan, sediment trap bahkan mampu mencegah sekitar 80 persen sedimen agar tidak mencapai pintu alur pelayaran. Angka ini dinilai sangat signifikan, mengingat volume pasir laut yang terus bergerak setiap hari akibat arus dan gelombang.
“Efektivitasnya cukup tinggi. Sekitar 80 persen endapan pasir bisa dicegah masuk ke pintu alur,” tegas Dimas.
Meski demikian, masih ada sekitar 20 persen sedimen yang lolos dan mengendap di area pintu alur. Jumlahnya diperkirakan mencapai 2.000 kubik pasir per hari.
Untuk mengatasi sisa endapan tersebut, pengelola pelabuhan tetap melakukan pemeliharaan rutin agar kedalaman alur tetap sesuai standar keselamatan pelayaran.
Menariknya, pasir yang tertangkap sediment trap dalam jangka panjang justru membentuk daratan baru. Saat ini, daratan hasil akumulasi pasir tersebut telah mencapai sekitar 30 hektare dan berada di sisi pintu alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai.
Keberadaan daratan baru ini menjadi bukti nyata bahwa sediment trap bekerja secara konsisten dan efektif. Selain berfungsi sebagai pengendali sedimen, struktur ini juga membantu mengurangi beban pengerukan di area alur pelayaran.
Dengan sistem sediment trap yang optimal, Pelabuhan Pulau Baai diharapkan dapat terus beroperasi dengan aman, lancar, dan efisien.
Upaya ini sekaligus menunjukkan komitmen pengelola pelabuhan dalam menjaga infrastruktur maritim yang vital bagi perekonomian Bengkulu.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









