BENGKULUBEROMETER – Diantara ribuan honorer yang berdiri rapi di halaman Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, sosok Buhari tampak sederhana. Mengenakan seragam Korpri biru lengkap dengan peci hitam, pria berusia 55 tahun itu menunggu satu momen penting dalam hidupnya yakni menerima Surat Keputusan (SK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.
Buhari bukan siapa-siapa. Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh besar. Ia hanyalah seorang guru honorer di SD Negeri 87 Bengkulu Utara, yang selama 16 tahun setia mengajar Pendidikan Kewarganegaraan di Desa Pematang Balam. Namun kisah pengabdiannya jauh lebih besar dari sekadar selembar SK.
“Cuma tinggal tiga tahun lagi, Mas. Umur saya sudah 55,” ucap Buhari lirih
Selama bertahun-tahun, Buhari menjalani hari-harinya sebagai tenaga pendidik dengan honor yang jauh dari kata layak. Dalam sebulan, ia hanya menerima sekitar Rp300 ribu. Jumlah itu bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, apalagi menabung masa depan. Namun Buhari bertahan.
Setiap pagi, ia tetap berangkat ke sekolah. Mengajar, mendidik, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak desa. Ia percaya, pendidikan adalah fondasi utama membangun masa depan bangsa, meski harus dibayar dengan pengorbanan pribadi.
“Mengajar itu bukan soal uang. Ini pengabdian. Saya cinta tanah kelahiran saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Buhari, menerima SK PPPK Paruh Waktu bukan sekadar peningkatan status. Ini adalah pengakuan negara atas pengabdiannya yang panjang dan sunyi. Meski ia sadar masa pengabdiannya tak lagi lama, ia tetap bersyukur diberi kesempatan hingga akhir usia kerja.
Pelantikan PPPK Paruh Waktu ini menjadi kado akhir tahun bagi ribuan honorer di Bengkulu Utara. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara melantik sebanyak 2.297 PPPK Paruh Waktu dari berbagai sektor, termasuk tenaga pendidik, kesehatan, dan teknis.
Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, menegaskan bahwa PPPK Paruh Waktu tetap berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Karena itu, mereka dituntut menjaga dedikasi, disiplin, serta akuntabilitas dalam menjalankan tugas.
“Status PPPK adalah ASN. Artinya, tanggung jawabnya besar. Kami berharap kehadiran PPPK Paruh Waktu ini mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik,” kata Arie dalam sambutannya.
Bagi Buhari, pesan itu diterimanya dengan penuh kesadaran. Ia tak meminta lebih. Ia hanya berharap masih diberi kesehatan agar bisa terus berdiri di depan kelas, mengajar hingga akhir masa tugasnya.
Di tengah hiruk pikuk birokrasi dan angka-angka anggaran, kisah Buhari menjadi pengingat bahwa pendidikan di daerah masih berdiri di atas ketulusan. Di balik bangku sekolah yang sederhana, ada guru-guru yang mengabdi tanpa pamrih.
Dan hari itu, dengan SK di tangan, Buhari pulang ke desanya dengan senyum tenang. Bukan karena status, tetapi karena pengabdiannya akhirnya diakui.









