BENGKULUBAROMETER – Suasana Pasar Ramadan Balai Buntar, Kota Bengkulu, Selasa (24/2/2026), mendadak lebih hangat dari biasanya. Di tengah deretan lapak takjil yang dipadati pembeli, Anggota DPD RI asal Bengkulu, Apt. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., hadir dan memborong berbagai jajanan milik pelaku UMKM.
Kehadirannya bukan sekadar kunjungan seremonial. Destita datang dengan komitmen nyata: mendukung pedagang kecil yang menggantungkan harapan pada momentum Ramadan.
Satu per satu lapak ia datangi. Mulai dari telur asin, gulai dusun, donat, opor, lontong, jus buah, hingga aneka kue jajanan pasar, tak luput dari perhatiannya. Ia juga membeli produk sambal dari dapur Omakuin yang dikenal sebagai salah satu pelaku usaha rumahan di kawasan tersebut.
Bagi Destita, Ramadan bukan hanya bulan meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat ekonomi kerakyatan.
“Dengan membeli langsung dari pedagang kecil, kita ikut membantu perputaran uang tetap berada di daerah. Ini bagian dari komitmen mendukung ekonomi lokal,” ujarnya.
Sebagai seorang apoteker dan berlatar belakang kesehatan, Destita bahkan sempat memilih jus cornflakes yang dinilainya sebagai alternatif takjil sehat. Sikap ini memperlihatkan konsistensinya dalam mengampanyekan pola konsumsi yang lebih baik, tanpa meninggalkan keberpihakan pada pelaku usaha kecil.
Kehadiran senator perempuan asal Bengkulu ini pun disambut antusias para pedagang. Lydia, salah satu pelaku UMKM, mengaku terharu dagangannya dibeli langsung.
“Selamat datang di tempat kami. Alhamdulillah tadi Ibu Senator Destita membeli sambal kami dari produk Omakuin dan kue jajanan pasar,” ungkapnya dengan wajah sumringah.
Pedagang lain juga menyampaikan rasa syukur karena dagangannya ikut diborong.
“Di sini kami jual berbagai macam takjil, dari yang creamy, manis, sampai yang asin dan gurih. Ada juga yang sehat seperti jus cornflakes. Tadi dibeli dua porsi sama Ibu Destita. Terima kasih banyak Ibu, mampir lagi nanti,” katanya.
Tidak hanya berbelanja, Destita juga meluangkan waktu berdialog dengan para pedagang. Ia menanyakan langsung tantangan yang mereka hadapi, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga strategi pemasaran agar produk bisa menjangkau lebih banyak konsumen.
Dialog tersebut menjadi momen penting. Bagi Destita, kebijakan yang berpihak pada UMKM harus lahir dari pemahaman langsung terhadap kondisi di lapangan.
Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kebijakan yang memperkuat sektor UMKM di Provinsi Bengkulu. Menurutnya, pelaku usaha kecil adalah tulang punggung ekonomi daerah yang harus mendapat perhatian serius.
“UMKM ini adalah kekuatan ekonomi rakyat. Jika mereka tumbuh, ekonomi daerah ikut bergerak. Kita harus pastikan mereka mendapat dukungan, baik dari sisi regulasi, pembiayaan, maupun akses pasar,” tegasnya.
Pasar Ramadan sendiri menjadi salah satu ruang penting bagi UMKM untuk meningkatkan pendapatan. Dalam waktu terbatas selama bulan suci, para pedagang berusaha memaksimalkan penjualan demi menopang kebutuhan keluarga.
Aksi memborong takjil yang dilakukan Destita bukan semata soal transaksi, tetapi simbol keberpihakan. Ia menunjukkan bahwa dukungan terhadap UMKM bisa dimulai dari langkah sederhana: membeli produk lokal.
Kehadirannya di tengah masyarakat, tanpa sekat, memperlihatkan gaya kepemimpinan yang dekat dan responsif. Bagi para pedagang, kunjungan tersebut bukan hanya mendatangkan tambahan omzet, tetapi juga semangat dan rasa dihargai.
Di bulan penuh berkah ini, langkah kecil seperti itu menjadi berarti besar. Dan di Pasar Ramadan Balai Buntar sore itu, dukungan terhadap ekonomi rakyat bukan sekadar wacana—tetapi nyata terasa.









