BENGKULUBAROMETER – Harapan yang selama ini hanya menjadi angan-angan, akhirnya benar-benar menyala di rumah Eva Susanti (50). Perempuan yang sehari-hari berjualan kue tradisional itu kini tak lagi menumpang aliran listrik dari rumah orang tuanya. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, rumah sederhananya mulai terang melalui pemasangan listrik mandiri dari Pemerintah Provinsi Bengkulu.
Bantuan tersebut diserahkan langsuqng oleh Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, melalui Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) bagi masyarakat kurang mampu. Di balik pemasangan kabel dan meteran itu, tersimpan cerita panjang tentang kesabaran, perjuangan, dan harapan yang tak pernah padam.
Dengan mata berkaca-kaca, Eva menuturkan rasa syukurnya. Selama ini, ia dan keempat anaknya hanya bisa menumpang listrik dari rumah orang tuanya yang berdampingan. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatnya tak mampu memasang listrik sendiri.
“Terima kasih banyak, Pak Gubernur. Selama ini kami hanya menumpang listrik karena tidak mampu memasang baru. Sekarang rumah kami sudah punya listrik sendiri. Alhamdulillah, semoga Bapak selalu diberikan kesehatan dan kesuksesan,” ujar Eva lirih.
Sebagai seorang janda dengan empat anak, Eva menggantungkan hidup dari hasil berjualan kue tradisional. Penghasilannya tidak menentu. Di malam hari, aktivitas rumah tangga kerap terbatas karena keterbatasan daya listrik yang ia tumpangi. Anak-anaknya pun harus berbagi cahaya untuk belajar.
Kini, dengan listrik mandiri berdaya 900 VA, suasana rumah berubah. Lampu menyala lebih terang, kipas angin berputar tanpa rasa khawatir, dan anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman. Bagi Eva, ini bukan sekadar bantuan teknis, melainkan titik balik kehidupan.
Gubernur Helmi Hasan menegaskan, listrik merupakan kebutuhan dasar yang harus dinikmati seluruh masyarakat. Ia tak ingin ada lagi rumah warga Bengkulu yang hidup dalam kegelapan.
“Tidak boleh lagi ada rumah masyarakat Bengkulu yang gelap tanpa listrik. Jika masih ada warga yang membutuhkan, saya minta aparat desa maupun tetangga ikut peduli dan segera melaporkan,” tegas Helmi.
Ia bahkan membuka akses pengaduan langsung melalui WhatsApp pribadinya maupun dinas terkait agar laporan masyarakat bisa segera ditindaklanjuti. Menurutnya, pemerintah harus hadir secara nyata, bukan sekadar dalam kebijakan di atas kertas.
Langkah itu menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Bengkulu memperluas akses energi, khususnya bagi keluarga kurang mampu di pelosok daerah. Melalui program BPBL, sebanyak 2.024 Rumah Tangga Miskin (RTM) di seluruh Bengkulu telah menerima pemasangan listrik gratis berdaya 900 VA. Di Kabupaten Mukomuko saja, tercatat 140 rumah tangga kini menikmati aliran listrik secara mandiri.
Namun perhatian pemerintah tidak berhenti pada pemasangan listrik. Dalam kunjungan tersebut, Helmi juga memastikan kondisi rumah Eva mendapat perhatian lebih lanjut. Melalui kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan pemerintah kabupaten setempat, rumah Eva akan masuk program bedah rumah.
“Kita bantu bedah juga rumahnya melalui Baznas, berkolaborasi bersama bupati. Ada juga bantuan modal usaha agar bisa berkembang. Untuk anaknya yang SMA nanti kita carikan orang tua asuh, begitu pula yang masih kecil akan kita perhatikan,” ujarnya.
Bantuan modal usaha diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi kue yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Dengan dukungan tersebut, Eva tak hanya memiliki cahaya di rumahnya, tetapi juga peluang memperluas usaha.
Bagi banyak keluarga seperti Eva, listrik bukan sekadar soal terang dan gelap. Ia adalah simbol martabat dan kesempatan. Dengan listrik, anak-anak dapat belajar lebih lama, ibu-ibu dapat berproduksi lebih efektif, dan keluarga memiliki peluang meningkatkan taraf hidup.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi








