Warga Sidodadi Kepahiang Geram, Tiang PLN Berdiri 15 Tahun Tapi Kabel Masih Semrawut dan Membahayakan

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Sidodadi Kepahiang melapor hingga ke UP3 PLN Bengkulu karena kabel listrik estafet yang dinilai berbahaya dan dibiarkan selama 15 tahun tanpa perbaikan.

Warga Sidodadi Kepahiang melapor hingga ke UP3 PLN Bengkulu karena kabel listrik estafet yang dinilai berbahaya dan dibiarkan selama 15 tahun tanpa perbaikan.

BENGKULUBAROMETER – Kesabaran warga RT 11 RW 04 Sidodadi, Kelurahan Pasar Ujung, Kabupaten Kepahiang, mulai habis. Setelah bertahun-tahun hidup dengan jaringan listrik yang dinilai tidak layak dan membahayakan, warga akhirnya melapor langsung hingga ke UP3 PLN Bengkulu.

Warga menilai kondisi jaringan listrik di lingkungan mereka seperti dibiarkan tanpa perhatian serius. Ironisnya, tiang listrik sudah berdiri sejak lama, namun belasan rumah masih menggunakan kabel estafet yang dianggap tidak sesuai standar operasional.

Keluhan tersebut disampaikan warga melalui laporan resmi yang sebelumnya sudah diajukan ke ULP PLN Kepahiang. Karena belum ada penyelesaian yang jelas, warga kembali membawa persoalan itu ke tingkat UP3 PLN Bengkulu.

Salah satu warga, Sandes, mengatakan laporan itu dibuat agar persoalan kelistrikan di wilayah mereka segera ditindaklanjuti sebelum menimbulkan korban yang lebih besar.

“Kami membuat laporan resmi ke UP3 Bengkulu supaya segera ditindaklanjuti. Jangan tunggu ada kebakaran atau korban jiwa dulu baru bergerak,” tegas Sandes.

Baca Juga :  Tersangka Baru Menguat Puluhan PHL Kembali diperiksa Tipidkor Polda Bengkulu

Menurut warga, sedikitnya terdapat 18 rumah yang masih menggunakan kabel sambungan estafet. Kondisi kabel dinilai sudah tidak layak pakai dan sangat membahayakan keselamatan masyarakat.

Bahkan, warga mengaku sempat terjadi percikan api dari kabel listrik tersebut yang membuat lampu di 18 rumah padam mendadak. Peristiwa itu membuat warga panik dan khawatir akan risiko korsleting.

“Sudah pernah ada percikan api. Bahkan ada warga yang kena sengatan listrik karena kabel tidak layak pakai. Kalau nanti sampai terjadi kebakaran, siapa yang mau bertanggung jawab?” ujar Sandes.

Kondisi itu memicu kritik tajam dari masyarakat terhadap pelayanan PLN yang dianggap lamban menangani persoalan mendasar di lingkungan padat penduduk.

Warga menilai seharusnya keberadaan tiang listrik dibarengi dengan pemasangan jaringan yang aman dan sesuai standar. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kabel semrawut masih menggantung di kawasan pemukiman yang terus berkembang.

Masyarakat juga mempertanyakan pengawasan dari pihak terkait. Sebab, kondisi tersebut disebut bukan terjadi satu atau dua tahun, melainkan sudah berlangsung sekitar 15 tahun.

Baca Juga :  JPU Minta Latifa Ditahan Usai Dituntut 4,5 Tahun Penjara

“Kalau memang ini berbahaya, kenapa dibiarkan begitu lama? Jangan sampai masyarakat jadi korban akibat kelalaian,” kata warga lainnya.

Dalam laporan yang disampaikan ke UP3 PLN Bengkulu, warga meminta beberapa poin penting segera direalisasikan. Di antaranya peningkatan keamanan instalasi listrik, pengurangan risiko kebakaran akibat korsleting, penataan jaringan listrik agar sesuai standar, serta memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi masyarakat.

Selain itu, warga juga mendesak agar keluhan tersebut segera mendapat tindakan nyata, bukan hanya sebatas menerima laporan tanpa penyelesaian.

Jarak yang cukup jauh dari Kepahiang menuju Bengkulu tidak menyurutkan langkah warga untuk mencari kepastian. Mereka berharap laporan tersebut benar-benar menjadi perhatian serius pihak PLN.

Warga menegaskan, listrik bukan sekadar kebutuhan penerangan, tetapi menyangkut keselamatan banyak keluarga yang tinggal di kawasan tersebut.

“Kami mendesak pihak PLN segera mengatasi persoalan ini. Jangan sampai ada korban baru sibuk turun ke lapangan,” tutup Sandes.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Dirlantas Polda Bengkulu Turun Langsung Petakan Wilayah, Pastikan Keselamatan Pengguna Jalan
Berkas Perkara Investasi Bodong Yeyen Alias Cek Oboy Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan
Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat
Inflasi Bengkulu Juli 2026 Dipicu BBM dan Biaya Pendidikan
HIPKA Bengkulu Dorong Lahirnya Pengusaha Muda, Perkuat Kolaborasi Untuk Kemajuan Bengkulu 
Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah. HIPKA Gelar Forum Bisnis dan Pelantikan Pengurus Baru
Bengkulu Kejar Lonjakan Produksi Beras, 8.214 Hektar Sawah Masuk Program Pertanian Modern
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:44 WIB

Dirlantas Polda Bengkulu Turun Langsung Petakan Wilayah, Pastikan Keselamatan Pengguna Jalan

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:18 WIB

Berkas Perkara Investasi Bodong Yeyen Alias Cek Oboy Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat

Senin, 3 Agustus 2026 - 20:50 WIB

Inflasi Bengkulu Juli 2026 Dipicu BBM dan Biaya Pendidikan

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:56 WIB

Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas

Berita Terbaru

Bengkulu

Inflasi Bengkulu Juli 2026 Dipicu BBM dan Biaya Pendidikan

Senin, 3 Agu 2026 - 20:50 WIB