BENGKULUBAROMETER – Menjelang arus perjalanan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pemerintah Provinsi Bengkulu memperketat pengawasan transportasi laut dan udara. Langkah ini ditempuh seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap dampak Siklon Tropis Bakung yang diprediksi memengaruhi perairan Bengkulu dan wilayah sekitarnya.
Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu mendirikan empat pos pelayanan terpadu, terdiri atas tiga pos pelayanan laut dan satu pos pelayanan udara. Pos laut ditempatkan di kawasan Pelindo, Pelabuhan Kahyapu, serta Pelabuhan Malakoni. Sementara pos pelayanan udara beroperasi di kawasan Bandara Fatmawati.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu, Hendri Kurniawan, mengatakan pendirian posko ini merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menjamin keselamatan masyarakat selama periode libur panjang. Menurut dia, potensi gelombang tinggi, angin kencang, dan cuaca ekstrem akibat siklon tropis tidak boleh dianggap remeh.
“Empat pos pelayanan ini menjadi pusat kendali transportasi laut dan udara. Kami ingin memastikan setiap pergerakan kapal dan pesawat berlangsung aman, serta bisa dihentikan sewaktu-waktu bila cuaca membahayakan,” ujar Hendri, Kamis (18/12).
Dishub Bengkulu secara intensif berkoordinasi dengan BMKG dan BPBD untuk memperoleh pembaruan data cuaca. Informasi tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan operasional, termasuk pembatasan pelayaran atau penundaan penerbangan.
Prediksi cuaca dari BMKG sebelumnya menyebutkan adanya bibit Siklon Tropis Bakung yang berpotensi meningkatkan tinggi gelombang di perairan barat Sumatera. Kondisi ini dinilai berisiko bagi kapal penyeberangan dan aktivitas pelayaran rakyat yang menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat pesisir Bengkulu.
Selain laut dan udara, Dishub juga memperkuat pengawasan jalur darat. Sebuah posko khusus didirikan di kawasan Liku Sembilan, Bengkulu Tengah, yang dikenal rawan longsor. Pos ini dioperasikan bersama Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bengkulu dengan dukungan alat berat.
“Di Liku Sembilan, alat berat disiagakan untuk mengantisipasi longsor atau gangguan lalu lintas. Jalur pegunungan Kepahiang–Benteng menjadi perhatian khusus karena intensitas hujan meningkat,” kata Hendri.
Upaya ini mencerminkan pendekatan mitigasi risiko yang komprehensif. Pemerintah daerah tidak hanya bereaksi saat bencana terjadi, tetapi berupaya mengurangi potensi korban dan kerugian sejak dini.
Bagi masyarakat, Dishub mengimbau agar selalu memantau informasi resmi cuaca dan mematuhi arahan petugas. Keselamatan, kata Hendri, harus menjadi prioritas utama dibanding kepentingan perjalanan.
Dengan kesiapsiagaan ini, Bengkulu berharap dapat melewati momen Natal dan Tahun Baru dengan aman, tertib, dan minim gangguan, meski cuaca ekstrem membayangi wilayah perairan dan pegunungan.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









