BENGKULUBAROMETER – Usia Buhari tak lagi muda. Di angka 55 tahun, sebagian orang mungkin sudah bersiap pensiun. Namun bagi Buhari, guru honorer SD Negeri 87 Bengkulu Utara, justru di usia inilah negara akhirnya mengetuk pintu pengabdiannya.
Rabu sore, 31 Desember 2025, Buhari berdiri sejajar dengan ribuan honorer lainnya di halaman Pemkab Bengkulu Utara. Dengan wajah sederhana dan langkah tenang, ia menerima SK PPPK Paruh Waktu, sebuah pengakuan yang ditunggunya selama bertahun-tahun.
“Alhamdulillah, walau cuma tinggal tiga tahun lagi,” ujarnya singkat.
Selama 16 tahun, Buhari mengajar Pendidikan Kewarganegaraan di desa terpencil. Ia membentuk karakter, menanamkan cinta tanah air, dan mengajarkan arti tanggung jawab kepada murid-muridnya. Semua itu ia lakukan dengan honor minim, tanpa jaminan masa depan yang jelas.
Namun Buhari tidak pernah meninggalkan kelasnya. Setiap hari ia percaya, satu anak yang tercerahkan lebih berharga daripada materi.
Pelantikan 2.297 PPPK Paruh Waktu oleh Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara menjadi bukti bahwa perjuangan para honorer akhirnya mendapat perhatian. Meski statusnya paruh waktu, mereka kini resmi menjadi bagian dari ASN.
Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, menegaskan bahwa PPPK Paruh Waktu harus membawa semangat baru dalam pelayanan publik.
“Ini bukan akhir perjuangan, tetapi awal tanggung jawab baru,” tegasnya.
Bagi Buhari, kalimat itu bukan sekadar formalitas. Ia menganggap SK sebagai amanah. Amanah untuk tetap mengajar dengan hati, meski waktu pengabdian kian terbatas.
Kisah Buhari mencerminkan wajah pendidikan daerah. Di balik keterbatasan, ada guru-guru yang setia. Mereka mungkin tak viral, tapi perannya nyata.
Kini, dengan status PPPK Paruh Waktu, Buhari tak lagi sekadar honorer. Ia adalah ASN yang diakui negara. Sebuah penantian panjang yang akhirnya terjawab.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









