BENGKULUBAROMETER – Pelayanan kesehatan di RSUD M. Yunus kembali menjadi sorotan tajam. Puluhan pasien gagal menjalani cuci darah (hemodialisa) pada Rabu, 15 April 2026, akibat habisnya Bahan Medis Habis Pakai (BMHP). Kondisi ini memunculkan kritik keras terhadap manajemen rumah sakit yang dinilai tidak siap menghadapi lonjakan pasien.
Sedikitnya 50 pasien terdampak, terdiri dari 25 pasien sesi pagi dan 25 pasien sesi siang. Mereka yang datang sesuai jadwal justru diminta pulang tanpa mendapatkan tindakan medis. Ironisnya, tidak ada kepastian kapan layanan akan kembali normal.
Padahal, bagi pasien gagal ginjal, cuci darah bukan sekadar layanan biasa, melainkan kebutuhan vital yang harus dilakukan secara rutin dan tepat waktu. Keterlambatan saja bisa berdampak serius terhadap kondisi kesehatan mereka.
Salah satu pasien yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai rumah sakit tidak memberikan kepastian dan terkesan mengabaikan keselamatan pasien.
“Kami ini bukan pasien biasa, kami butuh cuci darah rutin. Tapi malah disuruh pulang tanpa kejelasan. Kalau kondisi kami memburuk, siapa yang bertanggung jawab?” ujarnya dengan nada kecewa.
Informasi yang berkembang menyebutkan, lonjakan pasien rujukan dari rumah sakit lain menjadi alasan utama terganggunya layanan. Namun, alasan tersebut justru memicu kritik, karena dinilai menunjukkan lemahnya perencanaan dan manajemen logistik rumah sakit.
Sejumlah pihak mempertanyakan, mengapa rumah sakit sebesar RSUD M. Yunus tidak memiliki cadangan BMHP untuk mengantisipasi kondisi darurat seperti lonjakan pasien.
Terlebih lagi, tenaga medis internal disebut telah lebih dulu mengingatkan potensi kekosongan stok BMHP kepada manajemen. Namun, tidak ada langkah cepat yang diambil hingga akhirnya pelayanan benar-benar lumpuh.
Direktur RSUD M. Yunus, Hery Kurniawan, dalam klarifikasinya mengakui adanya lonjakan pasien dalam sepekan terakhir. Ia menyebut suplai yang selama ini disiapkan memang hanya disesuaikan dengan kebutuhan normal.
“Dalam satu minggu terakhir ada lonjakan pasien dari rumah sakit lain, sehingga dialihkan ke RSMY dan suplai harus ditingkatkan. Kita sudah pesan, tetapi belum sampai karena kendala di perjalanan,” jelasnya.
Ia juga menyebut posisi distribusi BMHP masih berada di pesisir Lampung dan diperkirakan tiba pada sore atau malam hari.
“Kita sudah pesan, tetapi belum sampai karena ada kendala di jalan. Pagi tadi dicek posisi GPS masih di pesisir Lampung, kemungkinan sore ini tiba atau selambat-lambatnya malam,” jelas Hery
Namun, penjelasan tersebut dinilai belum cukup menjawab persoalan utama, yakni minimnya antisipasi terhadap risiko pelayanan vital. Ketergantungan pada satu jalur distribusi tanpa cadangan stok menjadi titik lemah yang kini berdampak langsung pada pasien.
Kondisi ini pun membuka kembali pertanyaan besar tentang kesiapan RSUD M. Yunus sebagai rumah sakit rujukan utama di Bengkulu. Jika lonjakan pasien saja tidak mampu diantisipasi, bagaimana rumah sakit ini menghadapi situasi yang lebih darurat?
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi manajemen RSUD M. Yunus untuk melakukan evaluasi menyeluruh, khususnya dalam pengelolaan logistik dan sistem respons cepat terhadap kondisi darurat.
Penulis : Windi junius
Editor : Redaksi









