Melihat dari Tuntutan, Kuasa Hukum Bebby Hussy, Nilai JPU Sudah Petakan Aktor Utama Kasus Tambang

- Jurnalis

Jumat, 24 April 2026 - 00:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kuasa hukum Bebby Hussy menilai tuntutan jaksa dalam kasus tambang Bengkulu menunjukkan pemisahan tanggung jawab antar terdakwa, sekaligus membuka peluang pembelaan pada dakwaan suap dan TPPU.

Kuasa hukum Bebby Hussy menilai tuntutan jaksa dalam kasus tambang Bengkulu menunjukkan pemisahan tanggung jawab antar terdakwa, sekaligus membuka peluang pembelaan pada dakwaan suap dan TPPU.

BENGKULUBAROMETER – Pembacaan tuntutan dalam perkara tambang batu bara Bengkulu pada Rabu (22/4/2026) menjadi babak penting dalam proses hukum yang tengah berjalan. Dari sidang tersebut, kuasa hukum terdakwa Bebby Hussy dan Sakya Hussy, Yakup Hasibuan, menilai bahwa jaksa penuntut umum secara tidak langsung telah memisahkan tanggung jawab antar para terdakwa.

Menurut Yakup, susunan tuntutan yang dibacakan di persidangan justru menunjukkan siapa pihak yang dianggap paling bertanggung jawab dalam perkara ini. Ia menilai, arah tuntutan tersebut menguatkan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan.

“Dari tuntutan yang dibacakan, terlihat jelas bagaimana pemisahan tanggung jawab itu disusun. Ini menunjukkan bahwa ada pihak yang memang dinilai memikul tanggung jawab utama,” ujar Yakup usai sidang.

Kasus ini sendiri bermula dari kerja sama tambang batu bara yang menyeret sejumlah pihak dalam tiga jenis dakwaan, yakni tindak pidana korupsi, suap, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Perkara ini juga menjadi sorotan publik karena melibatkan petinggi perusahaan hingga mantan pejabat negara.

Baca Juga :  Jelang Akhir 2026, Bank Sampah di Kota Bengkulu Tembus 112 Unit

Dalam tuntutannya, jaksa meminta hukuman paling berat kepada dua petinggi PT Ratu Samban Mining (RSM), yakni Edi Santoso Raharja dan David Alexander Yuwono. Keduanya dituntut masing-masing 10 tahun penjara serta diwajibkan membayar uang pengganti hingga puluhan miliar rupiah. Selain itu, mantan pejabat Kementerian ESDM, Sunindyo Suryo Herdadi, juga dituntut 8 tahun penjara.

Sementara itu, Bebby Hussy dituntut total 8 tahun penjara dari tiga perkara berbeda, yakni 4 tahun untuk korupsi, 2 tahun untuk suap, dan 2 tahun untuk TPPU. Adapun Sakya Hussy dituntut 3 tahun penjara, terdiri dari 2 tahun untuk korupsi dan 1 tahun untuk TPPU.

Yakup menilai, perbedaan tuntutan tersebut bukan tanpa alasan. Ia menyebut, posisi dua petinggi RSM sebagai pemegang izin usaha pertambangan (IUP) menjadi faktor utama yang membuat mereka dituntut paling berat.

“Sejak awal persidangan, sudah jelas bahwa aspek perizinan, operasional tambang, hingga tanggung jawab korporasi berada di pihak RSM. Itu yang kemudian tercermin dalam tuntutan jaksa,” jelasnya.

Baca Juga :  HUT ke-81 TNI, Danrem 041/Gamas Ajak Masyarakat Jaga Persatuan Menuju Indonesia Emas

Meski demikian, Yakup mengaku pihaknya belum sepenuhnya menerima tuntutan terhadap kliennya. Ia secara tegas menolak dakwaan suap dan TPPU yang dinilai tidak memiliki dasar kuat berdasarkan fakta persidangan.

Untuk dakwaan suap, Yakup menyebut kliennya tidak mengetahui adanya peristiwa tersebut. Ia menilai tuntutan 2 tahun penjara terhadap Bebby dalam perkara suap tidak memiliki dasar yang jelas.

“Pak Bebby tidak pernah tahu soal dugaan suap itu. Jadi sangat tidak tepat kalau beliau tetap dituntut dalam perkara tersebut,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga membantah tuduhan tindak pidana pencucian uang. Yakup menyebut seluruh penghasilan Bebby dan Sakya berasal dari sumber yang sah, seperti usaha resmi, dividen perusahaan, serta gaji yang telah dilaporkan dalam pajak.

“Fakta di persidangan sudah menunjukkan bahwa tidak ada upaya menyamarkan uang. Semua berasal dari sumber yang legal,” kata Yakup.

Dengan telah dibacakannya tuntutan oleh jaksa, proses hukum kini memasuki tahap berikutnya, yakni pembelaan dari pihak terdakwa.

Penulis : Windi junius

Editor : Windi Junius

Berita Terkait

Nasib Cabor Billiard di Porprov Bengkulu Masih Mengambang
Dorong Peternakan Modern, Bengkulu Dibidik Jadi Pusat Industri Sapi dan Pakan Sawit
Helmi Sebut Rehabilitasi Stadion GOR Sawah Lebar Bengkulu Butuh Anggaran Rp80 Miliar
Jelang Hari Pahlawan 2026, Pemprov Bengkulu Siapkan Ziarah dan Tabur Bunga
Nasib 47 PPPK Paruh Waktu Pemprov Bengkulu Tak Diperpanjang, Ini Penyebabnya
Polresta Bengkulu Gelar Poliran, Gandeng 10 LPK untuk Bantu Masyarakat Keluar dari Pengangguran
Dugaan Suap Rekrutmen 93 Pegawai RSKJ Bengkulu, Mantan Dirut dan Kabag Diserahkan ke Jaksa
Tata Kelola RSMY Dievaluasi BPK Dan Penyelesaian Utang Jadi Perhatian
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 16:17 WIB

Nasib Cabor Billiard di Porprov Bengkulu Masih Mengambang

Jumat, 6 November 2026 - 15:24 WIB

Dorong Peternakan Modern, Bengkulu Dibidik Jadi Pusat Industri Sapi dan Pakan Sawit

Jumat, 6 November 2026 - 14:43 WIB

Helmi Sebut Rehabilitasi Stadion GOR Sawah Lebar Bengkulu Butuh Anggaran Rp80 Miliar

Jumat, 6 November 2026 - 13:14 WIB

Jelang Hari Pahlawan 2026, Pemprov Bengkulu Siapkan Ziarah dan Tabur Bunga

Kamis, 5 November 2026 - 17:54 WIB

Nasib 47 PPPK Paruh Waktu Pemprov Bengkulu Tak Diperpanjang, Ini Penyebabnya

Berita Terbaru

Bengkulu

Nasib Cabor Billiard di Porprov Bengkulu Masih Mengambang

Jumat, 6 Nov 2026 - 16:17 WIB