BENGKULUBAROMETER – Aroma tempe yang biasanya memenuhi ruang produksi milik Yuneni Wulandari di Kota Bengkulu masih tercium setiap pagi. Namun di balik aktivitas yang tampak biasa itu, ada perjuangan besar yang sedang dihadapi para pelaku usaha tempe akibat kenaikan harga kedelai yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Harga kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe kini mencapai Rp850 ribu per karung berisi 50 kilogram. Angka tersebut naik sekitar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi pengusaha tempe skala rumahan, perubahan harga tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi.
Yuneni mengaku kondisi saat ini membuat dirinya harus lebih berhitung dalam menjalankan usaha. Jika sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp800 ribu per karung, kini biaya yang harus dikeluarkan semakin besar.
“Biasanya harga kedelai sekitar Rp800 ribu per karung. Sekarang sudah mencapai Rp850 ribu per karung,” ujarnya.
Kenaikan harga kedelai tidak hanya berdampak pada biaya produksi. Para pelaku usaha juga dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau mempertahankan pelanggan. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, menaikkan harga secara langsung bukan pilihan yang mudah.
Karena itu, Yuneni memilih langkah yang menurutnya paling realistis. Untuk pembeli dalam jumlah besar, harga jual mengalami penyesuaian. Namun untuk tempe yang dijual secara eceran, ia tetap mempertahankan harga dengan cara mengurangi berat produk.
Langkah tersebut dilakukan agar konsumen tidak terlalu merasakan dampak kenaikan harga bahan baku. Meski demikian, strategi itu membuat margin keuntungan menjadi semakin tipis.
Tidak berhenti sampai di situ, Yuneni juga terpaksa mengurangi jumlah produksi harian. Jika sebelumnya mampu mengolah hingga 12 karung kedelai setiap hari, kini kapasitas produksi hanya berkisar enam hingga delapan karung.
Pengurangan produksi dilakukan karena modal usaha yang tersedia tidak lagi cukup untuk membeli bahan baku dalam jumlah besar. Akibatnya, jumlah tempe yang dipasarkan ke berbagai pelanggan juga ikut berkurang.
Kondisi tersebut menggambarkan tantangan yang saat ini dihadapi banyak pelaku usaha mikro di sektor pangan. Kenaikan harga bahan baku memaksa mereka melakukan berbagai penyesuaian agar usaha tetap bertahan.
Meski keuntungan terus menyusut, Yuneni memilih tetap menjalankan usahanya. Baginya, usaha tempe bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga penopang ekonomi keluarga yang telah dijalani selama bertahun-tahun.
Namun ia mengakui keuntungan yang diperoleh saat ini jauh menurun dibandingkan sebelumnya. Jika dihitung secara keseluruhan, laba bersih yang diperoleh hanya sekitar 30 persen dari kondisi normal sebelum harga kedelai melonjak.
Situasi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana gejolak harga bahan baku dapat memengaruhi sektor usaha kecil. Di satu sisi mereka harus mempertahankan pelanggan, tetapi di sisi lain biaya produksi terus meningkat.
Bagi para pelaku usaha tempe di Bengkulu, harapan terbesar saat ini adalah stabilitas harga kedelai. Dengan harga yang lebih terkendali, mereka dapat kembali meningkatkan produksi dan menjaga keberlangsungan usaha tanpa harus terus melakukan berbagai penghematan.









