Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Kedelai, Perajin Tempe Bengkulu Kurangi Produksi Demi Menjaga Usaha

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kenaikan harga kedelai hingga Rp850 ribu per karung memaksa pengusaha tempe di Bengkulu mengurangi produksi dan menyesuaikan strategi penjualan agar usaha tetap bertahan.

Kenaikan harga kedelai hingga Rp850 ribu per karung memaksa pengusaha tempe di Bengkulu mengurangi produksi dan menyesuaikan strategi penjualan agar usaha tetap bertahan.

BENGKULUBAROMETER – Aroma tempe yang biasanya memenuhi ruang produksi milik Yuneni Wulandari di Kota Bengkulu masih tercium setiap pagi. Namun di balik aktivitas yang tampak biasa itu, ada perjuangan besar yang sedang dihadapi para pelaku usaha tempe akibat kenaikan harga kedelai yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Harga kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe kini mencapai Rp850 ribu per karung berisi 50 kilogram. Angka tersebut naik sekitar Rp20 ribu hingga Rp50 ribu dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi pengusaha tempe skala rumahan, perubahan harga tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi.

Yuneni mengaku kondisi saat ini membuat dirinya harus lebih berhitung dalam menjalankan usaha. Jika sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp800 ribu per karung, kini biaya yang harus dikeluarkan semakin besar.

“Biasanya harga kedelai sekitar Rp800 ribu per karung. Sekarang sudah mencapai Rp850 ribu per karung,” ujarnya.

Kenaikan harga kedelai tidak hanya berdampak pada biaya produksi. Para pelaku usaha juga dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga jual atau mempertahankan pelanggan. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, menaikkan harga secara langsung bukan pilihan yang mudah.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Kirim Sapi Kurban Bobot 1,1 Ton, Masjid Al-Ansor Jadi Penerima

Karena itu, Yuneni memilih langkah yang menurutnya paling realistis. Untuk pembeli dalam jumlah besar, harga jual mengalami penyesuaian. Namun untuk tempe yang dijual secara eceran, ia tetap mempertahankan harga dengan cara mengurangi berat produk.

Langkah tersebut dilakukan agar konsumen tidak terlalu merasakan dampak kenaikan harga bahan baku. Meski demikian, strategi itu membuat margin keuntungan menjadi semakin tipis.

Tidak berhenti sampai di situ, Yuneni juga terpaksa mengurangi jumlah produksi harian. Jika sebelumnya mampu mengolah hingga 12 karung kedelai setiap hari, kini kapasitas produksi hanya berkisar enam hingga delapan karung.

Pengurangan produksi dilakukan karena modal usaha yang tersedia tidak lagi cukup untuk membeli bahan baku dalam jumlah besar. Akibatnya, jumlah tempe yang dipasarkan ke berbagai pelanggan juga ikut berkurang.

Baca Juga :  Usai Iduladha, PDI Perjuangan Bengkulu Gaspol Musancab Maraton di 4 Daerah

Kondisi tersebut menggambarkan tantangan yang saat ini dihadapi banyak pelaku usaha mikro di sektor pangan. Kenaikan harga bahan baku memaksa mereka melakukan berbagai penyesuaian agar usaha tetap bertahan.

Meski keuntungan terus menyusut, Yuneni memilih tetap menjalankan usahanya. Baginya, usaha tempe bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga penopang ekonomi keluarga yang telah dijalani selama bertahun-tahun.

Namun ia mengakui keuntungan yang diperoleh saat ini jauh menurun dibandingkan sebelumnya. Jika dihitung secara keseluruhan, laba bersih yang diperoleh hanya sekitar 30 persen dari kondisi normal sebelum harga kedelai melonjak.

Situasi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana gejolak harga bahan baku dapat memengaruhi sektor usaha kecil. Di satu sisi mereka harus mempertahankan pelanggan, tetapi di sisi lain biaya produksi terus meningkat.

Bagi para pelaku usaha tempe di Bengkulu, harapan terbesar saat ini adalah stabilitas harga kedelai. Dengan harga yang lebih terkendali, mereka dapat kembali meningkatkan produksi dan menjaga keberlangsungan usaha tanpa harus terus melakukan berbagai penghematan.

Berita Terkait

Nasib Cabor Billiard di Porprov Bengkulu Masih Mengambang
Dorong Peternakan Modern, Bengkulu Dibidik Jadi Pusat Industri Sapi dan Pakan Sawit
Helmi Sebut Rehabilitasi Stadion GOR Sawah Lebar Bengkulu Butuh Anggaran Rp80 Miliar
Jelang Hari Pahlawan 2026, Pemprov Bengkulu Siapkan Ziarah dan Tabur Bunga
Nasib 47 PPPK Paruh Waktu Pemprov Bengkulu Tak Diperpanjang, Ini Penyebabnya
Polresta Bengkulu Gelar Poliran, Gandeng 10 LPK untuk Bantu Masyarakat Keluar dari Pengangguran
Dugaan Suap Rekrutmen 93 Pegawai RSKJ Bengkulu, Mantan Dirut dan Kabag Diserahkan ke Jaksa
Tata Kelola RSMY Dievaluasi BPK Dan Penyelesaian Utang Jadi Perhatian
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 16:17 WIB

Nasib Cabor Billiard di Porprov Bengkulu Masih Mengambang

Jumat, 6 November 2026 - 15:24 WIB

Dorong Peternakan Modern, Bengkulu Dibidik Jadi Pusat Industri Sapi dan Pakan Sawit

Jumat, 6 November 2026 - 14:43 WIB

Helmi Sebut Rehabilitasi Stadion GOR Sawah Lebar Bengkulu Butuh Anggaran Rp80 Miliar

Jumat, 6 November 2026 - 13:14 WIB

Jelang Hari Pahlawan 2026, Pemprov Bengkulu Siapkan Ziarah dan Tabur Bunga

Kamis, 5 November 2026 - 17:54 WIB

Nasib 47 PPPK Paruh Waktu Pemprov Bengkulu Tak Diperpanjang, Ini Penyebabnya

Berita Terbaru

Bengkulu

Nasib Cabor Billiard di Porprov Bengkulu Masih Mengambang

Jumat, 6 Nov 2026 - 16:17 WIB