Keselamatan di Atas Euforia, TWA Way Hawang Kaur Ditutup Saat Libur Nataru

- Jurnalis

Jumat, 26 Desember 2025 - 19:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BENGKULUBAROMETER – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu dimanfaatkan untuk euforia wisata. Di Kabupaten Kaur, nama Taman Wisata Alam Way Hawang kerap menjadi tujuan utama masyarakat untuk berwisata, menikmati laut biru, serta lanskap karang yang eksotis. Namun, suasana berbeda pada libur akhir tahun kali ini. Pemerintah memilih menarik menutup sementra Kawasan TWA Way Hawang.

Penutupan itu dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu. Keputusan tersebut berlaku mulai 24 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Bagi sebagian orang, kebijakan ini terasa pahit di tengah harapan menikmati liburan. Namun bagi pengelola konservasi, langkah tersebut justru dianggap sebagai pilihan paling tepat demi keselamatan masyakat dan kelestarian alam.

Way Hawang bukan satu-satunya kawasan yang ditutup. Total ada 21 kawasan Taman Wisata Alam (TWA) dan Cagar Alam (CA) di wilayah pesisir Bengkulu yang ikut “dikunci” sementara. Kawasan-kawasan itu tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, mulai dari Kota Bengkulu, Bengkulu Selatan, Seluma, Mukomuko, Bengkulu utara hingga Pulau terluar pulau Enggano. Penutupan ini menunjukkan betapa luasnya bentang pesisir Bengkulu yang berstatus kawasan konservasi dan rentan terhadap tekanan wisata massal.

Baca Juga :  Sekda Bengkulu Tegaskan Perang Lawan Pungli, ASN Diminta Jangan Main-Main dengan Gratifikasi

Kepala BKSDA Bengkulu, Himawan Sasongko, menegaskan bahwa keputusan ini diambil dengan pertimbangan matang. Menurutnya, lonjakan wisatawan saat libur panjang kerap tidak sebanding dengan daya dukung kawasan.

“Kawasan TWA dan CA memiliki fungsi utama perlindungan keanekaragaman hayati. Lonjakan pengunjung tanpa kontrol, apalagi di tengah cuaca ekstrem, berisiko besar merusak habitat alami,” ujarnya.

Aspek keselamatan menjadi alasan lain yang tak kalah penting. Akhir Desember hingga awal Januari dikenal sebagai periode rawan cuaca ekstrem di perairan Bengkulu. Gelombang tinggi, angin kencang, serta hujan intens kerap terjadi tanpa banyak peringatan. Imbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjadi dasar kuat bagi pemerintah daerah dan BKSDA untuk memperketat akses ke kawasan pesisir.

Kebijakan ini juga sejalan dengan Surat Edaran Gubernur Bengkulu tentang mitigasi bencana hidrometeorologi. Pemerintah daerah tak ingin mengulang kasus kecelakaan wisata bahari yang kerap terjadi di berbagai daerah setiap musim liburan. “Lebih baik mencegah daripada menyesal,” menjadi semangat yang diusung dalam penutupan ini.

Baca Juga :  Pemkot Bengkulu Siapkan Gazebo di Pulau Tikus, Pariwisata Laut Mulai Digarap

Meski ditutup untuk kegiatan wisata umum, BKSDA menegaskan bahwa kawasan konservasi tidak sepenuhnya steril dari aktivitas manusia. Kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan tetap diizinkan, dengan syarat mengantongi izin resmi. “Konservasi bukan berarti menutup akses total, tetapi mengatur pemanfaatan agar tetap bertanggung jawab,” kata Himawan.

Respons masyarakat pun beragam. Sebagian pelaku usaha wisata mengaku khawatir dengan dampak ekonomi jangka pendek, terutama bagi pedagang kecil dan penyedia jasa di sekitar pantai. Libur akhir tahun biasanya menjadi periode panen bagi mereka. Namun, di sisi lain, banyak pihak memahami bahwa keselamatan pengunjung dan kelestarian alam adalah investasi jangka panjang yang nilainya jauh lebih besar.

Untuk memastikan kebijakan ini berjalan efektif, BKSDA Bengkulu menggandeng sejumlah lembaga terkait, seperti Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bengkulu. Koordinasi lintas instansi dilakukan untuk pengawasan lapangan, penyampaian informasi ke masyarakat, serta antisipasi jika terjadi kondisi darurat di luar kawasan yang ditutup.

Berita Terkait

Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat
HIPKA Bengkulu Dorong Lahirnya Pengusaha Muda, Perkuat Kolaborasi Untuk Kemajuan Bengkulu 
Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah. HIPKA Gelar Forum Bisnis dan Pelantikan Pengurus Baru
Bengkulu Kejar Lonjakan Produksi Beras, 8.214 Hektar Sawah Masuk Program Pertanian Modern
Pemkot, Polda dan REI Gotong Royong Bangun Rumah Guru Ngaji Korban Kebakaran
Destita Khairilisani: Sekolah Rakyat Kaur Wujud Pemerataan Pendidikan dan Pembentukan Karakter
164 ASN Dilantik Herwan Antoni Ingatkan ASN Bengkulu Tinggalkan Budaya “Ngopi dan Tiktokan” di Jam Kerja
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 18:59 WIB

HIPKA Bengkulu Dorong Lahirnya Pengusaha Muda, Perkuat Kolaborasi Untuk Kemajuan Bengkulu 

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:56 WIB

Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas

Kamis, 30 Juli 2026 - 17:09 WIB

Bengkulu Kejar Lonjakan Produksi Beras, 8.214 Hektar Sawah Masuk Program Pertanian Modern

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:00 WIB

Pemkot, Polda dan REI Gotong Royong Bangun Rumah Guru Ngaji Korban Kebakaran

Berita Terbaru