Konflik Wilayah Adat Bengkulu Capai 202,89 Ribu Hektare, Negara Dinilai Abai

- Jurnalis

Senin, 29 Desember 2025 - 18:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Konflik wilayah adat di Bengkulu mencapai 202 ribu hektare sepanjang 2025. AMAN menilai negara abai dan mendesak pengakuan hak masyarakat adat.

Konflik wilayah adat di Bengkulu mencapai 202 ribu hektare sepanjang 2025. AMAN menilai negara abai dan mendesak pengakuan hak masyarakat adat.

BENGKULUBAROMETER – Konflik lahan antara masyarakat adat dan negara di Provinsi Bengkulu kian mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, konflik wilayah adat tercatat mencapai 202,89 ribu hektare, melibatkan kawasan hutan negara, pertambangan, dan perkebunan. Data ini disampaikan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Bengkulu.

Ketua AMAN Bengkulu, Fahmi Arisandi, menyebut konflik paling besar terjadi dengan kawasan hutan negara. Luasannya mencapai 143.108 hektare. Sementara konflik dengan sektor pertambangan mencapai 38,93 ribu hektare, dan sektor perkebunan 20,86 ribu hektare.

“Konflik ini menyebar hampir di seluruh Bengkulu. Ada 56 komunitas masyarakat adat yang saat ini hidup dalam bayang-bayang konflik,” ujar Fahmi, Senin (29/12/2025).

Menurut Fahmi, konflik ini bukan persoalan baru. Akar masalahnya terletak pada penetapan kawasan hutan oleh negara yang dilakukan tanpa melibatkan masyarakat adat yang telah lama tinggal dan mengelola wilayah tersebut secara turun-temurun

Baca Juga :  Kasus “Paman Penakluk Naga” Makin Panas, Usai Dugaan Penggelapan Rp4,7 Miliar Kini Dilaporkan Istri karena Perselingkuhann ke Polda

Ia mencontohkan konflik yang dialami komunitas adat Sungai Lisai di Kabupaten Lebong. Komunitas ini telah bermukim jauh sebelum negara menetapkan wilayah mereka sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

“Bayangkan, dapur, ruang tamu, bahkan kamar tidur warga dianggap kawasan taman nasional. Mereka seperti hidup menumpang di tanah sendiri,” kata Fahmi.

Tak hanya kehilangan kepastian ruang hidup, warga Sungai Lisai juga kesulitan mengakses layanan dasar. Jalan belum memadai, fasilitas kesehatan jauh, dan jika ada warga sakit, mereka harus ditandu berjam-jam menuju pusat layanan kesehatan terdekat di Kecamatan Pinang Belapis.

Baca Juga :  Mantan Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi Ditahan Kejati, Diduga Terima Gartifikasi IUP PT RSM

Situasi ini dinilai AMAN sebagai potret kegagalan negara melindungi masyarakat adat. Padahal, komunitas adat Sungai Lisai dikenal menjaga hutan dengan kearifan lokal, termasuk menanam padi Riun yang menjadi amanah leluhur.

Fahmi menegaskan, konflik wilayah adat seharusnya bisa dicegah jika sejak awal negara mengakui keberadaan masyarakat adat.

“Mereka bukan perambah. Mereka penjaga hutan yang sesungguhnya,” tegasnya.

Memasuki 2026, AMAN mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk serius menyelesaikan konflik agraria. Terlebih, secara nasional negara telah berkomitmen mengembalikan 1,4 juta hektare hutan adat kepada masyarakat adat.

“Pengakuan dan perlindungan masyarakat adat adalah amanah konstitusi. Jangan tunggu konflik membesar baru bertindak,” pungkas Fahmi.

Penulis : Windi Junius

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Dapat Bantuan Combine Harvester, Biaya Panen Padi di Mukomuko Berpeluang Turun Rp2,3 Juta per Hektare
Pajak Pembalut Perempuan Masuk dalam Tuntutan Demo Mahasiswa di DPRD Bengkulu
Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu
MA Batalkan Vonis 2,5 Tahun, Ahmad Kanedi Bebas dari Dakwaan Korupsi Mega Mall Bengkulu
KSOP Pulau Baai Diduga Tak Jalankan Kewajiban Pandu-Tunda, Kerugian Negara Ditaksir Rp10,5 Miliar
Perkuat Perlindungan Anak, Pemkot Bengkulu Jalin Kerja Sama dengan Polresta
Jalan di Kaur Tempat Bumil Ditandu Saat Keguguran Akhirnya Diaspal
Masih Banyak Pekerja Belum Terlindungi, BPJS Ketenagakerjaan Bengkulu Dorong Perluasan Peserta
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 17:43 WIB

Dapat Bantuan Combine Harvester, Biaya Panen Padi di Mukomuko Berpeluang Turun Rp2,3 Juta per Hektare

Rabu, 4 November 2026 - 16:35 WIB

Pajak Pembalut Perempuan Masuk dalam Tuntutan Demo Mahasiswa di DPRD Bengkulu

Rabu, 4 November 2026 - 13:13 WIB

Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu

Selasa, 3 November 2026 - 22:39 WIB

MA Batalkan Vonis 2,5 Tahun, Ahmad Kanedi Bebas dari Dakwaan Korupsi Mega Mall Bengkulu

Selasa, 3 November 2026 - 17:28 WIB

Perkuat Perlindungan Anak, Pemkot Bengkulu Jalin Kerja Sama dengan Polresta

Berita Terbaru

Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu tidak memperpanjang kontrak enam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.

Bengkulu

Pemkot Bengkulu Tak Perpanjang Kontrak 6 PPPK Paruh Waktu

Rabu, 4 Nov 2026 - 13:13 WIB