BENGKULUBAROMETER – Lapangan Pesantren Pancasila di Kelurahan Jembatan Kecil berubah menjadi lautan manusia, Kamis (11/12). Ratusan warga, pelajar, tenaga medis, dan aparat TNI berpadu dalam hiruk-pikuk ala kondisi darurat. Ambulans datang silih berganti, membawa “korban luka” yang langsung ditangani tim medis Korem 041/Gamas sebelum dirujuk ke Rumah Sakit DKT.
Namun suasana genting itu bukan bencana sesungguhnya. Korem 041/Gamas tengah menggelar simulasi penanggulangan bencana untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Bengkulu menghadapi potensi megathrust dan siklon yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Februari 2026.
Danrem 041/Gamas, Brigjen TNI Jatmiko Aryanto, SE, M.Han, menjelaskan bahwa latihan ini merupakan lanjutan dari gelar pasukan yang dilakukan pada pekan sebelumnya. Hari pertama latihan digelar di kawasan Danau Dendam Tak Sudah dengan skenario banjir bandang dan evakuasi korban tenggelam. Hari kedua berfokus pada penanganan korban, pendirian posko darurat, hingga distribusi bantuan makanan di lokasi pengungsian.
“Simulasi ini dilakukan selama dua hari, dari pertolongan korban tenggelam hingga tanah longsor, termasuk penanganan korban di pos kesehatan dan pemberian makanan kepada masyarakat di lokasi pengungsian,” ujar Danrem.
Lebih dari ratusan pelajar dan warga dilibatkan secara langsung. Mereka tidak hanya menjadi pengamat, namun juga berperan sebagai korban, pengungsi, atau relawan sehingga suasana benar-benar menyerupai kondisi krisis sebenarnya. Tak heran, dari luar kegiatan ini tampak seperti operasi penyelamatan sungguhan.
Simulasi ini bukan tanpa alasan. Menurut BMKG, mulai November 2025 hingga Februari 2026, wilayah Indonesia bagian selatan—termasuk Bengkulu—berpotensi mengalami ancaman megathrust dan siklon tropis. Ketiga provinsi tetangga di Sumatra, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, juga tengah mengalami bencana beruntun.
“Artinya, kerawanan bencana sangat dimungkinkan terjadi di wilayah Bengkulu. Karena itu, seluruh pasukan dan unsur terkait harus benar-benar siap,” tegas Brigjen Jatmiko.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan simulasi tidak hanya dilakukan di tingkat provinsi. Seluruh Kodim di sembilan kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu dijadwalkan menggelar latihan serupa secara serentak. Ke depan, kegiatan ini akan berlangsung rutin dua minggu sekali dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Kegiatan ini akan terus kita lakukan secara berkala. Kita bekerja sama dengan BPBD untuk memastikan kesiapan semua pihak jika bencana benar-benar terjadi,” katanya.
Meski simulasi berjalan lancar, Danrem mengakui masih ada sejumlah kekurangan penting dalam kesiapsiagaan peralatan. Menurutnya, korem dan jajaran masih memerlukan tambahan Handy Talkie (HT), perahu evakuasi, dan sejumlah ambulans untuk memperkuat lini komando dan mobilisasi pasukan ketika bencana melanda.
“Dari kegiatan ini kita masih ada kekurangan peralatan seperti HT, perahu, serta ambulans. Tapi kita tetap optimistis bahwa pasukan akan bekerja maksimal dengan kondisi yang ada,” ungkapnya.
Ia menambahkan, hampir semua personel sudah menjalani latihan evakuasi menggunakan ambulans sejak sehari sebelumnya. Lapangan Pesantren Pancasila dipilih sebagai titik pengungsian utama dengan pertimbangan akses yang mudah serta tersedianya area luas untuk tenda-tenda logistik dan distribusi makanan.
Kegiatan simulasi penanggulangan bencana Bengkulu ini tidak hanya menitikberatkan pada latihan teknis militer dan medis, tetapi juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat. Warga yang terlibat langsung dapat melihat secara nyata bagaimana prosedur evakuasi, cara mendapatkan pertolongan pertama, serta bagaimana pengungsian dikelola ketika bencana terjadi.
“Warga harus tahu apa yang harus dilakukan saat bencana. Karena bencana datang tanpa bisa ditebak,” tambah Danrem.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









