BENGKULUBAROMETER – Bantuan alat penerangan tenaga surya atau solar cell yang disalurkan Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) menjadi secercah harapan baru bagi warga korban bencana alam di Provinsi Aceh. Di tengah keterbatasan listrik dan rusaknya infrastruktur, bantuan ini membawa kembali cahaya bagi masyarakat di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Ketua Umum HPMPI, Steven, mengatakan bantuan tersebut disalurkan sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap warga yang masih berjuang bangkit pascabencana. Meski status daerah telah beralih dari darurat menuju pemulihan, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih hidup dalam keterbatasan, terutama akses listrik.
“Perjalanan kami menuju lokasi terdampak sangat panjang dan melelahkan. Dari Bengkulu kami berangkat, singgah di Medan untuk mengambil tambahan solar cell, lalu melanjutkan perjalanan darat selama belasan jam menuju Bener Meriah,” ujar Steven, Sabtu (17/1/2026).
Menurutnya, perjalanan dari Medan ke ibu kota Kabupaten Bener Meriah memakan waktu hingga 14 jam. Namun tantangan belum selesai. Tim HPMPI masih harus melanjutkan perjalanan sekitar empat jam lagi untuk mencapai titik penyaluran bantuan di wilayah pedalaman yang terdampak cukup parah.
Sepanjang perjalanan, tim menyaksikan langsung sisa-sisa bencana. Rumah warga terlihat rusak, fasilitas umum belum sepenuhnya pulih, dan sebagian wilayah masih gelap gulita saat malam hari. Kondisi inilah yang mendorong HPMPI memilih solar cell sebagai bantuan utama.
“Listrik masih menjadi persoalan besar. Tanpa penerangan, aktivitas warga sangat terbatas, terutama di malam hari. Anak-anak kesulitan belajar, dan warga merasa tidak aman,” jelas Steven.
Sebanyak 250 unit solar cell disalurkan kepada masyarakat. Bantuan ini tidak hanya diberikan begitu saja. Tim HPMPI juga melakukan edukasi langsung tentang cara penggunaan dan perawatan alat agar dapat digunakan dalam jangka panjang.
Steven menegaskan, pendekatan edukatif menjadi bagian penting dari misi kemanusiaan HPMPI. Masyarakat diajak memahami bagaimana memaksimalkan energi surya sebagai sumber penerangan mandiri yang ramah lingkungan.
“Bagi kami, bantuan bukan sekadar menyerahkan barang. Kami ingin masyarakat benar-benar bisa memanfaatkan dan merawatnya, sehingga manfaatnya berkelanjutan,” katanya.
Warga penerima bantuan menyambut antusias kehadiran solar cell tersebut. Bagi mereka, cahaya lampu di malam hari bukan hanya soal penerangan, tetapi juga simbol harapan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









