DESA merupakan tempat yang tiada habis untuk dikisahkan dengan cerita-cerita yang inspiratif, memilukan hingga membanggakan. Ada banyak cerita kemandirian ekonomi, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pemberdayaan pendidikan, wisata, kuliner, adat, budaya, hingga perjuangan bangkit dari kemiskinan yang layak untuk diangkat ke dalam laporan jurnalistik.
Cerita dari desa yang dikemas dalam bentuk laporan jurnalistik kemudian memanfaatkan media social dan media massa, dikemas dengan apik dan menarik tentu berguna dalam upaya menentukan arah kebijakan pembangunan di perdesaan. Ekspose dalam bentuk laporan jurnalistik apabila dibagikan pada khalayak akan berguna bagi kebijakan pembangunan nasional termasuk memerangi kemiskinan.
Pada tulisan ini penulis akan menyuguhkan studi kasus keberhasilan para jurnalis aktif di Bengkulu dalam mengadvokasi sebuah desa terpencil yakni Desa Sungai Lisai di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.
Dikutip dari Kompas.com, Desa Sungai Lisai, sudah ada sejak ratusan tahun lalu di tengah belantara jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasca Indonesia merdeka Desa Sungai Lisai masuk dalam zona Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS).
Secara hukum wilayah taman nasional tak diizinkan ada aktivitas pembangunan, sementara warga Desa Sungai Lisai membutuhkan akses jalan menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lebong, Muara Aman, terkait kepentingan ekonomi, sosial dan kesehatan.
Persoalan menjadi rumit pada tahun 2012 tatkala seorang bocah dari desa itu meninggal dunia karena lambannya penanganan kesehatan akibat akses jalan yang buruk, warga harus menggotong bocah tersebut melewati hutan rimba selama empat jam, saat tiba di rumah sakit bocah tersebut meninggal dunia.
Kepala Desa Sungai Lisai, Hajron, mengeluhkan, selama ini dirinya dan warga desa tidak memiliki akses terhadap jurnalis atau wartawan sehingga banyak persoalan warga tidak dapat tersampaikan dengan baik pada pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat. Ia merasa beruntung saat ada beberapa jurnalis yang kebetulan singgah ke desanya lalu terjadilah komunikasi dan tersampaikan semua keluhan desa.
Meninggalnya seorang anak serta persoalan lain di Sungai Lisai, menjadikan Balai Taman Nasional Kerinci Sebelat (BTNKS), mengeluarkan kebijakan memberikan akses jalan bencana untuk Desa Sungai Lisai, setelah diberitakan oleh media local dan nasional di Bengkulu.
Ketimpangan Berita
Contoh kasus di Desa Sungai Lisai merupakan potret kecil kelemahan media massa arus utama di Indonesia, media massa arus utama sering kali mengalami hambatan untuk menyentuh seluruh desa-desa di Indonesia.
Bila cerita itu hanya disandarkan pada media massa arus utama maka dapat dipastikan ketimpangan cerita kota dan desa terus terjadi seperti saat ini. Ketimpangan cerita kota dan desa itu menghasilkan media massa seperti menara gading yang terpisah pada kepentingan masyarakat. Media massa menjadi menara gading sosial, yang egois menentukan kemauan sendiri, termasuk urusan etika. Masyarakat tidak diberi ruang yang layak untuk berkontribusi memantau media.
Ketimpangan ini melahirkan kritik terhadap pers dan media massa. Pers hari ini cenderung menjadi corong kaum elit pemilik media misalnya, pemilik modal, mengakibatkan bias kepentingan alias tidak begitu peduli dengan persoalan mendasar masyarakat. Bias kepentingan media ini terlihat dalam Siregar, dkk (2014). Berdasarkan riset serta hasil penelusuran data, ditemukan bahwa berita tentang pemilik media cenderung bias kepentingan pemilik dan/atau kelompok afiliasinya. Kelompok afiliasi ini bisa berhubungan dengan pemodal, pejabat, dan lainnya yang lebih memiliki akses terbuka pada media massa.
Pers media arus utama memiliki persoalan, kepentingan pemodal lebih mengutama dari pada kepentingan publik. Kepentingan publik menjadi tersingkirkan oleh kepentingan modal. Media massa memiliki dua wajah.
Ashadi Siregar dalam tulisan Alfarabi (2010) menyebutkan media massa memiliki dua wajah sebagai institusi bisnis dan institusi sosial. Kedua sifat ini membawa implikasi dalam orientasi keberadaannya.
Sebagai institusi bisnis media massa sama halnya dengan korporasi, yaitu menjalankan operasinya dengan orientasinya ke dalam (inward looking), untuk kepentingan sendiri. Sedang menjalankan institusi sebagai institusi sosial, berorientasi keluar (outward looking) untuk kepentingan masyarakat.
Pada kondisi ini menjadikan pers nasional saat ini seperti gamang dalam menjalankan kedua peran secara ideal.
Jurnalisme Warga Pembahasan Perdebatan mencari jalan keluar antara kepentingan antara pers yang membela pemodal (kelompok mapan) atau khalayak luas terus terjadi di kalangan ilmuwan sosial.
Muncul sejumlah gagasan di tengah perdebatan tersebut salah satunya gagasan yakni jurnalisme warga. Jurnalisme warga berarti warga yang aktif mengumpulkan informasi, memverifikasi, menulis dan kemudian menyebarluaskannya; baik melalui blog personal, portal jurnalisme warga, media komunitas, maupun media arus utama yang menyediakan kanal khusus bagi jurnalis warga.
Sejatinya, jurnalisme warga bukan barang baru di Indonesia. Radio telah memulainya, jauh sebelum internet banyak diakses masyarakat. Jurnalisme warga memiliki pengertian yang berbeda dengan jurnalisme publik. Jika jurnalisme publik dilakukan oleh pekerja jurnalistik profesional, maka jurnalisme warga dilakukan oleh warga yang awam dengan kerja-kerja jurnalistik. Akan tetapi, keduanya memiliki filosofi yang sama yaitu pemberdayaan masyarakat.
Jurnalisme warga lebih bertujuan untuk melibatkan warga secara langsung dalam produksi berita. Jurnalisme warga pertama kali dimunculkan di Amerika Serikat sekitar tahun 1998 gerakan ini muncul atas krisis kepercayaan terhadap media-media arus utama dan kecewa terhadap kondisi politik pada masa itu. Inti dari jurnalisme warga ialah masyarakat berperan sebagai objek sekaligus subjek berita. Perdebatan juga muncul terkait apakah produk jurnalisme warga adalah karya jurnalistik. Menurut hemat penulis bila itu dilakukan dengan standar etika pers yang ketat hal itu dapat teratasi.
Jurnalisme warga dapat diadopsi dan dimodifikasi sebagai jalan tengah untuk menjadikan jurnalisme yang berkeadilan bagi warga desa, konsep ini dapat dikatakan sebagai jurnalisme desa. Membangun desa yang memiliki seperangkat lengkap organisasi media massa dalam format jurnalisme desa. Pengalaman di Bengkulu Jurnalisme desa menjadi sebuah peluang juga tantangan di Indonesia untuk diadopsi pada desa-desa di Indonesia.
Pengetahuan menyoal pers, media massa, sumber daya manusia, perangkat lunak, tata kelola keuangan hingga tugas keredaksian harus dikenalkan pada masyarakat desa terutama kaum muda dalam organisasi karang taruna.
Kolaborasi Jurnalisme Profesional
Membangun jurnalisme desa tentu saja harus dilakukan secara kolaborasi antara pemerintah desa dengan motor penggeraknya yakni organisasi Karang Taruna kemudian dikuatkan melalui Dana Desa (DD) dibantu oleh jurnalis profesional atau lembaga-lembaga kewartawanan seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuawan Wartawan Indonesia (PWI) dan lainnya sebagai pendamping.
Pelatihan-pelatihan jurnalistik untuk pemuda dan karang taruna harus menjadi kegiatan aktif. Selanjutnya apabila pelatihan sudah maksimal dilakukan maka desa harus memiliki website media desa. Website ini cukup membantu perekonomian masyarakat dengan memublikasikan potensi wisata, kuliner, budaya dan lainnya.
Saat media desa sudah hadir baik dalam bentuk daring atau cetak maka tata kelola manajemen yang didapatkan dalam pelatihan-pelatihan sebelumnya perlahan mulai diterapkan. Ada banyak pelatihan jurnalisme untuk masyarakat yang digelar namun berakhir dengan hasil yang kurang maksimal. Secara umum ini disebabkan lemahnya keberpihakan pemerintah desa untuk membangun media desa. Ketiadaan sumber dana untuk media desa salah satu penyebabnya. Sesungguhnya hal ini dapat dicari jalan keluarnya dengan donasi warga agar media desa dapat bersikap mandiri dan independen.
Penyebab berikutnya adalah pelatihan-pelatihan kejurnalistikan tidak dilakukan secara bertahap dan konsisten. Padahal rangkaian pelatihan tersebut harus memiliki target dan tolok ukur ketat. Penyebab lainnya adalah rendahnya minat warga. Terkait rendahnya minat warga ini dapat disiasati dengan sejumlah stimulus seperti membuat lomba jurnalisme warga, lomba fotografi khusus warga desa dan banyak pendekatan lainnya.
Lahirnya media desa selain mengabarkan soal potensi desa dalam bentuk berita juga dapat dikolaborasikan dengan sistem jual beli hasil pertanian, wirausaha termasuk promosi wisata desa. Media desa juga dapat mengembangkan diri menjadi beragam bentuk layanan jasa dan kebutuhan masyarakat lainnya.
Penulis merupakan Siswa Pendidikan Kepemimpinan Polri Angkatan 67 tahun 2026.









