BENGKULUBAROMETER – Aktivitas belajar di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu belum sepenuhnya pulih setelah kebakaran hebat yang melanda sekolah tersebut beberapa waktu lalu. Delapan bangunan yang terdiri atas tujuh ruang kelas dan satu gudang hangus terbakar sehingga proses belajar-mengajar masih berlangsung dalam keterbatasan.
Menghadapi kondisi itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bengkulu mengajukan proposal revitalisasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Langkah tersebut dilakukan agar fasilitas pendidikan yang rusak dapat segera dibangun kembali dan kegiatan belajar siswa kembali normal.
Kepala Disdikbud Kota Bengkulu, Ilham Putra, mengatakan proposal rehabilitasi telah disampaikan kepada pemerintah pusat. Menurutnya, kebutuhan anggaran untuk memulihkan seluruh bangunan yang terbakar mencapai sekitar Rp2 miliar.
“Kami sudah mengajukan proposal kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk revitalisasi delapan lokal yang terbakar di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu,” kata Ilham, Senin (27/7/2026).
Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, kata Ilham, tingkat kerusakan yang ditimbulkan kebakaran cukup besar sehingga membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
“Jika dihitung dari tingkat kerusakan dan kerugian yang dialami, kebutuhan anggaran untuk revitalisasi diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar,” ujarnya.
Ia berharap Kemendikdasmen dapat memberikan prioritas terhadap usulan tersebut. Menurutnya, percepatan pembangunan kembali ruang kelas sangat penting agar para siswa tidak terlalu lama menjalani proses belajar dalam kondisi darurat.
“Kami sangat berharap revitalisasi ini bisa segera dimulai. Bantuan ini penting agar kegiatan belajar-mengajar kembali normal dan para siswa mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak,” kata Ilham.
Sambil menunggu keputusan dari pemerintah pusat, Disdikbud Kota Bengkulu memastikan terus mengawal proses pengajuan bantuan tersebut. Di sisi lain, pihak sekolah tetap menyiapkan skema pembelajaran sementara agar hak belajar para siswa tetap terpenuhi meski sarana pendidikan masih terbatas.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









