Kejati Tunjuk 15 JPU Siap Tuntut 9 Tersangka Kasus Bank Raya

- Jurnalis

Jumat, 12 Desember 2025 - 22:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BENGKULUBAROMETER – Kejaksaan Tinggi Bengkulu menunjuk 15 Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menuntut pertanngungjjawaban 9 tersagka perkara dugaan korupsi fasilitas kredit Bank Raya Indonesia kepada PT Desaria Plantation Mining (PT DPM) di Pengadilan dalam waktu dekat. Hal dipastikan setelah berkas dinyatakan lengkap atau P21 oleh Jaksa Peneliti, sehingga pada Kamis malam 11 Desember 2025, penyidik Tindak Pidana Khusus melakukan pelimpahan berkas, barang bukti, dan sembilan tersangka ke Jaksa Penuntut Umum.

Kasus ini bermula dari fasilitas kredit senilai Rp 119 miliar yang diberikan Bank Raya Indonesia, dulu dikenal sebagai BRI Agr kepada PT DPM. Kredit tersebut sejatinya digunakan untuk pembiayaan peremajaan perkebunan sawit dan kebutuhan operasional. Namun penyidik menemukan pola penggunaan dana yang menyimpang sejak tahap awal.

Dari pemeriksaan dokumen, penyidik mendapati bahwa aliran dana tidak seluruhnya dipakai sesuai tujuan kredit. Dana malah mengalir ke pihak dan kegiatan lain yang tidak masuk dalam struktur pembiayaan. Proses analisis kredit juga dinilai cacat: syarat teknis tidak seluruhnya terpenuhi, tetapi tetap direkomendasikan dan disetujui.

Baca Juga :  Raflesia AI Diresmikan, Jaksa Bengkulu Kini Bisa Tanya KUHP-KUHAP Lewat Aplikasi

Pencairan tahap awal yang mencapai Rp 48 miliar disebut sebagai fase paling krusial. Dalam proses tersebut, sejumlah pejabat internal perbankan diduga ikut berperan. Penyidik menyebut adanya indikasi kerja sama antara pejabat bank dan pihak pemohon kredit sehingga fungsi pengawasan internal melemah.

Penyidikan berjalan berlapis. Mulai dari pengumpulan dokumen, audit internal, hingga penggeledahan dan penyitaan aset berupa sertifikat rumah serta dokumen penting lain. Penetapan tersangka dilakukan bertahap, dimulai dari unsur perbankan, kemudian merambah ke pihak korporasi penerima kredit.

Penetapan dua tersangka tambahan, yakni Raharjo Sapto Aji Sumargo dan Nopita Sumargo dari PT DPM, menjadi titik yang memperluas konstruksi perkara. Mereka diduga menikmati dan mengendalikan alokasi dana tidak sesuai peruntukan, meski tertulis dalam akad kredit. Total sembilan tersangka dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, serta pasal penyertaan dalam KUHP.

Baca Juga :  Pelatihan 12 Calon Advokat: Perebutan Integritas Ditengah Krisis Moral Penegak Hukum

Kepala Seksi Penuntutan Kejati Bengkulu, Arief Wirawan, menyampaikan bahwa lembaganya telah menugaskan 15 jaksa dari Kejati Bengkulu dan Kejari Kaur.

“Selain para tersangka, kita menerima dokumen dan sertifikat rumah sebagai barang bukti. Sampai hari ini belum ada pengembalian kerugian negara,” ujar Arief.

Kerugian negara yang dihitung tidak hanya berupa kerugian ekonomi, tetapi juga kerusakan lingkungan yang totalnya lebih dari Rp 1 triliun.

Sementara itu Ana Tasia Pase, kuasa hukum enam tersangka, menyebut pelimpahan berjalan tanpa hambatan. Menurut dia, barang bukti yang diserahkan penyidik sebagian besar berupa dokumen.

“Pelimpahan lancar. Tidak lama lagi kasusnya disidangkan. Untuk barang bukti berupa dokumen karena memang belum ada pengembalian kerugian,” ujarnya.

Kasus ini menjadi salah satu perkara kredit perbankan terbesar yang pernah ditangani Kejati Bengkulu, baik dari jumlah tersangka maupun konstruksi kerugiannya. Masyarakat menanti bagaimana pengadilan akan menilai peran tiap pihak dalam skema kredit yang berakhir pada dugaan korupsi besar ini.

Berita Terkait

Jurnalis Bengkulu Gelar Aksi Solidaritas, Desak Basarnas Perpanjang Pencarian Lima Wartawan Hilang di Selat Sunda
Ditanya Soal Study Tour, Kepsek SMKN 1 Bengkulu Jawab “No, No Way”, Dikbud Siapkan Hasil Pemeriksaan
Korem 041/Gamas Edukasi Siswa SD di Kota Bengkulu Lewat Pengenalan Tokoh Pahlawan Nasional
Gaji ASN Dialihkan ke Himbara, Bank Daerah Khawatir Ekonomi Daerah Terdampak
Persoalan SMK 1 Kota Bengkulu, Sekda Provinsi Bengkulu Tegaskan Larangan Study Tour Sekolah Masih Berlaku
Abad Kedua NU: Dari Kekuatan Massa Menuju Kedaulatan Ekonomi
Bank Bengkulu Paparkan Capaian Positif, Dividen dan Kontribusi Pajak Terus Meningkat
Relawan MBG Ditemukan Tewas di Sungai, Polisi Temukan Dugaan Tanda Kekerasan
Berita ini 88 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:50 WIB

Jurnalis Bengkulu Gelar Aksi Solidaritas, Desak Basarnas Perpanjang Pencarian Lima Wartawan Hilang di Selat Sunda

Rabu, 16 September 2026 - 20:34 WIB

Ditanya Soal Study Tour, Kepsek SMKN 1 Bengkulu Jawab “No, No Way”, Dikbud Siapkan Hasil Pemeriksaan

Rabu, 16 September 2026 - 13:47 WIB

Korem 041/Gamas Edukasi Siswa SD di Kota Bengkulu Lewat Pengenalan Tokoh Pahlawan Nasional

Selasa, 15 September 2026 - 18:31 WIB

Gaji ASN Dialihkan ke Himbara, Bank Daerah Khawatir Ekonomi Daerah Terdampak

Selasa, 15 September 2026 - 18:18 WIB

Persoalan SMK 1 Kota Bengkulu, Sekda Provinsi Bengkulu Tegaskan Larangan Study Tour Sekolah Masih Berlaku

Berita Terbaru