Oleh : Riswan
OPINI EKONOMI
Di Bengkulu, Helmi Hasan kini seperti bertransformasi menjadi “Ultraman Bertopi Kopyah”,bukan untuk melawan monster luar angkasa, tetapi untuk menaklukkan jalan rusak dan jembatan goyah. Pada 2025, Helmi menggelontorkan Rp 620 miliar untuk memperbaiki jalan provinsi di sembilan kabupaten/kota. Komitmen ini bukan sekadar pencitraan hasil efisiensi APBD.
Dari DBH Rp 179,67 miliar, Helmi menegaskan prioritasnya jalan, jembatan, dan BPJS gratis untuk rakyat. Di Bengkulu Utara, ia memasang target berani, menuntaskan pembangunan infrastruktur dalam tiga tahun dengan alokasi tahunan minimal Rp 600 miliar.
Proyek strategis juga berjalan. Di Seluma, “titik nol” pembangunan jalan Pasar Talo–Kembang Mumpo dan Simpang Ngalam–Pasar Ngalam mulai dikerjakan tahun 2025 dengan dana Rp 82 miliar, lengkap dengan irigasi dan fasilitas pendidikan. Helmi memastikan tak ada “anak tiri”: semua kabupaten mendapat porsi sesuai tingkat kerusakan.
Pembangunan masif ini memunculkan multiplier effect. Jalan mulus menurunkan biaya distribusi, mempercepat pergerakan ekonomi desa-kota, dan mengangkat UMKM. Penciptaan lapangan kerja konstruksi meningkatkan konsumsi masyarakat. Efisiensi belanja, pemangkasan perjalanan dinas dan pos tidak prioritas, menciptakan manajemen fiskal yang lebih sehat dan dipercaya publik.
Yang jarang disorot, Helmi juga menggeber hilirisasi ekonomi Bengkulu. Produk kopi lokal didorong masuk pasar roasted premium dan drip bag, meningkatkan nilai tambah petani. Sektor sawit dan karet diarahkan ke industri pengolahan, bukan lagi menjual bahan mentah.
Dengan kombinasi jalan mulus dan produk bernilai tinggi, Helmi Hasan menunjukkan bahwa Ultraman Berkopyah bukan hanya jago menembakkan cahaya, tetapi juga menembakkan kebijakan hilirisasi yang membuat Bengkulu makin kompetitif.









