BENGKULUBAROMETER – Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bengkulu memastikan rangkaian ritual sakral Ambik Tanah pada perayaan Tabut 2026 akan dilaksanakan lebih dahulu sebelum pembukaan resmi Festival Tabut.
Ketua KKT Bengkulu, Achmad Syafril, menjelaskan pola pelaksanaan tahun ini berbeda dibandingkan kebiasaan sebelumnya. Jika pada tahun-tahun terdahulu pembukaan festival dan ritual Ambik Tanah berlangsung berdekatan, kini ritual adat tersebut akan didahulukan, sementara pembukaan Festival Tabut digelar sehari setelahnya.
“ Tahun sebelumnya memang berbarengan, tapi tahun ini kami duluan untuk dibuka, baru sehari kemudian itu Festival Tabut,” kara Achmad, Jumat (05/06/2026).
Menurutnya, perubahan jadwal tersebut juga telah diterapkan pada tahun lalu dan kembali dilakukan pada pelaksanaan tahun ini. Dengan demikian, prosesi Ambik Tanah menjadi agenda pembuka rangkaian Tabut sebelum festival resmi dimulai.
“Jadi kami acara ngambil tanah dulu. Tahun lalu dan tahun ini berbeda. Tahun ini beda sehari. Berarti duluan kita ngambil tanah, besoknya baru Festival Tabut,” terangnya.
Achmad menambahkan, prosesi Ambik Tanah direncanakan berlangsung pada malam 15 Muharram. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun ini KKT juga berencana melaksanakan tradisi pamit kepada Gubernur Bengkulu sebelum prosesi adat dilaksanakan.
“Direncanakan tahun ini pamit dengan Pak Gubernur. Tahun lalu kan tidak pakai pamit,” ungkapnya.
Untuk lokasi pelaksanaan ritual Ambik Tanah, KKT tetap mempertahankan tempat-tempat yang selama ini menjadi bagian dari tradisi Tabut, yakni di kawasan Nala, bawah Gerga, dan Tapak Paderi.
Ritual Ambik Tanah merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian perayaan Tabut di Bengkulu. Tradisi ini memiliki makna simbolis sebagai awal dimulainya seluruh prosesi Tabut yang telah menjadi warisan budaya masyarakat Bengkulu dan rutin digelar setiap tahun.
Disisi lain, Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Bengkulu, Alpha Halim, mengatakan selama ini masih ada anggapan bahwa Festival Tabut dan ritual KKT merupakan kegiatan yang berbeda. Padahal, keduanya berjalan beriringan dalam satu rangkaian agenda budaya tahunan Bengkulu.
“Pada prinsipnya kita serempak dengan KKT. KKT itu patokannya dari 1 Muharam sampai 10 Muharam. Jadi acara ritual itu kita barengkan dengan festival dan bazar pameran,” ujarnya.
Menurutnya, ritual budaya yang dijalankan KKT tetap berlangsung di lokasi-lokasi yang telah ditentukan sesuai tradisi. Mulai dari prosesi pengambilan tanah, cuci penja, menjara, tabut bersanding hingga tabut tebuang sebagai puncak acara.
Sementara itu, kegiatan festival, bazar, dan pameran akan dipusatkan di kawasan Sport Center Pantai Panjang dan berlangsung setiap hari selama pelaksanaan Tabut.
“Agendanya tidak terpisah. Hanya saja kegiatan ritual memang dilaksanakan di tempat-tempat tertentu sesuai tradisinya. Sedangkan festival dan bazar berada di lokasi yang sudah disiapkan pemerintah,” jelasnya.
Alpha juga menerangkan, konsep tersebut sengaja dipertahankan agar wisatawan yang datang tidak hanya menikmati hiburan dan bazar, tetapi juga dapat menyaksikan langsung kekayaan tradisi yang menjadi identitas budaya masyarakat Bengkulu.
Dengan penyelenggaraan yang berjalan bersamaan, Festival Tabut diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi juga sarana pelestarian budaya sekaligus penggerak sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
“Jadi festival dan ritual itu saling melengkapi. Ritual menjadi inti budaya yang dijaga KKT, sementara festival menjadi ruang bagi masyarakat dan pelaku UMKM untuk ikut merasakan dampak ekonomi dari perayaan Tabut,” tutup Alpha.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









