Kejati Bengkulu Siapkan Aturan Restorative Justice, Libatkan Akademisi dan Tokoh Masyarakat

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kejati Bengkulu menggelar FGD bersama akademisi dan tokoh masyarakat untuk menyusun konsep aturan restorative justice sebagai tindak lanjut penerapan KUHAP baru.

Kejati Bengkulu menggelar FGD bersama akademisi dan tokoh masyarakat untuk menyusun konsep aturan restorative justice sebagai tindak lanjut penerapan KUHAP baru.

BENGKULUBAROMETER – Kejaksaan Tinggi Bengkulu mulai menyusun langkah konkret untuk menghadirkan aturan yang lebih jelas terkait penerapan restorative justice atau keadilan restoratif di Bengkulu. Upaya tersebut diawali melalui Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan unsur kejaksaan, akademisi, dan tokoh masyarakat guna membahas mekanisme pelaksanaan keadilan restoratif yang belum diatur secara rinci dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kejati Bengkulu pada Kamis siang itu menghadirkan Direktur B pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung RI, Dr. Siswanto, serta Dekan Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, M. Yamani.

FGD tersebut menjadi ruang diskusi untuk menyatukan pandangan berbagai pihak terkait arah penerapan restorative justice di daerah. Kejati Bengkulu menilai keadilan restoratif merupakan salah satu pendekatan hukum yang semakin relevan karena tidak hanya berorientasi pada penghukuman pelaku, tetapi juga pemulihan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat.

Direktur B Jampidum Kejagung RI, Dr. Siswanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai KUHAP baru sekaligus menjaring berbagai masukan terkait penerapan restorative justice.

Baca Juga :  Wakil Wali Kota Jadi Korban Penipuan Turnamen Murai Nasional di Bengkulu

“Kegiatan ini untuk mengedukasi masyarakat terkait KUHAP baru, khususnya mengenai restorative justice yang memang belum diatur secara spesifik. Karena itu kami mengundang akademisi dan tokoh masyarakat untuk memberikan masukan agar nantinya dapat dirumuskan dalam regulasi daerah,” ujar Siswanto.

Menurutnya, keberhasilan penerapan keadilan restoratif tidak hanya bergantung pada aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat dan lembaga pendidikan agar konsep tersebut dapat diterapkan secara tepat.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu, Saiful Bahri Siregar, mengatakan bahwa pihaknya ingin memastikan penerapan restorative justice di Bengkulu memiliki dasar hukum yang jelas sehingga tidak menimbulkan perbedaan tafsir di lapangan.

Ia menegaskan bahwa FGD menjadi langkah awal dalam merancang konsep aturan yang nantinya dapat menjadi pedoman bagi seluruh pihak dalam menyelesaikan perkara tertentu melalui pendekatan keadilan restoratif.

“FGD ini menjadi langkah awal untuk menyusun konsep peraturan yang mengatur mekanisme restorative justice, sehingga penerapannya memiliki landasan yang jelas dan dapat menyesuaikan dengan kondisi masyarakat di Bengkulu,” kata Saiful Bahri Siregar.

Baca Juga :  Sidang Perdana Kasus Modus Jabatan Dirut Bank Bengkulu, Terdakwa Didakwa Rugikan Korban Rp550 Juta

Menurut Kajati, penyusunan aturan tersebut sangat penting karena KUHAP baru belum mengatur secara detail mekanisme restorative justice. Karena itu, diperlukan kajian dan masukan dari berbagai kalangan agar aturan yang disusun benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

Diskusi yang berlangsung cukup dinamis tersebut juga membahas berbagai tantangan dalam pelaksanaan keadilan restoratif, termasuk batasan perkara yang dapat diselesaikan melalui mekanisme tersebut serta peran masyarakat dalam proses pemulihan hubungan antara korban dan pelaku.

Kejati Bengkulu berharap hasil FGD dapat menjadi bahan penting dalam menyusun konsep regulasi yang lebih komprehensif. Dengan adanya aturan yang jelas, proses penegakan hukum dapat berjalan lebih efektif sekaligus memberikan ruang penyelesaian perkara yang lebih humanis.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya modernisasi sistem hukum pidana yang tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga memperhatikan aspek keadilan sosial dan pemulihan hubungan dalam masyarakat.

Melalui kolaborasi antara kejaksaan, akademisi, dan tokoh masyarakat, Bengkulu diharapkan dapat menjadi salah satu daerah yang memiliki model penerapan restorative justice yang efektif dan sesuai dengan karakteristik masyarakat lokal.

Berita Terkait

Ditanya Soal Study Tour, Kepsek SMKN 1 Bengkulu Jawab “No, No Way”, Dikbud Siapkan Hasil Pemeriksaan
Korem 041/Gamas Edukasi Siswa SD di Kota Bengkulu Lewat Pengenalan Tokoh Pahlawan Nasional
Gaji ASN Dialihkan ke Himbara, Bank Daerah Khawatir Ekonomi Daerah Terdampak
Persoalan SMK 1 Kota Bengkulu, Sekda Provinsi Bengkulu Tegaskan Larangan Study Tour Sekolah Masih Berlaku
Abad Kedua NU: Dari Kekuatan Massa Menuju Kedaulatan Ekonomi
Bank Bengkulu Paparkan Capaian Positif, Dividen dan Kontribusi Pajak Terus Meningkat
Relawan MBG Ditemukan Tewas di Sungai, Polisi Temukan Dugaan Tanda Kekerasan
SMKN 1 Bengkulu Nekat Study Banding, Dikbud Bengkulu Pastikan Sanksi Tegas
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 20:34 WIB

Ditanya Soal Study Tour, Kepsek SMKN 1 Bengkulu Jawab “No, No Way”, Dikbud Siapkan Hasil Pemeriksaan

Rabu, 16 September 2026 - 13:47 WIB

Korem 041/Gamas Edukasi Siswa SD di Kota Bengkulu Lewat Pengenalan Tokoh Pahlawan Nasional

Selasa, 15 September 2026 - 18:31 WIB

Gaji ASN Dialihkan ke Himbara, Bank Daerah Khawatir Ekonomi Daerah Terdampak

Selasa, 15 September 2026 - 18:18 WIB

Persoalan SMK 1 Kota Bengkulu, Sekda Provinsi Bengkulu Tegaskan Larangan Study Tour Sekolah Masih Berlaku

Senin, 14 September 2026 - 19:46 WIB

Abad Kedua NU: Dari Kekuatan Massa Menuju Kedaulatan Ekonomi

Berita Terbaru

Bengkulu

Abad Kedua NU: Dari Kekuatan Massa Menuju Kedaulatan Ekonomi

Senin, 14 Sep 2026 - 19:46 WIB