BENGKULUBAROMETER – Turnamen burung berkicau Murai Mania Goes to Bengkulu bertajuk Sedulur Murai Mania (SMM) yang semula digadang-gadang sebagai ajang nasional bergengsi, justru berakhir ricuh. Ratusan peserta dari berbagai provinsi kecewa setelah acara mendadak batal tanpa kejelasan. Lebih mengejutkan lagi, salah satu korban dalam peristiwa ini adalah Ronny Pebriyanto L. Tobing, Wakil Wali Kota Bengkulu.
Turnamen yang disebut-sebut diikuti peserta dari Palembang, Jambi, hingga daerah lain di Sumatera itu diduga kuat mengarah pada penipuan berkedok lomba burung kicau. Kerugian yang dialami para peserta tidak kecil. Total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, bahkan disebut mendekati Rp 500 juta.
Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, Ronny Tobing secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai kejadian ini bukan hanya merugikan peserta, tetapi juga mencoreng nama Bengkulu sebagai tuan rumah lomba nasional.
“Ini bikin malu. Pesertanya datang dari Palembang, Jambi, dan provinsi lain,” ujarnya dalam video yang beredar dengan nada kecewa.
Para peserta diketahui telah membayar biaya pendaftaran antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per burung. Nominal tersebut dianggap wajar karena lomba ini dipromosikan sebagai event nasional dengan hadiah besar. Namun, harapan itu pupus ketika acara mendadak dibatalkan tanpa penjelasan resmi dari panitia.
Wahyu, salah satu peserta yang datang dari luar daerah, mengaku sangat kecewa. Menurutnya, peserta telah mengeluarkan biaya besar, bukan hanya pendaftaran, tetapi juga transportasi dan penginapan.
“Kami sangat kecewa. Ini lomba nasional, biayanya 4 sampai 5 juta. Tapi begitu sampai, acaranya batal,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kehadiran pejabat daerah, termasuk Wakil Wali Kota Bengkulu, membuat peserta semakin yakin bahwa lomba tersebut resmi dan kredibel.
“Banyak pejabat ikut lomba ini, bang. Termasuk Pak Ronny Tobing,” ujarnya.
Hingga kini, panitia penyelenggara belum memberikan pernyataan resmi. Bahkan, sejumlah peserta mengaku panitia sulit dihubungi dan terkesan menghindar. Beredar pula informasi bahwa ketua panitia berinisial H-P dilarikan ke rumah sakit setelah diduga menenggak racun.
“Semua panitia kabur. Ketua panitia katanya di rumah sakit karena minum racun,” ungkap Wahyu.
Hadi, salah satu peserta yang melapor, membenarkan hal tersebut.
“Kasus ini sudah kami laporkan ke Polda Bengkulu. Sekarang ditangani Reskrimum,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa ketua panitia diketahui merupakan seorang ASN di Bengkulu Tengah, fakta yang membuat kasus ini semakin menjadi sorotan publik.
Penulis : Windi Junius
Editor : Redaksi









