BENGKULUBAROMETER – Upaya sederhana seorang anak untuk mencari ikan hias berujung duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Dafa Ibnu (11), pelajar sekolah dasar asal Kelurahan Panorama, Kota Bengkulu, ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di rawa bawah Jembatan Elevated, Kelurahan Dusun Besar, Senin 26 Januari 2026.
Peristiwa itu terjadi pada siang hari ketika Dafa bersama beberapa temannya menyusuri area rawa yang selama ini dikenal sebagai tempat mencari ikan cupang liar. Aktivitas tersebut bukan hal baru bagi anak-anak di kawasan itu. Mereka kerap datang sepulang sekolah atau saat libur untuk mencari ikan hias yang kemudian dipelihara di rumah.
Menurut keterangan warga sekitar, awalnya anak-anak tersebut bermain di pinggiran rawa yang airnya relatif dangkal. Mereka bahkan sempat memperoleh beberapa ekor ikan. Namun, Dafa kemudian berjalan lebih ke tengah rawa dengan maksud mencari ikan yang terlihat bergerak di antara semak-semak air.
Untuk memastikan kedalaman air, Dafa menggunakan sebatang kayu sebagai alat ukur. Ia mencoba menusukkan kayu ke dasar rawa sambil melangkah perlahan. Tak disangka, bagian yang ia pijak ternyata cukup dalam dan berlumpur. Dalam hitungan detik, tubuh Dafa terperosok dan tenggelam.
“Teman-temannya sempat berteriak minta tolong karena korban tidak bisa berenang,” ujar Febri seorang warga yang ikut menyaksikan kepanikan anak-anak tersebut.
Warga sekitar segera berdatangan setelah mendengar teriakan. Namun kondisi rawa yang keruh dan dipenuhi tanaman air menyulitkan pencarian. Kejadian itu kemudian dilaporkan ke pihak berwenang.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, kepolisian, BPBD, serta personel Brimob Polda Bengkulu diterjunkan ke lokasi. Proses pencarian berlangsung hampir empat jam dengan menyisir area rawa menggunakan alat bantu dan penyelaman terbatas.
Sekitar pukul 16.00 WIB, tubuh Dafa akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit DKT Bengkulu untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Suasana duka menyelimuti rumah keluarga korban di Kelurahan Panorama. Kerabat, tetangga, dan teman sekolah berdatangan untuk memberikan dukungan moral kepada orang tua korban yang tampak terpukul atas kejadian tersebut.
“Dia anak yang pendiam, sering main ikan cupang. Kami tidak menyangka kejadian seperti ini bisa terjadi,” ujar salah satu tetangga keluarga.
Pihak kepolisian menyatakan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam peristiwa ini. Kejadian murni merupakan kecelakaan akibat kurangnya pemahaman akan kondisi medan rawa yang berbahaya.
Aparat dan pemerintah setempat mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak di sekitar perairan terbuka seperti rawa, sungai, dan kolam bekas galian.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa ruang bermain anak yang tidak aman dapat berubah menjadi ancaman nyata. Aktivitas sederhana seperti mencari ikan di alam bebas membutuhkan pengawasan orang dewasa agar keselamatan anak tetap terjaga.









