BENGKULUBAROMETER — Pemerintah Provinsi Bengkulu menegaskan komitmennya untuk hadir dan melindungi mahasiswa perantau yang keluarganya tengah dilanda bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Sikap itu disampaikan langsung oleh Gubernur Bengkulu, H. Helmi Hasan, SE, yang meminta seluruh perguruan tinggi di Bengkulu, baik negeri maupun swasta untuk melakukan pendataan segera dan menyeluruh.
Pendataan tersebut, kata Helmi, menjadi dasar untuk memastikan bahwa mahasiswa asal daerah terdampak bencana tetap mendapat dukungan penuh selama masa pemulihan.
“Mahasiswa yang keluarganya menjadi korban bencana tidak boleh merasa sendirian. Pemerintah Provinsi akan mengundang mereka dan memberikan bantuan yang diperlukan,” ujarnya.
Helmi menegaskan bahwa bantuan yang disiapkan bukan bersifat simbolik, melainkan menyasar kebutuhan riil para mahasiswa perantau. Bantuan itu terdiri dari biaya hidup harian, dukungan pendidikan, serta pendampingan selama situasi krisis berlangsung.
“Mahasiswa asal daerah bencana tak perlu gelisah meneruskan pendidikannya. Kita pasti pikirkan dan kita pasti bantu,” tegasnya.
Selain memberi perlindungan kepada mahasiswa di Bengkulu, Pemprov Bengkulu juga mengirimkan dukungan kemanusiaan ke wilayah terdampak bencana. Gubernur Helmi memastikan bahwa Bengkulu tidak tinggal diam melihat kesulitan yang dialami provinsi tetangga. Dalam waktu dekat, pemerintah akan mengirim:
Pengiriman bantuan sembako dan obat-obatan, sebagai respons cepat atas kebutuhan yang meningkat di berbagai wilayah terdampak.
Menurut Helmi, tiga kategori bantuan ini dirancang untuk memastikan penanganan bencana berlangsung simultan, baik di lokasi kejadian maupun pada masyarakat yang sedang merantau. “Perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada mereka yang berada di daerah bencana, tetapi juga pada mahasiswa yang kini sedang menuntut ilmu di Bengkulu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa perantau merupakan bagian dari keluarga besar masyarakat Bengkulu. Karena itu, situasi darurat yang menimpa orang tua atau sanak saudara mereka harus menjadi perhatian bersama.
“Kita harus pikirkan juga mahasiswa yang merantau ke Bengkulu. Mereka butuh kepastian agar pendidikannya tidak terganggu,” katanya.
Instruksi gubernur kepada seluruh perguruan tinggi di Bengkulu bertujuan mempercepat penyusunan basis data mahasiswa asal Sumbar, Sumut, dan Aceh. Helmi menilai, tanpa pendataan yang akurat, proses distribusi bantuan rentan terhambat dan tidak tepat sasaran. Ia meminta rektor, direktur, hingga pengelola kampus untuk turun langsung memastikan data tersebut lengkap dan valid.
“Data mahasiswa ini bukan hanya angka. Di baliknya ada cerita, ada keluarga yang sedang berjuang di tengah bencana. Pemerintah harus memastikan bahwa anak-anak mereka yang sedang belajar di Bengkulu tetap merasa aman,” ujar Helmi.
Helmi juga menegaskan bahwa bantuan pemerintah bukan hanya respons sesaat. Pemprov Bengkulu akan mengawal proses pemulihan baik bagi korban di daerah bencana maupun bagi mahasiswa yang terdampak secara tidak langsung. Program pendukung akan dilanjutkan sesuai kondisi lapangan dan laporan perguruan tinggi.
Dengan langkah ini, Bengkulu ingin menunjukkan bahwa solidaritas antarprovinsi bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan secara konkret melalui tindakan nyata—mulai dari pengiriman ambulans hingga dukungan pendidikan bagi mahasiswa rantau.
“Musibat bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling menguatkan,” tutup Helmi.









