BENGKULUBAROMETER – Para pekerja dan buruh di Bengkulu kini memiliki wadah bersama untuk memperjuangkan kesejahteraan dan hak-hak mereka. Aliansi Serikat Pekerja/Serikat Buruh Bengkulu resmi dikukuhkan di Hotel Latanza, Kota Bengkulu, Rabu (19/8/2026).
Pengukuhan tersebut menjadi langkah awal konsolidasi sejumlah organisasi pekerja dan serikat buruh di Bengkulu. Di dalamnya juga bergabung pekerja yang selama ini terlibat dalam pengelolaan lahan parkir di Kota Bengkulu.
Ketua Aliansi Serikat Pekerja/Serikat Buruh Bengkulu, Rendra Ginting, mengatakan pembentukan aliansi bertujuan menyatukan kekuatan pekerja dalam memperjuangkan kesejahteraan sekaligus pemenuhan hak-hak buruh.
Menurut Rendra, jumlah buruh di Kota Bengkulu telah mencapai ribuan orang. Besarnya jumlah pekerja tersebut dinilai membutuhkan wadah bersama agar berbagai persoalan ketenagakerjaan dapat diperjuangkan secara lebih terorganisasi.
“Aliansi Serikat Pekerja, Buruh Bengkulu merupakan aliansi yang besar. Jumlah buruh di Kota Bengkulu saat ini sudah mencapai ribuan,” ujar Rendra.
Salah satu agenda yang akan menjadi perhatian aliansi adalah persoalan penghasilan pekerja. Rendra menegaskan peningkatan pendapatan dan perlindungan terhadap hak pekerja akan menjadi bagian penting dari perjuangan organisasi tersebut.
Persoalan upah bongkar muat barang menjadi salah satu yang disoroti. Aliansi menyebut pekerja saat ini menerima bayaran sekitar Rp200 hingga Rp250 untuk pekerjaan bongkar barang.
Besaran tersebut dinilai perlu dibicarakan kembali dengan pihak terkait. Aliansi akan memperjuangkan agar upah bongkar muat dapat meningkat hingga kisaran Rp700, Rp800, bahkan Rp1.000.
Namun, besaran kenaikan tersebut nantinya tetap akan dibahas bersama pemerintah dan pengusaha sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan para pihak.
Rendra mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker). Pembicaraan juga akan melibatkan kalangan pengusaha.
“Dalam waktu dekat ini kami akan melakukan koordinasi dengan Disnaker dan para pengusaha untuk menentukan tingkat upah,” tegasnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka ruang pembicaraan antara pekerja, pemerintah, dan pengusaha mengenai besaran upah yang dinilai layak.
Ade, yang turut mendampingi Ketua Aliansi Serikat Pekerja/Serikat Buruh Bengkulu, mengatakan pembahasan peningkatan upah bongkar muat akan ditempuh melalui mekanisme tripartit.
Melalui mekanisme itu, unsur pekerja, pemerintah, dan pengusaha akan duduk bersama membicarakan persoalan upah. Besaran yang nantinya ditetapkan diharapkan dapat mempertimbangkan kepentingan pekerja sekaligus kesepakatan seluruh pihak.
“Dari harga awal bongkar muat barang Rp200, bisa diupayakan menjadi Rp700, Rp800 atau Rp1.000, sesuai dengan kesepakatan,” kata Ade.
Pengukuhan Aliansi Serikat Pekerja/Serikat Buruh Bengkulu tidak hanya menjadi seremoni pembentukan organisasi. Aliansi diharapkan menjadi tempat bagi pekerja untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Dengan jumlah buruh yang mencapai ribuan orang, aliansi ingin membangun komunikasi yang lebih kuat antara pekerja dengan pemerintah maupun pengusaha.
Perjuangan peningkatan upah bongkar muat menjadi salah satu langkah awal. Ke depan, perlindungan hak pekerja dan peningkatan kesejahteraan akan menjadi bagian dari agenda yang diperjuangkan bersama.
Para pekerja berharap keberadaan aliansi dapat memperkuat posisi mereka dalam memperjuangkan hak secara terorganisasi melalui dialog dan mekanisme ketenagakerjaan yang berlaku.
Penulis : Handi Pratama
Editor : Windi Junius









