BENGKULUBAROMETER – Setelah bertahun-tahun menghadapi persoalan alur dangkal yang menghambat mobilitas logistik, Pelabuhan Pulau Baai akhirnya menunjukkan perubahan signifikan. Normalisasi alur pelayaran mencapai titik 6,5 meter Low Water Spring (LWS) yang selama ini menjadi tuntutan dunia usaha, operator kapal, dan pemangku kepentingan maritim. Keberhasilan ini mendapat apresiasi langsung dari Anggota DPRD Kota Bengkulu.
Langkah legal yang memperkuat capaian tersebut hadir melalui terbitnya SK KSOP Kelas III Pulau Baai Nomor SK-KSOP.BKS 36 Tahun 2025 tentang Tata Cara Berlalu Lintas dan Olah Gerak Kapal di Alur Pelayaran Pelabuhan Pulau Baai. Aturan baru ini menandai babak baru penataan keselamatan maritim di Bengkulu.
Anggota DPRD Kota Bengkulu, *Edi Hariyanto, S.P., M.M*, menyebut terbitnya SK ini sebagai tonggak penting. Menurutnya, aturan itu tak sekadar dokumen teknis, tapi simbol keberhasilan memperjuangkan keselamatan pelayaran di Bengkulu.
“Ini bukan hanya aturan teknis, ini kemenangan bersama. Bertahun-tahun kita memperjuangkan pengerukan alur yang dangkal dan membahayakan kapal. Sekarang alur sudah dikeruk sampai -6,5 meter dan SK tata kelola alur telah diterbitkan. Ini bukti perjuangan tidak sia-sia,” tegas Edi.
Edi menjelaskan bahwa keputusan KSOP sangat vital karena mencakup berbagai aspek penting. Menjamin keselamatan pelayaran, menjaga hasil pengerukan agar tidak cepat dangkal Kembali, menertibkan pergerakan tongkang, kapal logistik, kapal kontainer, hingga kapal Enggano, mengatur kewajiban pemanduan, batasan ukuran kapal, serta arah alur pelayaran
“Dengan aturan ini, kapal tidak bisa lagi sembarangan masuk. Semua harus patuh. Ini demi keselamatan dan untuk menjaga alur yang sudah dikeruk jangan rusak karena manuver kapal yang tidak teratur,” ujarnya.
Sebelumnya kepala KSOP Kelas III Bengkulu, Petrus Christanto Maturbongs, menilai penyelesaian normalisasi tahap dua ini merupakan contoh nyata keberhasilan kerja keras dari Pelindo sebagi pelaksana.
“Kami dari pemerintah, sebagai perwakilan Dirjen Laut, melihat capaian ini sebagai prestasi luar biasa. Dikerjakan sungguh-sungguh, selesai sebelum tenggat, dan berdampak langsung pada arus pelayaran,” ujarnya.
Namun, Petrus menegaskan bahwa pekerjaan belum selesai. Tahap ketiga akan menjadi pekerjaan terbesar karena menargetkan kedalaman mencapai 12 meter LWS. Jika berhasil, pelabuhan akan mampu menerima kapal berkapasitas lebih besar, membuka peluang logistik dan ekspor baru bagi Bengkulu. Target penyelesaian ditetapkan pada 31 Juli 2026, meski pihak Pelindo optimistis bisa lebih cepat.
Disisi lain General Manager Pelindo Regional 2 Bengkulu, Dimas Rizky Kusmayadi, menggambarkan bahwa pengerukan hingga kedalaman 6,5 meter LWS bukan pekerjaan ringan. Cuaca ekstrem, perairan yang sangat dangkal, dan dinamika teknis lapangan berkali-kali membuat pengerjaan terhambat.
Meski demikian, kolaborasi intens antara Pelindo, KSOP, Ditjen Hubla, dan pemerintah daerah membuat semua kendala bisa dilalui.
“Kami datang ke Bengkulu 1 Oktober, dan sejak itu rapat-rapat dengan Pak KSOP bukan lagi hitungan jam, tapi sampai menjelang azan Subuh. Artinya, dengan semangat kolaborasi, interest tahap dua ini bisa diselesaikan,” ujar Dimas.
Dimas juga memaparkan bahwa proyek ini tidak hanya soal mengeruk alur. Pelindo menyiapkan paket revitalisasi besar untuk Pelabuhan Pulau Baai, meliputi, Pendalaman kolam Pelabuhan, Perbaikan terminal curah kering dan curah basah, eningkatan infrastruktur jalan dan fasilitas pendukung operasional kapal.









