BENGKULUBAROMETER – Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI Partai Golkar Kota Bengkulu resmi menetapkan Mardensi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kota Bengkulu. Penetapan ini dilakukan secara aklamasi dalam forum Musda yang digelar pada Sabtu, 25 April 2026.
Mardensi menjadi satu-satunya kandidat yang mendaftar dalam penjaringan calon ketua. Dengan kondisi tersebut, seluruh pemilik hak suara sepakat menetapkannya tanpa melalui proses pemungutan suara. Total terdapat 15 pemilik suara yang terlibat, terdiri dari 9 Pimpinan Kecamatan (PK), perwakilan provinsi, utusan DPD Kota Bengkulu, Dewan Pertimbangan, organisasi sayap, serta organisasi yang didirikan dan mendirikan Partai Golkar.
Terpilihnya Mardensi bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ia langsung dibebani target besar, yakni mengembalikan kursi unsur pimpinan DPRD Kota Bengkulu yang telah lepas selama dua periode terakhir. Target ini menjadi fokus utama Golkar Kota Bengkulu dalam menghadapi Pemilu legislatif mendatang.
Ketua Harian DPD Partai Golkar Provinsi Bengkulu, Tomy Eddyson, yang membuka langsung Musda tersebut, menegaskan pentingnya soliditas kader setelah dinamika yang terjadi menjelang pelaksanaan Musda.
“Dinamika dalam organisasi itu hal yang biasa. Tapi jangan sampai merusak rumah besar kita, Partai Golkar. Sekarang saatnya kita kembali solid,” ujar Tomy.
Ia bahkan menilai gejolak yang sempat terjadi merupakan tanda adanya energi besar di internal partai. Menurutnya, energi tersebut harus diarahkan menjadi kekuatan untuk memenangkan kontestasi politik ke depan, khususnya Pemilu 2029.
Lebih lanjut, Tomy memberikan penegasan langsung kepada Mardensi terkait tugas utama yang harus segera dijalankan.
“Tugas utama Ibu Mardensi adalah mengembalikan kursi unsur pimpinan di DPRD Kota Bengkulu. Itu harus menjadi fokus ke depan,” tegasnya.
Meski Musda berjalan lancar dan kondusif, dinamika internal partai sebelumnya masih menyisakan polemik. Diketahui, kepengurusan sebelumnya telah mengajukan gugatan ke Mahkamah Partai Golkar terkait penunjukan kepengurusan baru.
Menanggapi hal tersebut, Tomy menegaskan bahwa langkah gugatan merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang sah dan harus dihormati. Pihaknya, kata dia, siap menghadapi proses tersebut sesuai dengan aturan partai.
“Kalau ada yang tidak puas dan mengajukan gugatan ke Mahkamah Partai, itu mekanisme yang benar. Kami siap memberikan penjelasan sesuai prosedur,” katanya.
Ia juga mengingatkan seluruh kader untuk tidak terpancing isu yang berkembang di luar, serta tetap fokus pada kerja-kerja politik ke depan. Setiap persoalan, menurutnya, akan diselesaikan melalui jalur resmi partai, termasuk melalui Mahkamah Partai dan Dewan Etik.
“Kita tidak perlu merespons berlebihan. Semua akan kita pelajari. Kalau ada pelanggaran, tentu ada mekanismenya. Kita punya Mahkamah Partai dan Dewan Etik,” tambahnya.
Dengan terpilihnya Mardensi secara aklamasi, diharapkan kepemimpinan baru mampu merangkul seluruh kader dan meredam konflik internal yang sempat muncul. Konsolidasi organisasi dan penguatan struktur partai menjadi langkah penting untuk menghadapi agenda politik ke depan.
Golkar Kota Bengkulu kini dihadapkan pada tantangan besar: bangkit dari keterpurukan politik selama dua periode terakhir dan kembali merebut posisi strategis di DPRD Kota Bengkulu. Keberhasilan Mardensi akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga soliditas internal sekaligus membangun kepercayaan publik.









