BENGKULUBAROMETER — Krisis habitat di Bentang Alam Seblat, Bengkulu, semakin mengancam keberlangsungan hidup gajah Sumatera. Perambahan hutan yang terus meluas membuat ruang jelajah dan sumber pakan alami satwa dilindungi tersebut semakin menyempit.
Di tengah tekanan itu, kondisi memprihatinkan ditemukan di lapangan. Gajah liar di Bentang Alam Seblat diketahui mengonsumsi sampah yang berada di sekitar wilayah jelajahnya. Material plastik hingga pakaian bekas ditemukan dalam kotoran gajah.
Temuan tersebut menjadi tanda serius bahwa gajah semakin terdesak akibat hilangnya habitat. Ketika sumber pakan alami berkurang dan wilayah jelajah terfragmentasi, gajah terdorong mendekati perkebunan maupun permukiman yang memiliki potensi paparan sampah.
Konsumsi plastik dan pakaian secara terus-menerus dapat membahayakan sistem pencernaan gajah dan berisiko menyebabkan kematian. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa kerusakan habitat tidak hanya menghilangkan tutupan hutan, tetapi juga mengancam keselamatan satwa secara langsung.
Data Koalisi Bentang Alam Seblat mencatat sekitar 30.017 hektare habitat gajah telah dirambah dari total 112.504 hektare. Sebagian kawasan yang dikuasai kemudian berubah menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal.
Ketua Kanopi Hijau Indonesia yang juga anggota Koalisi Bentang Alam Seblat, Ali, mengatakan pemerintah sebenarnya telah mengetahui persoalan tersebut. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya telah melihat langsung kondisi perambahan di Bentang Seblat.
“Menhut itu sudah datang, gubernur sudah buat pernyataan menunjukkan bahwa Bentang Alam Seblat adalah kawasan penting sebagai habitat gajah dan satwa kharismatik lainnya. Atas pernyataan itu seharusnya pemerintah merumuskan strategi dan taktik guna mengamankan Bentang Seblat,” kata Ali, Senin (24/8/2026).
Namun, ia menyebut aktivitas pembukaan dan penguasaan lahan masih terus berlangsung. Bahkan, informasi mengenai pertemuan antara perambah dan staf ahli Menteri Kehutanan pada Agustus 2026 memunculkan kekhawatiran baru terkait pembahasan usulan perhutanan sosial di kawasan yang menjadi habitat gajah.
Ali menilai pemerintah perlu membedah aktor di balik penguasaan lahan secara lebih serius. Menurutnya, penyelamatan Bentang Seblat tidak cukup hanya dengan menyelesaikan persoalan masyarakat yang membutuhkan lahan.
“Pengamanan Bentang Seblat dari aktivitas pengrusakan semestinya fokus pada biang masalahnya, yaitu para cukong yang bermain-main atas keselamatan Bentang Seblat,” ujarnya.
Direktur Genesis Bengkulu, Egi Ade Saputra, juga menyoroti pertemuan Staf Ahli Kementerian Kehutanan dengan Kelompok Tani Hutan di Sungai Rumbai, Mukomuko, pada 15 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut dikaitkan dengan pembahasan usulan perhutanan sosial bagi masyarakat yang menggarap kawasan Bentang Alam Seblat maupun konsesi PT Bentara Agra Timber dan PT Anugerah Pratama Inspirasi.
Egi mengatakan kebutuhan masyarakat terhadap kepastian ruang hidup memang harus mendapatkan penyelesaian yang adil. Namun, persoalan tersebut harus dibedakan dengan penguasaan lahan dalam skala besar yang berkembang menjadi perkebunan komoditas.
“Persoalannya bukan pada apakah masyarakat berhak memperoleh penyelesaian atas persoalan tenurial, tapi tentu masyarakat yang benar-benar bergantung pada lahan untuk kehidupan tentu membutuhkan solusi yang adil,” katanya.
Ia menilai skala penguasaan lahan juga harus menjadi perhatian. Tutupan sawit yang mencapai lebih dari 12 ribu hektare, menurut Egi, menunjukkan adanya persoalan yang tidak bisa semata-mata dilihat sebagai kebutuhan petani terhadap tanah.
“Jika seluruh persoalan disederhanakan menjadi ‘petani membutuhkan tanah’, maka terdapat risiko bahwa struktur penguasaan lahan yang lebih besar justru tidak pernah diperiksa,” ujarnya.
Bentang Alam Seblat sebelumnya telah menjadi perhatian pemerintah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni datang langsung ke kawasan tersebut pada 14 Desember 2025 dan menyatakan komitmennya untuk menyelamatkan Bentang Seblat sebagai habitat penting gajah Sumatera dan satwa kharismatik lainnya.
Komitmen pelestarian juga disampaikan dalam pertemuan Koalisi Bentang Seblat dengan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan pada Juni 2026. Pertemuan itu menyepakati pentingnya mempertahankan habitat kunci gajah Sumatera yang tersisa.
Namun, ketika gajah liar mulai memakan plastik dan pakaian untuk bertahan hidup, ancaman terhadap Bentang Seblat menunjukkan persoalan yang semakin mendesak. Tanpa langkah nyata menghentikan perambahan dan memulihkan habitat, gajah-gajah yang tersisa bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan sumber makanan yang aman.









