STuEB Kritik Sistem Kelistrikan Terpusat, Blackout Sumatera Dinilai Bukti Lemahnya Energi Fosil

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 19:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

STuEB mengkritik sistem kelistrikan terpusat usai blackout Sumatera 2026. Mereka mendorong pemerintah beralih ke energi bersih dan menghentikan ketergantungan pada batu bara.

STuEB mengkritik sistem kelistrikan terpusat usai blackout Sumatera 2026. Mereka mendorong pemerintah beralih ke energi bersih dan menghentikan ketergantungan pada batu bara.

NARASIDEMOKRASI – Koalisi Sumatera Terang untuk Energi Bersih (STuEB) melontarkan kritik keras terhadap sistem kelistrikan nasional usai terjadinya blackout massal di Pulau Sumatera. Mereka menilai pemadaman listrik besar yang terjadi pada 22 Mei 2026 menjadi bukti lemahnya sistem energi terpusat yang selama ini bergantung pada energi fosil.

Menurut STuEB, sistem kelistrikan yang hanya bertumpu pada jaringan transmisi utama membuat seluruh wilayah rentan lumpuh ketika terjadi gangguan di satu titik. Dalam kasus blackout terbaru, gangguan transmisi 275 kV di wilayah Jambi menyebabkan sebagian besar wilayah Sumatera mengalami pemadaman total.

Kondisi tersebut dianggap sebagai bukti bahwa sistem energi nasional saat ini tidak memiliki ketahanan yang kuat. Padahal, sejumlah provinsi di Sumatera sebenarnya mengalami surplus daya listrik cukup besar.

Bengkulu sendiri disebut memiliki surplus listrik hingga 120 persen. Sumatera Selatan surplus 104 persen, Sumatera Utara 60 persen, Aceh 44 persen dan Sumatera Barat 40 persen. Namun, karena sistemnya terpusat, gangguan di satu wilayah tetap bisa memicu blackout massal.

Baca Juga :  Ditinggal di Bawah Jembatan, Bayi Perempuan Ini Bertahan Hidup. Polisi Amankan Diduga Orangtua Bayi.

Anggota STuEB dari Apel Green Aceh, Syukur Tadu, mengatakan blackout ini menjadi pengingat bahwa daerah kaya sumber daya alam masih belum mandiri dalam penyediaan energi.

Menurutnya, masyarakat terus menjadi korban dari sistem energi besar yang tidak stabil. Karena itu, ia mendorong percepatan penggunaan energi terbarukan berbasis masyarakat.

“Momentum ini harus menjadi titik balik untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas,” kata Syukur.

Ia menilai Sumatera memiliki potensi energi bersih yang sangat besar. Mulai dari tenaga surya, mikrohidro, panas bumi hingga energi angin. Namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.

Konsolidator STuEB dari Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, bahkan menyebut sistem listrik terpusat sengaja dipertahankan karena berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik.

Baca Juga :  Resmi Dilantik, 186 CPNS Bengkulu Kini Sandang Status PNS, Dituntut Langsung Bekerja Nyata

Menurutnya, blackout yang terus berulang seharusnya menjadi momentum untuk mendorong demokratisasi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Selain itu sistem ini juga menjadi peluang bagi beberapa kelompok pemodal untuk tetap mendirikan pembangkit listrik baru, padahal Sumatera sudah kelebihan daya,” ujar Ali.

STuEB juga menyoroti dampak buruk industri batu bara terhadap lingkungan hidup masyarakat di Sumatera. Aktivitas pertambangan dinilai telah menyebabkan kerusakan sungai, pencemaran udara hingga menurunnya hasil pertanian masyarakat di sekitar tambang.

Aktivis Yayasan Anak Padi Lahat, Syahwan, menilai masyarakat selama ini menjadi korban dari eksploitasi energi kotor batu bara.

Ia bahkan mendesak pemerintah menghentikan operasional tambang batu bara dan mulai beralih ke energi bersih yang lebih aman dan berkelanjutan.

Koalisi STuEB menilai pemerintah harus segera membangun sistem energi desentralisasi berbasis wilayah agar gangguan di satu daerah tidak melumpuhkan seluruh Sumatera.

Berita Terkait

Berkas Perkara Investasi Bodong Yeyen Alias Cek Oboy Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan
Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat
Pelindo Bengkulu Catat Pertumbuhan Arus Barang 35,6 Persen, Perkuat Peran Pelabuhan sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
HIPKA Bengkulu Dorong Lahirnya Pengusaha Muda, Perkuat Kolaborasi Untuk Kemajuan Bengkulu 
Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah. HIPKA Gelar Forum Bisnis dan Pelantikan Pengurus Baru
Humas Polri Dorong Transparansi Informasi, Polda Bengkulu Perkuat Kepercayaan Publik di Era Digital
Bengkulu Kejar Lonjakan Produksi Beras, 8.214 Hektar Sawah Masuk Program Pertanian Modern
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:18 WIB

Berkas Perkara Investasi Bodong Yeyen Alias Cek Oboy Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Hujan Lebat Rendam Permukiman dan SDN 32 Kota Bengkulu, Warga Keluhkan Drainase Tersumbat

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:36 WIB

Pelindo Bengkulu Catat Pertumbuhan Arus Barang 35,6 Persen, Perkuat Peran Pelabuhan sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 18:59 WIB

HIPKA Bengkulu Dorong Lahirnya Pengusaha Muda, Perkuat Kolaborasi Untuk Kemajuan Bengkulu 

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:56 WIB

Majalah Barometer Resmi Terbit, Hadirkan Semangat Baru Jurnalisme Berkualitas

Berita Terbaru