BENGKULUBAROMETER – Taman Wisata Mangrove Bhadrika pada, Sabtu 29 November 2025 tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Terlihat puluhan pengemudi transportasi online berkumpul. Mereka bukan sedang menunggu orderan atau berbaris untuk menerima penumpang. Hari itu, mereka merayakan sesuatu yang jauh lebih besar: ulang tahun ke-2 Transportasi Mobil Online (TMO), sebuah komunitas yang kini tumbuh menjadi wadah perjuangan driver mobil online di Bengkulu.
Namun selebrasi itu bukan sekadar seremonial. Di balik kekompakan dan gelak tawa, ada suara aspirasi yang ingin mereka titipkan kepada pemerintah. Suara yang mewakili denyut nadi para driver yang tiap hari menggantungkan pendapatan pada rute jalanan Kota Bengkulu.
Ketua Umum TMO, Andi Hartono, berdiri tegak di depan anggota dan tamu undangan, termasuk salah seorang anggota DPRD Kota Bengkulu yang hadir yakni Edi harianto. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan harapan besar agar pemerintah mulai memberi perhatian lebih serius kepada para driver online.
“Kami berharap pemerintah mendengar suara kami. Banyak kawan-kawan driver yang menyambung hidup dari jalanan kota ini. Kami butuh perlindungan, kepastian, dan kebijakan yang adil,” ujar Andi dengan tegas.
Isu pertama yang disuarakan adalah penghapusan diskon pada platform angkutan online. Menurut Andi, keberadaan diskon yang besar justru lebih banyak menguntungkan perusahaan aplikasi, bukan driver.
“Diskon itu bukan meringankan beban konsumen, tapi memotong pendapatan driver. Kami berharap pemerintah mau mendorong penyelesaian masalah ini,” katanya.
Selain itu, TMO menyoroti masalah klasik yang tidak kunjung selesai seperti kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Di Bengkulu, antrean panjang di SPBU masih menjadi pemandangan akrab, terutama pada jam-jam tertentu. Kondisi ini, kata Andi, sangat berdampak pada pendapatan driver.
“Kami berharap Pemerintah Provinsi Bengkulu memastikan ketersediaan BBM stabil sepanjang tahun. Driver online tidak bisa bekerja kalau bensin langka. Orderan hilang, waktu terbuang, pendapatan turun,” jelasnya.
Suara ketiga yang tak kalah penting, adalah kondisi jalan di Bengkulu. Meski berada di ibu kota provinsi, sejumlah ruas jalan masih berlubang, retak, atau tidak punya drainase memadai. Hal ini dianggap rawan kecelakaan, merusak kendaraan, sekaligus memperlambat mobilitas.
“Kami setiap hari memakai jalan sebagai tempat kerja. Maka wajar jika kami berharap jalan-jalan kota ini benar-benar dirawat pemerintah,” kata Andi.
TMO sendiri kini telah memiliki 90 anggota, dengan 70 driver aktif yang beroperasi di Kota Bengkulu. Sisanya bekerja sebagai driver di kota-kota besar seperti Jakarta, Palembang, Lampung, dan Surabaya. Anggota yang merantau itu sering kembali ke Bengkulu dan tetap merasa menjadi bagian dari TMO.
“Walaupun narik di luar daerah, mereka tetap pulang dan ikut kegiatan komunitas. Inilah yang membuat TMO berbeda, kami bukan sekadar grup online, tapi keluarga,” ucap Andi.
Komunitas ini lahir pada 29 November 2023, dari keresahan para driver yang ingin memiliki ruang komunikasi, perlindungan, serta wadah untuk menyampaikan aspirasi. Dua tahun berjalan, TMO kini semakin solid, bahkan mulai dipercaya sebagai perwakilan suara driver online di Bengkulu.









